Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Jejak Sejarah Pendidikan di Pati Ditelisik

Jejak Sejarah Pendidikan di Pati Ditelisik
Komunitas Solidaritas Guru Merdeka (SGM) Pati saat mengunjungi SDN 1 Wedarijaksa. (Murianews/Istimewa)

Murianews, Pati – Jejak sejarah Pendidikan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah ditelisik. Kegiatan itu dilakukan Komunitas Solidaritas Guru Merdeka (SGM) Pati dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional (HGN).

Sekumpulan guru di Kabupaten Pati itu tergerak untuk membangkitkan semangat pendidikan pada momen HGN. Mereka menapak tilas bangunan yang mempunyai nilai sejarah bagi pendidikan di Kabupaten Pati.

’’Kami ingin belajar dari sejarah pendidikan di masa lalu itu. Sebagaimana nasihat Bung Karno untuk tidak melupakan sejarah,’’ ujar Ketua SGM Ari Wibowo, Jumat (25/11/2022).

Baca: Doakan Pahlawan yang Gugur di Lautan, Polresta Pati Tabur Bunga di Perairan Juwana

Di kesempatan ini, mereka mendatangi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Wedarijaksa. Sekolah itu disebut telah berdiri sejak era kolonial. Menurut mereka, SDN 1 Wedarijaksa turut menjadi saksi bisu perjalanan dunia pendidikan di Kabupaten Pati.

Sekolah yang terletak di barat pertigaan Wedarijaksa itu konon telah berdiri sejak tahun 1918 dan tetap berdiri hingga sekarang. Salah satu gedungnya bahkan tampak masih terlihat kuno.

Terlihat dari struktur bangunan hingga penggunaan gedek atau anyaman bambu untuk dindingnya. Menariknya, bangunan itu masih digunakan hingga sekarang. Meskipun dinding bagian bawah luarnya tampak telah diperkuat.

Kepala SDN 1 Wedarijaksa Sulastri mengatakan, sebenarnya tak hanya bangunan itu saja yang masih otentik. Ada juga toilet serta pendapa kecil yang merupakan bangunan lama dan dipertahankan hingga saat ini.

’’Namun yang paling jelas adalah buku induk di sekolah ini. Terlihat di buku induk itu, awalnya sekolah ini merupakan Volksschool Wedarijaksa. Sekolah di era kolonial Belanda,’’ tutur dia.

Namun di buku induk baru terlacak bukti catatan sejak tahun 1934. Pada tahun itu tercatat sudah ada 445 siswa yang bersekolah di sana. Di buku induk yang tertulis menggunakan bahasa Belanda itu tercatat nomor induk 445 diisi oleh siswa bernama Hono yang masuk sekolah pada 1 Agustus 1934.

Baca: Jelang Nataru, Polsek Tayu Pati Sita Belasan Botol Miras

Siswa itu juga dituliskan mulai bersekolah di umur 8 tahun dengan biaya sekolahnya 0,03 f (gulden Belanda, red). Selain itu di halaman lain buku induk juga dituliskan Vervolgschool dengan Residentie Jepara, Rembang serta Regentschap Pati.

’’Sekolah ini pun juga digunakan menjadi Sekolah Rakyat (SR). Pernah juga disebut sekolah kapsul. Sebenarnya dari penuturan orang-orang tua, sekolah ini berdiri sejak tahun 1918 namun untuk bukti yang sudah terlacak baru tahun 1934 tersebut,’’ kata dia.

Dulu, sekolah ini bukan hanya untuk satu desa saja. Satu kecamatan bersekolah di sana. Berdasarkan buku induk itu terdapat siswa dari berbagai desa di Kecamatan Wedarijaksa.

’’Selain buku induk kami juga masih mendapati berkas-berkas lama. Mulai dari rapor, surat keterangan pengganti ijazah hingga ijazah itu sendiri. Kami berkomitmen untuk menyimpannya dengan baik,’’ tambahnya.

Selain menelisik bangunan sekolahan, SGM juga rutin menggelar berbagai kegiatan. Seperti diskusi pendidikan maupun berbagai kegiatan lainnya. Mereka berharap bisa meningkatkan aktivitas di bidang pendidikan serta membangun stakeholder pendidikan.

 

Reporter: Umar Hanafi
Editor: Zulkifli Fahmi

Ruangan komen telah ditutup.