Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Opini

Natal dan Keluarga Imran

Moh Rosyid *)

AL-QURAN surat Ali Imran mendokumenkan peran Imran bin Matan bin al-Azar bin al-Yud bin Sulaiman bin Dawud. Imran menikah dengan Hannah binti Faquda bin Qubaila. Perkawinan Imran dengan Hannah lahirlah Asy-ya (dinikah Nabi Zakaria) dan Maryam.

Keturunan Imran (‘ali Imran) berkiprah sebagai nabi pada eranya. Awalnya, pada masa manopause, Hannah memohon pada Allah SWT agar dikaruniai anak lagi (setelah lahirnya Asy-ya). Tatkala hamil kedua, Hannah bernazar/berjanji pada Tuhan (tatkala sang bayi dalam kandungan) akan mengabdikan anaknya nanti di Baitul Maqdis.

Lahirlah bayi berjenis kelamin perempuan diberi nama Maryam. Hanya saja, pada era itu, perempuan tidak lazim berperan dalam hal keagamaan di masyarakatnya. Tapi, Maryam mampu berkiprah untuk agama Tuhan mewujudkan kesetaraan gender (peran yang sama lelaki dengan perempuan) dalam pengabdian pada agama Tuhan.

Peran Maryam atas bimbingan Nabi Zakaria (kakak ipar Maryam) dengan dibuatkan mihrab (tempat khusus bagi Maryam untuk berkiprah di Baitul Maqdis). Tekunnya mengabdi pada Tuhan, Maryam sang gadis, tanpa disentuh lelaki, dianugerahi Tuhan mengandung anak selama 9 bulan dan lahir bayi lelaki diberi nama Isa/Yesus.

Lahirnya sang Isa/Natal (pada masa dewasanya menjadi nabi) sebagai berita besar karena dilahirkan oleh gadis suci, pengabdi Tuhan maka menjadi momentum bagi orang yang tidak suka pada Maryam dengan menyeruakkan hoaks. Bagi yang tidak beriman makin mencerca Maryam, tapi bagi yang beriman berpegang teguh bahwa apa yang terjadi di dunia ini, semua atas kehendak Tuhan meski ada yang melalui tahap irrasional (hamil tanpa disentuh lelaki).

Natalnya Isa

Di tengah cercaan umat diderita Maryam yang melahirkan, sang bayi Isa menjawab ”Sungguh aku hamba Allah, Allah memberiku al-Kitab (Injil) dan aku oleh Allah diutus sebagai nabi. Isa berdoa, kesejahteraan semoga dilimpahkan Tuhan padaku (nabi-Nya) pada hari aku dilahirkan (Natal), pada hari aku meninggal dunia, dan pada hari aku dibangkitkan dari kematian untuk hidup lagi. Sesungguhnya Allah SWT mengutusku (menjadi nabi) dengan membawa bukti nyata dan petunjuk-Nya”.

Hanya saja, umat yang membenci Isa karena anugerah yang diterimanya dengan mukjizat, seperti menyembuhkan orang yang buta dan menghidupkan orang yang mati, semua atas izin Allah SWT. Hikmah Natalnya Isa bahwa orang yang taat pada Tuhan akan menerima anugerah, di tengah anugerah, muncul cobaan, keberhasilan menyikapi cobaan tumbuh kesuksesan. (*)

 

*) Dosen IAIN Kudus

Ruangan komen telah ditutup.