Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Minimarket Modern Tak Boleh Berdiri di Rahtawu Kudus, Ini Sebabnya

Pemandangan Rahtawu tampak di gerbang masuk desa tersebut. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Murianews, Kudus – Minimarket modern di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah semakin menjamur. Namun, pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus, Jawa Tengah melarang jika ada toko modern yang berdiri di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog.

Pemkab Kudus mempunyai alasan tersendiri terkait larangan pendirian minimarket modern di desa paling tinggi di Kudus tersebut.

”Desa Rahtawu terkenal dengan wisatanya sehingga diminati investor. Namun untuk pembangunan retail modern kami tidak memberikan izin. Karena nanti kasihan pedagang kecil di sana,” kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Kudus, Harso Widodo.

Pihaknya tidak ingin masyarakat yang berjualan toko kelontong kalah bersaing dengan minimarket. Pihaknya berkeinginan agar perekonomian di daerah Rahtawu tetap berjalan.

”Maka dari itu kami rasa tidak dulu kalau ada yang mau membangun retail modern di Rahtawu,” ujarnya.

Untuk diketahui, hingga tahun 2022 ini di Kabupaten Kudus terdapat 123 outlet retail modern. Harso Widodo mengatakan, jumlah retail modern itu tercatat sejak 2019 hingga tahun 2022.

Baca: Suka Duka Babinsa Rahtawu Kudus, Pulang Pagi Susah Sinyal

Retail modern tersebut tersebar di sembilan Kecamatan di Kabupaten Kudus. ”Hingga 2022 jumlah retail modern di Kudus ada 123 outlet,” terangnya.

Harso mengatakan, jumlah 123 minimarket modern di Kudus tersebut dirasa sudah banyak. Namun, pihaknya tidak dapat membatasi izin tersebut.

Karena perizinan mendirikan usaha saat ini dilakukan melalui Sistem Online Single Submission (OSS).

”Kami tidak dapat membatasi izin usaha retail modern di Kudus karena kan berkaitan dengan pengembangan ekonomi,” terangnya.

Baca: Investor Tiongkok Batal Bangun Gondola di Rahtawu Kudus

Meski demikian pihaknya tetap mengatur agar tidak merugikan masyarakat yang punya usaha kelontong. Termasuk juga agar tidak terlalu dekat dengan pasar tradisional.

Meski tak dapat membatasi izin pendirian minimarket modern, Harso mengatakan, pihaknya juga berupaya agar tidak semua desa harus didirikan retail modern. Yakni di Desa Rahtawu.

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Ruangan komen telah ditutup.