Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Demi Prestasi, Susi Susanti Korbankan Masa Remaja

Susi Susanti

Susi Susanti saat berlaga di Olimpiade 1992 di Barcelona. Legenda bulutangkis Indonesia ini harus mengorbankan sebagian masa remajanya. (badmintonindonesia)

MURIANEWS, Kudus – Demi prestasi, Susi Susanti mengorbankan masa remajanya. Hal ini diungkapkan legenda bulutangkis Indonesia ini saat terlibat di program Audisi Umum PB Djarum, baru-baru ini.

Susi Susanti menjadi salah satu atlet Indonesia yang paling dikenang bersama Alan Budi Kusuma, yang akhirnya menjadi suaminya. Mereka menjadi atlet bulutangkis pertama Indonesia yang mampu meraih medali emas di Olimpiade.

Namun, ada sisi lain yang menarik diungkapkan dibalik kecemerlangan prestasi mereka. Menjadi atlet pertama peraih medali emas Olimpiade bagi Indonesia perjuangan untuk menjadi juara tersebut tidaklah mudah.

Susi Susanti memulai perjalanan karir bulutangkis saat bergabung bersama klub Jaya Raya. Tepatnya pada 1985. Sejak kecil, dia mengaku sudah akrab dengan dunia bulutangkis. Sebab, keluarganya juga tidak jauh dari kegiatan bulutangkis.

“Saya punya impian untuk menjadi juara dunia. Tetapi sebuah impian saja tidak cukup tanpa ada kerja keras,” jelasnya.

Menurutnya, tanpa kerja keras tidak akan ada tujuan dan sebaliknya. Dengan adanya tujuan, Susi berpendapat akan ada proses, konsistensi, dan disiplin. Tekad besar itulah yang akhirnya menggerakan proses perjuangan.

“Kalau sudah punya tujuan pasti kan ada proses, konsistensi, dan disiplin untuk meraih prestasi,” sambungnya.

Sebelum meraih juara Olimpiade Barcelona 1992, Susi Susanti membeberkan pengalamannya kepada Murianews. Untuk berjalan ke podium juara tersebut butuh perjuangan yang harus dilalui.

Latihan tak kenal waktu dengan disiplin tinggi untuk meraih tujuan adalah kuncinya. Bahkan untuk ini, Susi Susanti akhirnya rela kehilangan sebagian masa remaja-nya, karena harus berlatih dan berlatih bulu tangkis.

“Banyak pengalaman keras yang pernah saya lalui. Tentunya banyak masa remaja saya yang hilang. Ketika teman-teman bermain, saya harus latihan dan latihan. Tetapi demi prestasi harus tekun dan tidak boleh menyerah saat gagal,” terangnya.

Lebih lanjut, Susi juga mengaku memiliki prinsip ‘tidak ada kesuksesan tanpa pengorbanan’. Bahkan, setiap kali ada kegagalan dirinya selalu percaya bahwa hal itu merupakan awal dari keberhasilan.

“Kunci kemenangan di Olimpiade tentunya sebuah impian dan juga kerja keras. Beban yang ada saat itu harus dilawan dan gunakan setiap kesempatan yang ada untuk melewati semua itu,” ungkapnya.

BACA JUGA: Prestasi Bulutangkis Tunggal Putri Indonesia Minim

Olimpiade Barcelona 1992, tidak hanya menjadi sejarah bagi Indonesia dengan Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma saja. Namun di Olimpiade ini juga menjadi sejarah bagi dunia bulutangkis dunia.

Saat itu, untuk pertama kalinya cabang bulutangkis dipertandingkan secara resmi di Olimpiade. Sejarah. Partai pertandingan yang digelar hanya empat, minus ganda campuran. Pada Olimpiade berikutnya di Atlanta, 1996 hingga terakhir di Tokyo, 2020 dipertandingkan 5 nomor yaitu tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri serta ganda campuran.

Di final tunggal putri Olimpiade Barcelona 1992 itu, Susi Susanti berhadapan dengan Bang Soo-Hyun asal Korea Selatan. Pertandingan yang berlangsung sangat emosional itu, Susi akhirnya menang dengan skor 5-11, 11-5, dan 11-3.

Sejarah mencatat, bagaimana seorang Susi Susanti akhirnya berhasil mengatasi semua tantangan yang ada di depannya. Tangis haru Susi Susanti saat berada di podium medali, akan terus diingat oleh bangsa Indonesia.

Susi Susanti menjadi orang pertama di dunia yang meraih medali emas tunggal putri bulutangkis Olimpiade. Atlet asal Jawa Barat ini, juga menjadi atlet pertama Indonesia yang berhasil meraih medali emas di Olimpiade, sejak keikutsertaan Indonesia di pesta akbar olahraga sedunia itu.

Semuanya tentu tidak akan bisa diraih tanpa kerja keras, tekad kuat, disipling tinggi dan keyakinan. Susi Susanti membuktikannya, bahwa manusia Indonesia sebenarnya mampu melakukannya.

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Budi Erje

Ruangan komen telah ditutup.