Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Sejarah Kelam Jugun Ianfu Pernah Hantui Perempuan Desa di Kudus Ini

Sejarah Kelam Jugun Ianfu Pernah Hantui Perempuan Desa di Kudus Ini
Lokasi yang diduga bekas rumah bordil di era Kolonial Belanda dan Kedudukan Jepang di Jalan Jendral Sudirman Kudus. (Murianews/Zulkifli Fahmi)

MURIANEWS, Kudus – Sejarah kelam Jugun Ianfu atau perbudakan seks di masa penjajahan Jepang pernah terjadi di Kabupaten Kudus. Hampir semua wilayah yang diduduki Jepang masa itu terdapat Jugun Ianfu.

Beberapa di antaranya yakni di Desa Mlati (nama desa sebelum dipecah jadi tiga desa, Mlati Lor, Kelurahan Mlatinorowito, dan kelurahan Mlati Kidul). Bahkan, sisa-sisa tempat rumah bordil masih ada di sana.

Itu diungkapkan tokoh masyarakat Desa Mlati Lor Eddy Yusuf dalam Dialog Interaktif Moderasi Beragama di Aula Desa Mlati Lor semalam, Jumat (30/9/2022).

”Dulu, sebelum tahun 1970an, Desa Mlati Lor ini merupakan lembah hitam, bersama Kelurahan Mlatinorowito dan sebagaian di Kelurahan Mlati Kidul,” kata Ketua RW I Mlati Lor itu.

Eddy Yusuf yang saat itu jadi salah satu narasumber dialog itu menjelaskan, saat era kedudukan Jepang, para pemuda-pemuda di desa dicari untuk dilatih jadi tentara.

Baca: Mojodadi, Lokalisasi Kondang di Kudus yang Jadi Sentra Wedus

Selain mencari pemuda desa, mereka juga mencari gadis-gadis desa untuk dijadikan Jugun Ianfu. Sayangnya, setelah Jepang menyatakan kalah dan Indonesia merdeka, sisa-sisa Jugun Ianfu masih ada.

Sisa-sisa Jugun Ianfu itu masih menempati rumah bordil. Saat itu, tempat yang diduga jadi rumah bordil di Jalan Jendral Sudirman. Tepatnya yakni antara bangunan yang sekarang dijadikan Bank BPD Jateng sampai Bank BCA.

”Namun, setelah tahun 1970an terdapat larangan dan harus dilokalisir. Akhirnya mereka dilokalisasi ke Gribig. Di Gribig pun akhirnya dibubarkan pada 1997,” kata Eddy Yusuf.

Tokoh Masyarakat Desa Mlati Lor Eddy Yusuf (tengah), Dosen IAIN Kudus Ma’mun Mu’min, dan Tokoh Masyarakat Desa Mlati Kidul Budiono Muhsin saat jadi narasumber Dialog Interaktif Moderasi Beragama di Aula Desa Mlati Lor Kudus, Jumat (30/9/2022) malam. (Murianews/Zulkifli Fahmi)

Praktisi Sejarah, Ma’mun Mu’min yang juga narasumber dialog tersebut menduga, praktik perbudakan seks di Desa Mlati terjadi sejak masa kolonial belanda.

Pernyataan itu dikuatkan dari riset yang dilakukannya. Di mana, setiap ada pabrik yang dibangun kolonial, selalu ada tempat pelacuran, perjudian, dan kafe untuk minum-minuman keras.

”Itu gara kolonial. Agar produksi pabrik bisa maksimal, mereka mendatangkan orang-orang dari daerah sekitar dan tidak boleh pulang. Cara bagaimana? Ya uangnya dihabiskan,” katanya.

”Bukan dengan cara dicuri. Maka disediakanlah tempat pelacuran, tempat perjudian, dan tempat minum minuman keras,” imbuh dosen IAIN Kudus itu.

Nah, lanjutnya, di sekitar Desa Mlati itu ada Pabrik Gula Rendeng yang didirikan pada masa kolonial. Mulanya, ia menduga tempat pelacuran yang disiapkan kolonial belanda itu ada di Desa Gribig, Kecamatan Gebog.

”Kemudian saya ke Gribig. Ternyata, di sana itu baru. Bukan kolonial. Ternyata, sudah terjawab. Adanya di Mlati,” kata Ma’mun.

 

Reporter: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi

Ruangan komen telah ditutup.