Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Wisata ke Dewi Mangrove Sari, Nikmati Pesona Hutan Bakau di Pesisir Brebes

Wisata ke Dewi Mangrove Sari, Nikmati Pesona Hutan Bakau di Pesisir Brebes
Wisata Dewi Mangrove Sari Brebes (jadesta.kemenparekraf.go.id)

Murianews, Kudus – Mendengar nama Brebes, kebanyaka orang mungkin akan langsung tertuju pada telur asin atau bawang merah. Ya, hal ini tidak salah karena kedua komoditas tersebut memang jadi ciri khas Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Namun, Brebes tidak hanya punya telur asin dan bawang merah saja lho. Selain itu, Brebes juga punya sejumlah destinasi wisata yang istimewa.

Salah satunya adalah wisata Dewi Mangrove Sari. Tempat ini diklaim punya keunikan tersendiri dibandingkan wisata mangrove lainnya.

Baca juga: Wisata ke Gumuk Reco Sepakung, Pacu Adrenalin sambil Menikmati Keindahan Gunung Merbabu

Melansir dari laman visitjawatengah, musibah abrasi di pesisir Brebes tahun 1990 justru kini membawa berkah bagi warga sekitar. Akibat abrasi, warga mulai menanam pohon mangrove.

Tak disangka, dari upaya tersebut justru kini hutan Mangrove di Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, Brebes ini menyimpan potensi wisata. Hingga akhirnya berkat gotong royong dan inovasi masyarakat, atraksi wisata Dewi Mangrove Sari resmi dibuka 2016 lalu.

Sebenarnya ada beberapa tempat di pesisir Pantura Jawa yang memiliki wisata mangrove. Namun, wisata di Dewi Mangrove Sari memiliki keunikan tersendiri. Pasalnya sebelum memasuki area wisata utama, pengunjung nantinya akan diajak menyusuri hamparan air payau yang mengelilingi hutan mangrove. Banyak pengunjung pun akan terkecoh, serasa tengah menyusuri tengah pantai.

Untuk menjelajahi wisata ini, pengunjung dikenakan biaya Rp 25 Ribu saja ketika weekend. Untuk weekdays pengunjung dikenakan biaya sekitar Rp 20 ribu per orang. Untuk anak-anak tersedia tiket dengan harga yang lebih terjangkau.

Untuk menuju wisata utama, pengunjung diharuskan menaiki perahu. Sebelumnya pengunjung akan melewati rute sekitar 5-10 menit untuk menuju shelter perahu.

Wisata Dewi Mangrove Sari Brebes (jadesta.kemenparekraf.go.id)

Di rute ini wisatawan juga bisa menemukan warga sekitar yang menjajakan makanan khas laut. Bahkan ada beberapa olahan makanan laut yang dijual mulai dari harga Rp 5 ribu saja.

Setelah siap dan menaiki perahu, pengunjung akan diajak menyusuri hamparan air payau yang mengeliling hutan mangrove ini. Pemandangan sekitar pun saat cocok untuk diabadikan para wisatawan. Apalagi jika menyusuri wisata ini di saat senja.

Sekitar 10 menit, pengunjung akan tiba di shelter perahu untuk menuju wisata Dewi Mangrove Sari. Selama di sini, pengunjung akan disambut dengan ikon wisata berupa Ikan Gelotak. Ikan ini termasuk salah satu hewan yang hidup di  sekitar tanaman bakau dan sering muncul ke daratan.

Memasuki area wisata pengunjung akan disambut kembali dengan banyaknya warung masyarakat lokal. Setelah melewati area tersebut pengunjung nantinya akan melewati jembatan merah muda yang menjadi salah satu satu spot foto cantik di wisata ini. Tak hanya jembatan ini, masih banyak spot foto menarik lainnya.

Memasuki area wisata ini, pengunjung juga akan disambut alunan musik angklung kesenian warga lokal. Irama musik ini pun membuat pengunjung berlama-lama menikmati keindahan alam sekitar. Jika ingin lebih mengeksplor lebih luas lagi, pengunjung juga bisa menaiki gardu pandang yang ada di sini.

Dengan ketinggian sekitar tujuh meter, di sini pengunjung bisa menikmati keseluruhan wisata Dewi Mangrove Sari dan pemandangan di sekitarnya. Tak ketinggalan, di gardu ini pengunjung juga bisa menemukan beberapa selfi corner yang sayang untuk dilewatkan.

Jika sudah selesai bereksplorasi nantinya para wisatawan akan diantar pulang kembali menyusuri lautan air payau. Pengunjung tidak perlu membayar lagi, lantaran fasilitas pulang pergi menggunakan perahu ini sudah termasuk biaya tiket. Jika pulang di kala senja, tentunya pemasangan di sunset di sini menjadi salah satu pemandangan yang tak boleh dilewatkan oleh pengunjung.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: visitjawatengah.jatengprov.go.id

Ruangan komen telah ditutup.