Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Editorial

Sepak Bola Seperti Apa yang Sebenarnya Kita Inginkan?

Budi Santoso ([email protected])

TRAGEDI  Kanjuruhan tiba-tiba menyeruak menjadi sebuah ‘jelaga pekat’ bagi sepak bola nasional yang tengah bergairah. Kerusuhan yang terjadi paska ‘El-clasico Indonesia’, Arema FC vs Persebaya, Sabtu (1/10/2022), tiba-tiba seperti mereduksi ‘sinar’ gemerlap Timnas Indonesia yang sukses di beberapa level.

Belum lama ini, Shin Tae-yong memberikan harapan bagi sepak bola nasional, saat Timnas Indonesia lolos ke Piala Asia 2023 dan Piala Asia U-20 2023. Namun, secara tiba-tiba Tragedi Kanjuruhan menyentak. Membuat Indonesia kembali dikenal seantero dunia, tapi dalam pandangan kelam menakutkan.

Sepak bola adalah semesta lain yang memiliki gairahnya sendiri. Permainan paling digemari spesies manusia di atas bumi ini, menawarkan banyak hal. Suka cita, duka cita, kebersamaan, kegembiraan, persaudaraan dan terkadang tragedi yang tak terperi.

Ini bisa dikatakan sebagai sebuah produk budaya manusia yang paling universal. Seluruh dunia memiliki ‘bahasa’ yang sama untuk sepak bola. Dengan akal dan budi yang dimiliki manusia, sepak bola kini telah dikembangkan menjadi sebuah dimensi atau semesta yang berbeda.

Lalu, keberadaan supporter dalam dunia sepak bola, adalah bagian tak terpisahkan dari permainan sepak bola itu sendiri. Pada masa sekarang, sepak bola tanpa supporter akan seperti sebuah industri yang bangkrut. Suporter sepak bola adalah elemen penting dalam dunia sepak bola.

Tapi, jika terjadi kepiluan dalam sepak bola, seperti tragedi Kanjuruhan, bagaimana kita harus menyikapinya? Tidak mungkin sepak bola dimatikan, mengingat betapa hebatnya sepak bola di kehidupan manusia. Sisi kesedihan yang melebihi batas hingga menimbulkan tragedi, adalah hal yang harus dibatasi dalam sepak bola.

Sepak bola Indonesia Berduka (grafis)

Dari tragedi Kanjuruhan, mungkin ada baiknya Indonesia bisa segera melakukan sesuatu. Sepakbola Indonesia membutuhkan sebuah admosfer yang lebih baik untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.

Sepak bola Indonesia harus dibangun untuk bisa bermanfaat bagi kehidupan masyarakatnya. Keberadaannya harus bisa membentuk sebuah karakter hebat dari para pemainnya, pengurusnya, suporternya, hingga akhirnya mendukung bagi terbangunya sebuah masyarakat Indonesia yang berkarakter kuat.

Sepak bola Indonesia tidak boleh mati. Namun tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan manusia adalah sejarah kelam. PSSI sudah saatnya memberikan perhatian serius terhadap masalah pembinaan supporter klub-klub anggotanya.

Bagaimana membentuk kelompok supporter yang memiliki karakter luhur yang benar-benar memahami nilai-nilai sportsman, adalah keharusan mutlak yang harus dilakukan PSSI jika tidak ingin sepak bola Indonesia terpuruk.

Klub-klub sepak bola juga harus meluaskan cakrawala dalam mengelola timnya. Harus bisa membina kelompok suporternya menjadi lebih dewasa, berkepribadian, dan menjadi bisa memahami posisi mereka di dalam sepak bola dengan benar.

Kelompok-kelompok supporter tentu saja, dari tragedi Kanjuruhan atau tragedi-tragedi sepak bola di dunia harus bisa belajar. Mereka harus menempatkan kepentingan kemanusian tetap berada diatas dari ‘cinta’ atau ‘kegilaan’ pada klubnya.

Jangan sampai kelompok-kelompok supporter ini terus ‘terperangkap’ dalam kecintaan membabi buta yang terkadang membuat kehilangan adap dan jiwa-jiwa sebagai manusia. Sepak bola harus bisa dijadikan sebagai tontonan yang menghibur, aman dan mendidik kita sebagai manusia semestinya.

BACA JUGA: Tragedi Kanjuruhan Hampir Mirip Tregedi Peru 1964

Sepak bola sudah seharusnya bisa menjadi tempat kita untuk belajar. Belajar untuk menerima kekalahan dan kemenangan dengan elegan, bijak dan dewasa. Karena tidak bisa kita terus menerus harus menelan kepiluan, kesedihan dan kerugian dari sepak bola.

Lalu, Pemerintah Indonesia, sepertinya juga harus mengambil sikap tegas sebagai sebuah institusi negara yang harus bisa mengatur kehidupan masyarakatnya. Melihat kejadian-kejadian pilu di sepak bola Indonesia, sebuah kebijakan mungkin bisa diambil.

Jika memang perlu, dalam pendekatan negara, Pemerintah Indonesia bisa menginisiasi penyusunan semacam Standart Operation Prosedure (SOP) Pengamanan sepak bola. Selanjutnya diterapkan dengan tegas dalam kegiatan sepak bola.

Jangan sampai juga, dengan kejadian ini lalu, muncul ‘ketakutan’ menerpa kita semua dalam bersepak-bola. Sehingga muncul ‘batasan-batasan’ soal keamanan yang tidak berdasar, dan justru membuat sepak bola kita kembali ‘tersendat’ dalam pembinaanya.

Dengan SOP yang jelas, kita akan melihat semua hal dengan pasti sesuai ‘kesepakatan’. Sehingga sudah ada setidaknya parameter yang bisa menjaga sebuah pertandingan sepak bola dari tindakan-tindakan tak terkontrol para pelakunya.

BACA JUGA: Seorang Balita Jadi Korban Tragedi Kanjuruhan

Saat ini, dari tragedi Kanjuruhan kita semua sepakat bahwa kejadian ini menjadi kesalahan semua pihak. PSSI bisa saja keliru karena memaksakan pertandingan ini berlangsung malam hari. Polisi juga bisa saja sangat keliru saat menembakan gas air mata di kawasan terbatas.

Lalu bisa jadi juga, Aremania keliru karena menyerbu ke lapangan. Tetapi, karena tidak adanya kejelasan mengenai SOP pengamanan sepak bola, sulit kiranya menempatkan siapa pihak-pihak yang harus bertanggung jawab. Padahal 129 nyawa telah hilang dalam kejadian ini.

Mari kita merenung untuk kejadian ini. Tidak bisakah kita jadikan sepak bola sebagai hiburan yang aman, berintegritas dan tetap mengedepankan sportsman sejati. Atau kita malah justru senang dengan sepak bola mencekam dan mengancam? Sebenarnya sepak bola seperti apakah yang kita inginkan?

Mari….

Ruangan komen telah ditutup.