Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Opini

Makanan: Pengetahuan, Iklan, Kematian

Bandung Mawardi*)

ABAD XXI, abad bermasalah makanan. Konon, berita mengenai kelaparan berkurang dibandingkan abad-abad silam. Jumlah negara makmur bertambah. Kebijakan-kebijakan pertanian, perdagangan, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain turut menentukan nasib umat manusia dan makanan.

Impian-impian sebagai  pemuja makanan lekas mendapat bantahan dan petaka. Di pelbagai negara maju dan makmur, makanan malah mengakibatkan pemborosan, kisruh, kematian, korupsi, diskriminasi, dan lain-lain. Di negara-negara miskin, makanan tetap tema terbesar tanpa kepastian bisa merampungkan seribu persoalan agar ada kecukupan pangan.

Makanan itu referensi kematian. Pemahaman bahwa makanan itu kehidupan cepat berganti bila mengikuti berita-berita mutakhir atau publikasi riset. Kita diajak berpikiran bolak-balik dalam mengartikan makanan. Posisi sebagai manusia makin tak keruan. Manusia dan alam mengalami sengketa-sengketa untuk menang-kalah.

Manusia mula-mula menginginkan makanan tapi kebablasan. Segala hal mulai teringinkan dengan konsekuensi-konsekuensi terburuk.

”Makan kini telah menjadi suatu konsep rumit,” tulisa Michael Polan dalam buku berjudul Food Rules (2011).

Rumit! Kita bermufakat saja. Hari demi hari, makan bukan persoalan mudah dan sederhana. Makan memang rumit. Michael Pola berceloteh: ”Kebanyakan kita bergantung pada pendapat sejumlah ahli yang menyarankan kita harus makan – dokter, buku diet, keterangan-keterangan media mengenai temuan terbaru ilmu gizi, laporan pemerintah dan piramida makanan, serta klaim kesehatan dan kemasan makanan”. Kita mengalami pula di Indonesia.

Kita mendapatkan pengetahuan berlimpahan. Kita pun bingung. Ketakutan menguasai ketimbang kewarasan dalam memilih makanan. Kita sulit menenangkan diri dan berpikiran baik mengenai menu makanan dan tata cara makan. Sumber-sumber pengetahuan dan informasi terus bertambah. Dampak kebaikan dan kebenaran masih berjarak dengan kita.

Sindiran Michael Pollan: ”Kita tidak selalu menggubris nasihat-nasihat tapi suara mereka kerap terngiang di telinga saat kita hendak memesan menu atau mendorong kereta belanja di supermarket”.

Kita mungkin kebal dari nasihat. Kita gagal dalam menerima keluhuran, kebaikan, dan kemuliaan berdalih makanan. Hari-hari menjadi buruk dan memusingkan gara-gara makanan. Abai atas masalah makanan menjadikan petaka berkepanjangan.

Peradaban Makanan

Peradaban bertema makan sudah berlangsung lama. Kita tak memiliki ingatan-ingatan terjauh mengenai manusia, makanan, alam, dan lain-lain. Masa lalu itu masih mungkin terlihat di relief, terbaca di manuskrip, atau terdengar dengan tembang.

Di kitab suci, kita pun terus membaca masalah-masalah makanan meski kerepotan mencari kebenaran saat abad-abad memuat petaka-petaka besar. Warisan epos atau mitos pun menuntun kita menapaki lagi kesilaman makanan tapi tak semua terpahamkan. Pada abad XXI, rentetan kegagalan paham mengesahkan makanan dan malapetaka bagi umat manusia.

Penjelasan panjang disampaikan Willem HS dan James JH dalam buku berjudul Makanan dan Gizi (1981): ”Kebutuhan akan makanan ini dirasakan secara naluri… Tetapi naluri saja belum cukup untuk menjelaskan sebab-sebab di balik kebutuhan makan atau cara-cara yang efektif untuk memenuhinya. Pengetahuan ini dicapai melalui proses yang sulit. Untuk memenuhi kebutuhan makanannya, manusia telah berusaha selama jutaan tahun untuk meningkatkan persediaan makanan dengan menciptakan alat-alat berburu, mengembangkan pertanian, dan menciptakan cara-cara menimbun hasil”.

Pencarian makanan bukan persoalan mudah saat manusia menanggapi alam. Pada abad-abad modern, mendapatkan makanan itu mudah tapi kesulitan dalam menjadikan itu “”baik”, ”awet”, dan “luhur”.

Makanan dan Modern

Pertanian modern menentukan peradaban-peradaban maju. Pemenuhan pangan atau ketersediaan makanan untuk pelbagai musim membuktikan terapan ilmu dan penggunaan teknologi. Pangan perlahan menjadi petaka saat kolonialisme mendefinisikan sebagai keuntungan, penertiban, penguasaan, dan perendahan.

Industri makanan makin mementingkan itu komoditas membenarkan capaian-capaian komersialitas. Di luar arus besar raihan untung, makanan berkaitan ritual, etika, kesehatan, atau estetika seperti bergerak pelan dan meminta perhatian serius.

Kita diminta mengingat sejarah makanan dan gizi. Willem HS dan James JH menjelaskan: ”Kemajuan dalam ilmu kimia melahirkan ilmu gizi, sebab yang menjadi pusat perhatian ilmu ini memang susunan kimia bahan makanan dan proses-proses kimia rumit penggunaan bahan makanan”.

Umat manusia disadarkan dengan kesibukan meriset makanan mulai abad XVIII. Konon, masalah itu membesar dan berdilema pada abad XX. Makanan mengandung gizi demi kesehatan dihantam industri makanan bermuslihat kenikmatan dan kemudahan. Abad XX seperti abad ”perang makanan” berdampak sakit dan kematian.

Peringatan dari Michael Pollan: ”Sekarang ini, mengonsumsi makanan lebih mudah dianjurkan ketimbang dilakukan, terutama dengan adanya 17.000 produk baru di pasar setiap tahunnya, dan semuanya bersaing mengincar uang dimiliki konsumen. Tapi kebanyakan produk itu tidak layak disebut makanan – saya memberikan istilah ‘zat serupa makanan yang bisa dikonsumsi’. Beragam produk itu adalah ramuan yang diproses oleh ilmuwan makanan…”.

Kita berada dalam capaian-capaian ilmu dan teknologi. Makanan justru tak termuliakan demi keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan umat manusia. Produksi ”serupa makanan” terus meningkat dan membikin ketagihan. Penerimaan setelah iklan-iklan dan penumpulan kesadaran-kodrati.

Kini, kita bisa mampus digoda ratusan atau ribuan iklan makanan dan ”zat serupa makanan”. Iklan-iklan itu berdatangan di koran, majalah, radio, televisi, media sosial, dan lain-lain. Kita seperti tak pernah memiliki warisan ilmu makanan. Iklan-iklan itu membawa “kebenaran” dan janji-janji terindah agar kita menjadi pemuja makanan sampai mati.

Kita disamarkan dalam mementingkan makanan atau iklan. Kita sulit memihak kesehatan atau kenikmatan cap kematian.

Menderita

Abad XXI, abad bagi orang-orang berpesta makanan. Pesta sebelum kekalahan dan kematian. Kita mungkin kangen khotbah suci bertema makanan. Kita ingin kembali ke imajinasi para leluhur mengajarkan makanan melalui epos atau mitos. Kita penasaran dengan relief-relief mengisahkan manusia masa lalu menikmati makanan dalam ritual.

Kita sadar bakal menderita gara-gara salah pilih makanan. Kita mungkin bisa mengikuti petunjuk Michael Pollan: ”Maka, bila dirimu menghindari produk-produk yang mempunyai anggaran iklan besar, otomatis dirimu menghindari zat-zat mirip makanan yang dapat dimakan”.

Kita simak sekalimat lagi: ”Pernyataan kesehatan yang palsu dan ilmu makanan yang keliru telah membuat supermarket sebagai tempat yang berbahaya untuk membeli makanan asli”.

Kita menunduk menandakan bingung dan resah. Kita mengaku sering salah pilih makanan. Kita sulit meralat kesalahan-kesalahan. Begitu. (*)

 

*) Pengiat literasi dan Kuncen Bilik Literasi Solo

Ruangan komen telah ditutup.