Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Puluhan Emak-Emak di Pati Dilatih Pertolongan Pertama pada Henti Jantung

Puluhan Emak-Emak di Pati Dilatih Pertolongan Pertama pada Henti Jantung
Pelatihan penanganan pertama henti jantung atau hands only CPR di Sekretariat IDI Pati, Sabtu (12/11/2022). (Murianews/Umar Hanafi)

Murianews, Pati – Puluhan emak-emak antusias mengikuti Seminar Awam oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Pati. Mereka mendapatkan pelatihan pertolongan pertama pada henti jantung atau hands only CPR, Sabtu (12/11/2022).

Setidaknya ada 42 peserta yang mengikuti acara di Sekretariat IDI Pati ini. Mereka berasal dari berbagai organisasi.

Di antaranya, ibu-ibu anggota Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), perwakilan-perwakilan dari SMK, Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) hingga Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kabupaten Pati.

Salah satu panitia, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Mustika Mahbubi memaparkan, pelatihan ini bertujuan agar masyarakat awam mengetahui cara penanggan awal henti jantung.

’’Bila ada henti jantung itu bagaimana? Selama ini kan kalau ada henti jantung pada takut, bingung dan panik. Maka kami berikan cara untuk penanganannya,’’ tutur dokter spesialis jantung dan pembuluh darah ini.

Baca: Bendera Raksasa Dibentangkan di Kirab Merah Putih di Pati

Menurutnya, pelatihan ini sangat penting. Mengingat setiap orang berpotensi mengalami henti jantung. Tidak mengenal waktu dan tempat.

Henti jantung ini ditandai dengan tiba-tiba hilangnya kesadaran seseorang, tidak ada nafas dan tidak ada respon ketika dicek respon. Bila seseorang telah mendapat penanganan maka harapan hidup semakin kecil.

’’Henti jantung, kalau kita diamkan, tidak kita tangani pertama kali, semenit kita terlambat menangani, harapan hidup hilang 7-10 persen. Kalau kita telat 10 menit maka harapan hidupnya sudah kecil,’’ tutur dokter yang akrab disapa dr Bubi itu.

Ia menyontohkan kejadian di Korea Selatan beberapa waktu lalu. Beberapa orang memberikan kompresi dada detak jantung luar atau hands only CPR. Itu membuat korban yang berjatuhan tidak semakin banyak.

’’Hands only CPR harus diajarkan semakin banyak yang mengetahui maka semakin bagus,’’ kata dia.

Pihaknya pun berencana menggelar pelatihan ini di kemudian hari. Dengan harapan semakin banyak masyarakat yang memahami penanganan henti jantung.

 

Reporter: Umar Hanafi
Editor: Zulkifli Fahmi

Ruangan komen telah ditutup.