Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Opini

Kudus dan Apresiasi Wayang Klitik

Moh Rosyid *)

TRADISI khas di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus melestarikan sumber air alami di Sendang Duwot tiap tahun sekali dengan resik-resik (membersihkan) sendang dan pementasan Wayang Klitik. Tradisi ini dimotori oleh Pemerintah Desa Wonosoco bersama warganya kian kurang diminati generasi millenial, mengapa?

Padahal seni wayang Indonesia dinobatkan sebagai warisan budaya lisan non-bendawi oleh Unesco (badan PBB menangani kebudayaan dan pendidikan). Piagam penghargaan pada 4 November 2008 bertuliskan Wayang Puppet Theatre Indonesia a Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity.

Atas usulan masyarakat pewayangan nasional c.q Sekretaris Wayang Nasional Indonesia (Senawangi) yang direspon oleh Dirjen Kebudayaan maka diperingati Hari Wayang Nasional tiap 7 November berdasarkan Kepres Nomor 30 Tahun 2018.

Muatan cerita dalam pewayangan memiliki nilai intangible (tak berwujud secara fisik tapi membawa manfaat) seperti etos memayu hayuning bawono (membuat tatanan dunia yang harmoni), jiwa ksatria, dan berbudi luhur yang tertuang dalam lakon. Hal ini merupakan kekayaan budaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan perilaku dalam kehidupan.

Wayang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara maka perlunya dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan untuk pemajuan kebudayaan lokal dan nasional.

Untuk melestarikan karya seni-budaya, negara bertanggung jawab mengatur, melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan sebagai cagar budaya (diterbitkan UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan).

Cerita pewayangan sarat dengan pesan kebajikan dalam hal pendidikan, dakwah, hiburan, kritik sosial, humanisme yang mengandung nilai sejarah. Hanya saja, pesan tersebut menjadi barang ”ain” bagi generasi milenial karena tidak mengetahui alur dan substansi cerita. Hal ini perlu langkah riil oleh Pemkab Kudus agar Penghargaan Unesco tidak berubah menjadi kebanggaan semu karena makin pudarnya peminat wayang.

Wayang Klitik Kudus Nasibmu Kini

Wayang dari aspek bahan baku pembuatan beragam nama/sebutan, seperti wayang kulit (terbuat dari kulit hewan) atau wayang cumplung (terbuat dari tempurung buah kelapa tua yang jatuh secara alami dari pohonnya). Bahan pembuatan wayang dari kayu jati, jika dimainkan timbul suara ‘klitik’ sehingga disebut wayang klitik.

Wayang ini di Kudus hanya ada di Desa Wonosoco mengalami fase memprihatinkan. Karena generasi kedua dalang wayang klitik ini, Sutikno (putra almarhum Sumarlan, Dalang Wayang Klitik perdana asli Wonosoco wafat medio 2013) belum memiliki kader regenerasi yang Tangguh dan sumber perekonomian sang dalang perlu diperhatikan.

Selain itu wayang klitik hanya dimainkan setiap tahun sekali pada tradisi resik-resik sendang dan belum menjadi konsumsi publik secara rutin dalam pementasan bagi warga di Kudus. Hal ini berdampak terhadap minimnya jam tayang wayang klitik sehingga menjadi asing bagi generasi di Kudus dan sekitarnya. Ketiga, minimnya perhatian Pemkab Kudus terhadap kesejahteraan dalang dan niyogo (pemusik wayang).

Melestarikan keberadaan wayang klitik, aksi yang harus dilakukan Pemkab Kudus, pertama menjembatani sumber kesejahteraan atau pekerjaan agar dalang dan 12 pemain musiknya (niyogo) tidak bekerja di luar daerah jika ada warga yang ingin mengundang pementasan dapat terlayani.

Kedua, tradisi apitan yakni pagelaran wayang kulit mengundang kelompok wayang dari luar daerah di beberapa desa di Kudus, seyogyanya memanfaatkan wayang klitik agar dalang beserta pemusiknya mendapat arena untuk berkreasi.

Ketiga, pemerintah menyediakan area untuk menyimpan wayang klitik produksi tahun 1969 yang nyaris rusak (untuk dimuseumkan) supaya dapat disaksikan oleh generasi masa mendatang. Keempat, penambahan pengadaan jenis wayang klitik yang beragam agar dapat memerankan berbagai tokoh, selama ini hanya 60 jenis/pelaku/nama.

Kelima, anak-anak di Kudus segera dikenalkan wayang ini melalui kurikulum muatan lokal atau ekstrakulikuler agar lebih dikenal melalui dinas terkait. Penghargaan Pemkab Kudus pada dalang Wayang Klitik Kudus selama ini hanya sebagai pemandu budaya yang menerima honor jauh dari layak.

Program Desa Wonosoco sebagai Desa Wisata perlu mengoptimalkan wayang klitik. Dengan demikian, perlu sentuhan yang bijak agar wayang klitik tetap menarik dengan dipertahankan keunikan dan kelangkaannya. Nuwun. (*)

 

*) Pemerhati budaya, dosen IAIN Kudus

Ruangan komen telah ditutup.