Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Info Jatim

Anggota TNI Tendang Aremania dalam Tragedi Kanjuruhan, Akhirnya Minta Maaf

Anggota TNI Tendang Aremania dalam Tragedi Kanjuruhan, Akhirnya Minta Maaf
Anggota TNI saat menedang salah satu suporter Arema (tangkapan Layar)

MURIANEWS, Malang – Anggota TNI yang menendang salah seorang Aremania dalam tragedi Kanjuruhan, videonya semoat viral di media sosial. Dalam aksi itu, Anggota TNI tersebut menendang dari belakang, tepat di bagian tulang dada belakang.

Aremania yang belakangan diketahui namanya Muhammad Hazemi Rafsanjani (16) itu, langsung jatuh tersungkur. Terlebih, dalam video yang beredar tendangannya cukup keras. Beruntung, dia masih bisa selamat hingga sampai ke  rumahnya.

Setelah kejadian itu viral, Pangdam V Brawijaya Mayjend TNI Nurchahyanto dan oknum penendang pun datang ke rumahnya untuk meminta maaf.

”Kemarin (4/10/2022) Pangdam sama pelaku datang ke rumah korban untuk meminta maaf atas kejadian itu. Tapi dari pihak keluarga memutuskan untuk melanjutkan permasalahan ini ke ranah hukum. Ini sudah dilaporkan dan masuk tahap penyelidikan, saksi-saksi juga diperiksa sekarang,” terang kuasa hukum Hazemi, Muji Laksono, dikutip dari Detikjatim.com, Kamis (6/10/2022).

Baca: Ini 4 Instruksi Jokowi Usai Tinjau Stadion Kanjuruhan Malang

Sementara Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) V Brawijaya Kolonel Arm Kusdi membenarkan bahwa oknum personel penendang suporter itu sudah meminta maaf secara langsung kepada korban di Malang. Dia didampingi Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Nurchahyanto.

Kini, kata Kusdi, personel itu tetap diproses hukum. Yang bersangkutan saat ini sedang menjalani proses pemeriksaan oleh Polisi Militer Kodam (Pomdam) V Brawijaya.

“Betul, kemarin didampingi langsung sama Pak Pangdam itu. Jadi orangnya yang nendang sekarang sudah diproses di Pomdam,” ujar Kusdi.

Baca: Sejarah Kerajaan Kanjuruhan di Malang yang Menggapai Puncak Kejayaan Dibawah Raja Gajayana

Kusdi menjelaskan bahwa personel bersangkutan telah melakukan sebuah kesalahan. Tendangan seperti itu terhadap masyarakat sipil menyalahi prosedur yang seharusnya diterapkan oleh seluruh personel TNI.

”Salah prosedur itu. Kan tidak boleh seperti itu. Ya, kalau di polisi melanggar kode etik, kalau di TNI berarti itu tindakan pelanggaran disiplin. Harus diproses hukum, nanti yang bersangkutan bisa kena sanksi tunda pangkat,” katanya.

 

Penulis: Cholis Anwar
Editor: Cholis Anwar
Sumber: Detikjatim.com

Ruangan komen telah ditutup.