Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Menilik Sejarah Tiga Bangunan SMP Peninggalan Kolonial di Kudus

Gedung SMP 3 Kudus yang dibangun pada zaman kolonial Belanda. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

Murianews, Kudus – Tiga sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Kudus menempati bangunan peninggalan kolonial Belanda. Bangunan tiga sekolah ini hingga kini masih terawat baik dan difungsikan untuk belajar mengajar.

Tiga bangunan itu yakni gedung SMP 1 Kudus, SMP 2 Kudus, dan SMP 3 Kudus. Tiga bangunan tersebut ini kaya akan sejarah.

Murianews menghimpun data melalui buku berjudul Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kabupaten Kudus. Di buku ini dijelaskan bagaimana sejarah gedung-gedung peninggalan Belanda ini.

Gedung SMP 1 Kudus yang terletak di Desa Barongan Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah mempunya luas tanah 5.700 meter persegi. Sedangkan luas bangunannya berukuran 3.048 meter persegi.

”Gedung sekolah ini dibangun pada tahun 1951. Dahulunya bernama Budi Siswa yang diperuntukkan bagi anak-anak Jawa bersekolah. Saat itu sekolah masuk siang,” tulis buku tersebut

Sebelum bernama SMP 1 Kudus dahulunya sekolah ini digunakan sebagai gedung sekolah anak Tionghoa dan anak-anak kolonial yang dikenal sebagai sinyo.

”Bangunan sekolah yang masih asli terdapat di sisi selatan membujur arah timur dan barat. Ciri khas bangunan kolonial terdapat pada bentuk jendela dan pintu yang berdaun ganda dengan plafon kayu yang tinggi. Bangsal pertemuannya beratap limas dengan konstruksi kayu,” penjelasan di buku tersebut.

Baca: Dokter Ramelan, Sosok Humanis yang Diabadikan jadi Nama Jalan di Kudus

Selanjutnya, ada gedung SMP 2 Kudus. Gedung SMP ini terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Desa Nganguk, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Bangunan ini didirikan pada masa kolonial di atas lahan seluas 3.400 meter persegi dengan luas bangunan 1.970 meter persegi.

Dijelaskan di buku tersebut, bangunan SMP 2 Kudus dibangun dengan batu bata merah, batu dan kayu jati. Bangunan tersebut milik pemerintah dan saat ini kondisinya masih baik.

”Sekolah ini dahulunya merupakan SR VII (Sekolah Rakyat) atau disebut juga Sekolah Angka Loro, dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda,” tulis buku tersebut.

Pada saat Belanda menjadi penguasa di PG Rendeng, anak-anak orang Belanda bersekolah di bagunan yang sekarang menjadi SMP 2 Kudus. Bahkan dahulu sekolah dikenal sebagai tempat sekolah bagi sinyo-sinyo dari anak sinder-sinder PG Rendeng.

”Bangunan yang masih asli membujur timur ke barat. Bentuk jendela dan pintu terlihat besar-besar dan berdaun ganda yang terbuat dari kayu jati kuna,”.

Baca: Sejarah Tugu Muda Semarang, Dibangun dengan Biaya Rp 300 Ribu Hasil Sumbangan Masyarakat

Kemudian, bangunan SMP 3 Kudus yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Desa Kramat kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Dijelaskan di buku tersebut, luas bangunan tersebut yakni luas bangunannya 2.736,79 meter persegi di atas tanah seluas 7.110 meter persegi.

Gedung ini juga dibangun dari batu bata merah, batu dan kayu jati. Gedung ini dibangun oleh pemerintah Belanda semasa menduduki Kudus.

”Dahulu digunakan sebagai HIS dan berubah menjadi SGB 1. selanjutnya menjadi SGA dan berubah menjadi SPG. Dan pada sore hari dipergunakan untuk KGA selanjutnya menjadi KPG,” tulis buku tersebut.

Ciri bangunan kolonial di SMPn ini terlihat dari bentuk jendela dan pintu yang berukuran besar serta berdaun ganda dengan plafon kayu yang tinggi.

Bangsal pertemuan yang ada di belakang gedung utama berbentuk limas dengan konstruksi kayu.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Ruangan komen telah ditutup.