Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Sering Dianggap Sama, Ini Perbedaan Fobia dan Trauma yang Perlu Diketahui

Sering Dianggap Sama Ini Perbedaan Fobia dan Trauma yang Perlu Diketahui

Foto: Ilustrasi (un-perfekt dari Pixabay)

MURIANEWS, Kudus – Ada banyak macam gangguan yang terkait dengan kesehatan psikologis. Dua di antaranya adalah fobia dan trauma.

Banyak orang yang mengganggap sama antara fobia dan trauma ini. Padahal, ada perbedaan di antara keduanya.

Hal ini penting diketahui supaya bisa mendapatkan penanganan yang tepat jika ada yang mengalami masalah tersebut. Lantas apa perbedaan fobia dan trauma ini?

Melansir dari Halodoc, Kamis (6/10/2022), fobia dan trauma adalah kondisi psikologis yang kadang susah untuk dibedakan, sehingga orang-orang kerap menyamakan kondisi ini.

Fobia adalah reaksi dari rasa takut yang terakumulasi dan tidak proporsional, sedangkan trauma adalah gangguan pada sistem saraf yang awalnya disebabkan oleh rasa takut. Ketakutan pada dasarnya adalah emosi, dan bisa menjadi kronis bila dipicu oleh trauma tertentu ataupun suatu bentuk fobia.

Perbedaan Fobia dan Trauma

Fobia dapat dilihat sebagai gejala atau sebagai konsekuensi jangka panjang dari PTSD. Bahkan jika PTSD hilang, fobia dapat tetap ada sebagai reaksi terhadap stimulus yang mencerminkan bahaya.

Banyak jenis fobia yang tidak rasional disebabkan karena ingatan tentang apa yang menyebabkan rasa takut pada awalnya tidak tersimpan sepenuhnya. Itu sebabnya fobia didefinisikan sebagai irasional karena tampaknya muncul entah dari mana. Akan tetapi, ini selalu datang dari beberapa pengalaman negatif sebelumnya, baik yang traumatis atau sangat menakutkan.

Ketika seseorang memiliki fobia, mereka sering berencana untuk menghindari hal-hal yang mereka anggap berbahaya. Ini dapat menghambat kemampuan untuk melakukan tugas sehari-hari dan terkadang memicu serangan panik. Misalnya, jika seseorang memiliki fobia laba-laba, bahkan memikirkan laba-laba saja dapat membuatnya gemetar dan berkeringat.

Trauma adalah cedera utuh yang tidak selektif seperti halnya fobia. Trauma bersifat maladaptif karena memengaruhi begitu banyak proses fungsi sistem. Seperti halnya fobia, trauma juga memiliki ikatan negatif dari kenangan buruk di amigdala kanan. Akan tetapi, berbeda dengan fobia,  trauma memengaruhi bagian lain dari otak.

Fobia sebenarnya juga bisa menjadi gejala trauma. Selain itu, fobia juga dapat menjadi bagian dari konsekuensi lain dari PTSD atau dapat muncul sendiri tanpa PTSD.

Penanganan Fobia dan Trauma

Penanganan fobia dan trauma kurang lebih sama. Pertama dan terpenting adalah mengetahui penyebab fobia dan trauma itu sendiri. Kemudian, pengidapnya harus memiliki keinginan untuk sembuh.

Nah, berikut beberapa hal yang bisa dilakukan:

1. Menemukan Bantuan yang Tepat

Kamu dapat mencari terapis spesialis trauma untuk mendapatkan bantuan terkait kondisi yang kamu alami. Selain itu, alangkah lebih baik lagi bila kamu bergabung dengan kelompok pendukung yang juga mengalami masalah sama.

2. Terhubung dengan Orang Lain

Berbicara dengan orang lain terkait trauma merupakan langkah yang tepat untuk dilakukan. Keterhubungan dengan orang lain adalah kunci kebahagiaan sebagai manusia, dan mengasingkan diri saat menghadapi trauma dapat menyebabkan hasil negatif seperti depresi.

3. Olahraga

Olahraga telah terbukti memperbaiki gejala PTSD. Selain secara langsung membantu menyembuhkan pengidap trauma, olahraga juga memberi tubuh zat kimia yang sangat dibutuhkan seperti endorfin.

Jika kamu tidak suka berolahraga, jangan memaksakannya. Kegiatan seperti berjalan-jalan, atau lakukanlah sesuatu yang menyenangkan seperti bersepeda atau bermain sepatu roda, mengikuti video yoga, atau tergabung dengan aktivitas sosial.

4. Menulis Jurnal

Menulis jurnal adalah cara umum untuk mengelola stres dan melewati peristiwa yang kompleks. Merasakan perasaan dan menerimanya, adalah kunci penyembuhan dari trauma. Kamu mungkin memiliki beberapa perasaan sulit di sepanjang jalan, seperti kemarahan, dan itu tidak masalah.

Ingat, sangatlah wajar untuk memiliki berbagai macam emosi, dan tidak ada salahnya jika beberapa di antaranya baru bagimu.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: halodoc.com

Ruangan komen telah ditutup.