Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Sejarah Jenang Kudus, Ada Peran Saridin Syekh Jangkung

Diorama orang tengah membuat jenang di Museum Jenang Kudus. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Jenang Kudus menjadi satu dari tiga produk budaya Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBtb). Sejarah jenang Kudus tidak dapat dipisahkan dengan Desa Kaliputu.

Kaliputu ini disebut-sebut sebagai daerah di mana terciptanya jenang di Kabupaten Kudus.

Sejarah jenang Kudus tidak luput dari kisah sesepuh Desa Kaliputu yang bernama Mbah Dempok Soponyono. Berdasarkan cerita yang berkembang, saat itu mbah Dempok Soponyono sedang bermain burung dara bersama cucunya atau yang dalam bahasa Jawa disebut putu.

”Cucunya asyik bermain burung dara sampai tercebur ke sungai atau kali,” kata Supriyono, Ketua Pokdarwis Desa Kaliputu, Kamis (6/10/2022).

Di sini ada peran Sunan Kudus dan Syekh Jangkung. Saridin atau Syekh Jangkung dikenal sebagai tokoh yang mempunyai kemampuan linuwih. Ia sempat berguru dengan Sunan Kudus.

Makamnya berada di Desa Landoh, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jateng, dan menjadi jujukan peziarah.

Saat itu Sunan Kudus dan Saridin sedang melintas di sekitar tempat terceburnya cucu Mbah Dempok. Sunan Kudus mengira anak tersebut sudah meninggal.

Akan tetapi, Saridin berpendapat lain. Menurutnya, anak tersebut masih hidup dan hanya mati suri.

”Saridin menyarankan agar anak tersebut diberi jenang. Akhirnya dibuatkan jenang bubur gamping dan disuapkan ke anak tersebut hingga akhirnya hidup kembali. Dari situlah awal sejarah jenang yang sampai sekarang menjadi mata pencaharian warga Desa Kaliputu,” ujarnya.

Proses pembuatan jenang Kudus. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

Penamaan Desa Kaliputu juga diambil dari peristiwa tersebut. Kali diambil dari tempat sungai tempat terceburnya anak tersebut. Sedangkan putu diambil dari penyebutan cucu dalam bahasa Jawa. ”Maka tercipta Desa Kaliputu yang hingga kini erat dengan kuliner,” terangnya.

Baca: Barongan, Jenang dan Buka Luwur Sunan Kudus Resmi jadi Warisan Budaya

Dia menambahkan, saat ini di Desa Kaliputu sudah ada 36 pengusaha jenang. Sebagai wujud rasa syukur, setiap tanggal 1 Muharram atau 1 Sura Pemerintah Desa (Pemdes) Kaliputu menggelar kirab Jenang Tebokan.

Supriyono menyebut kini jenang Kudus mulai menjamur. Bahkan jenang Kudus sudah ditetapkan menjadi Warisan Budaya tak benda (WBtb) nasional.

”Maka dari itu kuliner jenang dan juga kirab jenang tebokan wajib dilestarikan,” imbuhnya.

Baca: Museum Jenang Kudus Pecahkan Rekor MURI

Sejarah mengenai jenang di Kudus diabadikan juga di Museum Jenang Kudus. Museum Jenang Kudus terletak di Jalan Sunan Muria Nomor 33, Kudus.

Di museum tersebut juga terekam sejarah jenang Kudus yang hampir sama dengan kisah yang beredar selama ini. Di museum itu juga menjelaskan tentang generasi pertama yang membuat jenang Mubarok.

Yakni pasangan H Mabruri dan Hj Alawiyah sejak tahun 1910 hingga tahun 1940. Lalu diteruskan ke generasi kedua, pasangan HA Sochib dan Hj Istifaiyah sejak tahun 1940 hingga tahun 1992.

Lalu generasi ketiga, pasangan H Muhammad Hilmy, dan Hj Nujumullaily sejak tahun 1992 hingga sekarang. ”Saya memulai di tahun 1992 hingga sekarang. Jadi sudah 30 tahun,” kata CEO Mubarokfood Cipta Delicia, Muhammad Hilmy, Kamis (6/10/2022).

Kemudian, di Museum Jenang terdapat diorama Pasar Bubar. Pasar Bubar ini dahulunya digunakan generasi pertama untuk memasarkan produk jenang Mubarok.

Hilmy menambahkan, pihaknya ingin mendokumentasikan perjalanan sejarah jenang melalui Museum Jenang. Sehingga generasi muda dapat mengetahui sejarah perkembangan jenang di Kudus.

”Museum Jenang menawarkan perjalanan pembuatan jenang saat masih tradisional hingga sekarang sudah modern di dalam proses pembuatannya,” sambungnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Ruangan komen telah ditutup.