Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Wamenag Imbau Tak Perlu Perdebatkan Celana Cingkrang dan Jenggot

Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Zainut Tauhid Sa’adi. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

Murianews, Kudus – Wakil Menteri Agama (Wamenag) Republik Indonesia Zainut Tauhid Sa’adi mengajak masyarakat utamanya yang seorang muslim untuk menghargai perbedaan. Termasuk mengenai celana cingkrang atau jenggot Panjang.

Ini dikatakan saat Mamenag menghadiri pengukuhan pengurus Rumah Mualaf MUI Kudus di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Jumat  (18/11/2022).

Wamenag menyebut, menghargai perbedaan yang dimaksud olehnya yakni tidak perlu mempermasalahkan adanya perbedaan keyakinan antarumat muslim.

”Yang mau jenggotan ya silahkan. Yang tidak mau jenggotan ya tidak perlu mengejek. Begitu juga yang mau pakai celana cingkrang ya silahkan. Sedangkan yang tidak mau pakai celana cingkrang ya tidak perlu mengejek,” katanya, Jumat (18/11/2022).

Baca: 167 Orang di Kudus jadi Mualaf Tahun Ini

Zainut Tauhid Sa’adi menyebut jika hal tersebut diperdebatkan maka akan menimbulkan perpecahan.

”Sebagai umat muslim hendaknya saling bersatu. Bukan justru menimbulkan perpecahan,” sambungnya.

Di forum itu juga pihaknya mengajak umat muslim dan ulama untuk menghindari paham ekstrem. Baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

”Umat muslim juga harus berhati-hati agar tidak terjerumus di pemahaman ekstrem, baik ekstrem kanan maupun  ekstrem kiri,” terangnya.

Baca: Terima Kunjungan Menteri Perdagangan Kanada, Wamenag Promosikan Produk Halal Indonesia

Sebelumnya, ia juga berpesan agar ulama atau MUI bersama-sama menjalankan program-program dengan baik. Termasuk upaya membentengi umat dari beberapa hal yang menjadi kewajiban seorang ulama.

”Wajib membentengi umat dari beberapa hal yang tidak baik. Seperti pemikiran sesat dan akhlak yang tidak baik. Selain itu juga membentengi dari paham ekstrem,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Ruangan komen telah ditutup.