Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Pemandian Tirta Asyifa, Saksi Bisu Penahanan Istri Pejabat PKI dan Gerwani

Tempat wisata pemandian air panas Tirta Assyifa yang dulunya merupakan Kamp Gerwani dan istri pejabat PKI, kini disulap menjadi wisata pemandian air panas. (Solopos.com/Adhik Kurniawan)

MURIANEWS, Kendal – Tempat wisata pemandian air panas Tirta Assyifa ternyata menyimpan sejumlah cerita terkait Partai Komunis Indonesia (PKI). Tempat wisata itu menjadi saksi bisu saat istri para pejabat PKI dan tokoh-tokoh Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) ditahan pascaperistiwa G30SPKI.

Dulunya, wisata yang berada di Dusun Pesanggrahan, Desa Sangu Banyu, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah itu terdapat kamp-kamp tahanan berupa bangsal atau barak yang disebut dengan Kamp Plentungan.

Sayangnya, kamp-kamp tahanan itu hilang dihantam banjir bandang pada tahun 1989. Sebelum, Kamp Plantungan ini merupakan rumah sakit khusus bagi penderita kusta yang dibangun Belanda sekitar tahun 1870.

Baca: Saksi Pembantaian PKI di Grobogan: Tapol Ditembak di Lubang Kubur

Melansir Solopos.com, bangunan rumah sakit memiliki luas 6 hektar yang dibagi dua bagian, yakni bagian depan seluas 4,4 hektar dipakai untuk Lapas Terbuka Pemuda Kelas IIB Plantungan Kendal.

Kemudian, lahan di bagian belakang seluas 1,5 hektar kini dimanfaatkan sebagai tempat wisata pemandian air panas. Wisata pemandian air panas inilah lokasi eks Kamp Plantungan sebelumnya.

Saat ini, Lapas Terbuka dan lokasi eks Kamp Plantungan terhubung dengan jembatan berpenyangga besi. Jembatan besi itu telah ada sejak rumah sakit khusus penyakit kusta ini dibangun.

Kendati demikian, kondisi jembatan saat ini hanya berupa bambu tanpa pengaman di kanan kiri.

Sesepuh Desa Sangu Banyu, Suhud (83) mengatakan awal kedatangan para wanita sebagai tahanan politik itu pada tahun 1966 hingga 1967. Ia menyebut sekitar seribu wanita tercatat ada di kamp Plantungan Kendal.

Baca: Atas Tragedi PKI yang Menimpanya, Pria asal Pati Ini Berharap Pemerintah Hapus Stigma

”Dulu kami gak bisa lewat jembatan atau masuk. Harus melipir lewat jalan lain. Lokasi itu dijaga ketat sama militer,” kata Mbah Suhud.

Mbah Suhud yang kala itu menjabat sebagai carik atau sekretaris desa menuturkan jika sekitaran kamp dikelilingi kawat berduri. Masyarakat hanya bisa melihat dari kejauhan kegiatan dalam kamp tersebut.

”Di dalam tahanan itu dikelompokkan kerjanya. Kalau ada dokter, bidan, perawat mereka jadi satu di klinik. Ada yang menjahit, pertanian. Mereka hidup dari hasil tani di dalam kamp itu,” tutur dia.

Mbah Suhud menceritakan Kamp Plantungan kosong pada tahun 1979. Para wanita yang berada di dalam kamp tersebut dipulangkan ke daerah masing-masing.

Dua tahun lalu, tepatnya 2020, beberapa eks tahanan wanita Kamp Plantungan masih mengunjungi lokasi tersebut.

”Itu (Gerwani) dari Surakarta, Yogyakarta, dan Jakarta juga ada. Mereka datang untuk napak tilas tempat dulu ditahan di sini. Sempat ketemu saya juga. Sudah pada pakai tongkat (tua),” tutup dia.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Ruangan komen telah ditutup.