Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Opini

Grobogan dan Bahasa Indonesia

Putri Nur Sinta Dewi *)

BAHASA Indonesia adalah bahasa resmi dan bahasa nasional yang digunakan di   Indonesia. Sebagai bahasa persatuan, seharusnya bahasa Indonesia ini dikuasai oleh seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.

Bahasa Indonesia yang digaungkan sebagai satu-satunya bahasa yang harus dijunjung tinggi keberadaannya. Namun pada kenyataannya bahasa Indonesia belum dikuasai oleh seluruh lapisan masyarakat.

Secara konseptual sikap berbahasa adalah cara atau perilaku seseorang dalam menilai, menelaah, dan mengaktualisasikan cara berbahasa itu sendiri. Dalam bahasa Indonesia, konsep bahasa harus baik dan benar.

Mungkin banyak orang yang masih bingung menganai apa perbedaannya. Sebagian orang menganggap bahwa definisi berbahasa Indonesia yang baik dan benar itu sama. Akan tetapi, kedua hal ini sangat berbeda.

Bahasa Indonesia dikatakan baik apabila penggunaan bahasa Indonesia tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi serta lawan bicara. Pendefinisian ini berarti seseorang harus menyesuaikan dengan keadaan yang terjadi.

Dalam berbicara seseorang juga harus mengerti siapa lawan bicaranya, sehingga dapat menyesuaikan bahasanya. Seperti itulah maksud dari konsep berbahasa Indonesia yang baik.

Sedangkan sikap berbahasa yang benar adalah penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah bahasa baku, baik kaidah untuk bahasa baku tertulis maupun bahasa baku lisan. Penggunaan bahasa Indonesia yang benar ini secara bahasa baku bisa menggunakan panduan dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Sedangkan kaidah tertulisnya harus menggunakan pedoman EYD (Ejaan yang Disempurnakan).

Dari ulasan mengenai bahasa Indonesia di atas. Kita telah mengetahui pentingnya berbahasa Indonesia yang baik dan banar. Dari paradigma dunia pendidikan mungkin berbahsa yang baik dan benar ini sudah terrealisasikan.

Namun apakah kita sadar bahwa masih banyak masyarakat-masyarakat di Indonesia yang belum bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: masyarakat pedalaman, masyarakat terpencil, faktor usia yang sudah tua, rendahnya tingkat pendidikan, lebih memilih menggunakan bahasa daerah, dan lain sebagainya. Maka dari itu perlu adanya pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia.

Mendengar kata pembinaan dan pengembangan bahasa mungkin sudah sering di dengar oleh kita yang berkecimpung di bidang ini. Bahkan secara sekilas orang awam pun juga mengerti mengenai pembinaan dan pengembangan bahasa. Namun, topik tersebut akan berbeda dan dianggap asing masyarakat yang tidak mengerti mengenai hal ini.

Seperti halnya masyarakat di daerah terpencil yang rendah pemahamannnya mengenai pembinaan dan pengembangan bahasa. Di daerah terpencil banyak masyarakat yang belum memahami betul tentang bahasa Indonesia, bahkan banyak orang yang sudah tua tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Fakta Penggunaan Bahasa Indonesia  di Grobogan

Bahasa Indonesia adalah bahasa sangat dekat dan penting bagi kita semua. Namun faktanya banyak masyarakat yang belum bisa berbahasa Indonesia, terutama di daerah terpencil. Salah satunya adalah rendahnya penggunaan bahasa Indonesia di daerah terpencil Kabupaten Grobogan.

Salah satu hal yang menujukkan bahwa rendahnya pemahaman bahasa Indonesia adalah wawancara saya terhadap salah satu warga Dusun Gesing, Desa Ngrandu, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan.

Kakek Nyamin, atau yang mempunyai nama lengkap Sasmo Nyamin. Kakek yang memiliki lima orang anak. Kakek Nyamin berusia sekitar 75 tahun ini mengaku tidak terlalu paham tentang bahasa Indonesia. Kakek ini lebih memilih menggunakan bahasa Jawa.

Ia mengaku lebih suka menggunakan bahasa Jawa dibandingkan harus pusing menggunakan bahasa Indonesia. Mbah Nyamin yang kegiatan sampingan sebagai pengrajin keranjang dari bambu itu kesusahan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan saya.

Dia mengatakan “Kwe ngomong apa, aku ga mudeng nek ngomong nganggo basa Indonesia nduk. Nganggo basa Jawa ae” ujar mbah Nyamin. Jika diartikan kedalam bahasa Indonesia ”kamu bicara apa, saya tidak mengerti jika menggunakan bahasa Indonesia. Menggunakan bahasa jawa saja.”

Faktanya hal tersebut tidak hanya dialami oleh Mbah Nyamin, namun banyak masyarakat Desa Ngrandu yang belum paham mengenai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kebanyakan masyarakat yang tidak mengerti bahasa indonesia ini karena usianya yang sudah tua dan sejak kecil tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia.

Banyak juga orang-orang seumuran Mbah Nyamin yang semasa kecilnya tidak mengenyam pendidikan. Karena pada zaman dahulu hanya orang-orang dari golongan tertentu yang dapat bersekolah, berbeda dengan zaman sekarang yang setiap orang wajib sekolah. Mungkin tidak hanya Desa Ngrandu Kecamatan Geyer Kabupaten Grobogan yang sebagian masyarakatnya tidak paham dengan bahasa Indonesia. Namun ada banyak daerah terpencil di Indonesia yang belum paham menganai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dari wawancara tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa daerah masih mendominasi daerah terpencil, salah satunya di daerah Grobogan ini. Masyarakat terpencil dan sudah terpaut usia yang tua tidak mengerti bahasa Indonesia. Mereka kesusahan untuk memahami bahasa Indonesia. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk merawat bahasa lokal daripada bahasa nasional

Upaya Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Dari data tersebut dapat menjadi salah satu bukti bahwa masih rendahnya pembinaan dan pengengembangan bahasa Indonesia di daerah terpencil, salah satunya kabupaten Grobogan. Dari rendahnya pemahaman bahasa Indonesia di daerah Grobogan ini, seharusnya pemerintah lebih peka untuk mengatasi. Badan yang menangani masalah pembinaan dan pengembangan bahasa harus lebih tanggap dan segera mancari solusi.

Balai Bahasa Jawa Tengah dan komponen lainnya seperti duta bahasa yang memang bertugas di bidang pembinaan dan pengembangan bahasa seharusnya tanggap mengenai hal ini.

Seperti semboyan Trigatra Bangun Bangsa (utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing) merupakan slogan yang sering digaungkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Badan yang memiliki tugas mengenai pembinaan bahasa ini seharusnya melakukan himbauan atau sosialisasi tentang penggunaan bahasa Indonesia.

Trigatra Bangun Bangsa tidak hanya dipajang sebagai semboyan saja, namun juga harus ada realisasi bukti nyata dari semboyan yang di sampaikan.

Beberapa opini yang dapat saya ajukan untuk menangani masalah ini adalah lebih menekankan bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran di sekolah. Pada dasarnya menggunakan bahasa daerah dalam proses belajar mengajar memang dibolehkan, tetapi itu hanya sebatas bahasa pengantarnya saja. Sedangkan untuk bahasa resminya tetap menggunakan bahasa Indonesia.

Dan untuk mengatasi masalah masyarakat yang tidak bisa berbahasa Indonesia di daerah terpencil perlu adanya pembinaan bahasa yang dilakukan melalui sosialisasi dan lainnya. Sehingga masyarakat daerah terpencil tau mengenai hakikat pentingnya berbahasa Indonesia.

Sosialisasi ini bertujuan untuk mendekatkan bahasa Indonesia kepada masyarakat terpencil. Memberikan pandangan bahwa bahasa Indonesia itu penting untuk di kuasai oleh seluruh masyarakat Indonesia. (*)

 

*) Mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta

Ruangan komen telah ditutup.