Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Mengenal Phasmopobia, Rasa Takut Berlebihan pada Hantu dan Cara Mengatasinya

Mengenal Phasmopobia Rasa Takut Berlebihan pada Hantu dan Cara Mengatasinya

Foto: Ilustrasi (Marcello Migliosi dari Pixabay)

MURIANEWS, Kudus – Meski sudah zaman digital, namun orang yang merasa takut pada hantu masih cukup banyak. Tak hanya anak-anak, banyak juga remaja, orang dewasa dan orang juga yang takut dengan hantu ini.

Hal ini, salah satunya disebabkan oleh cerita mitos yang diberikan secara turun temurun dan selalu diingat hingga dewasa. Selain itu, pengaruh dari melihat film-film horor juga bisa menjadi penyebab lainnya.

Bagi sebagian orang, ada yang mengalami rasa takut berlebihan atau phasmopobia. Jenis fobia ini perlu mendapat penanganan serius karena bisa menyebabkan kecemasan berlebihan bagi pengidapnya.

Baca juga: Ini Tips Mengendalikan Rasa Takut Melahirkan yang Penting Diketahui

Melansir dari Halodoc, Jumat (30/9/2022), bagi orang-orang dengan jenis fobia ini, mendengar hal-hal yang berkaitan dengan hantu saja sudah bisa membuat mereka sangat ketakutan. Ketakutan yang dirasakan mungkin bisa sampai mengganggu aktivitas mereka, bahkan membatasi hidup mereka.

Mengenal Phasmopobia dan Ciri-cirinya

Ada banyak orang yang sangat takut terhadap hantu. Mereka mungkin tidak bisa tidur atau takut pergi ke toilet sendirian setelah mendengar atau menonton film hantu. Namun, rasa takut yang dimiliki oleh pengidap phasmopobia jauh lebih intens atau lebih dalam dari rasa takut orang pada umumnya.

Sebagian gejala yang dialami oleh pengidap phasmopobia mungkin mirip dengan orang lain pada umumnya ketika terpapar dengan cerita atau film hantu. Contohnya seperti tidak bisa tidur, takut sendirian, dan terbayang-bayang gambaran hantu.

Namun, bedanya jenis fobia ini juga bisa menyebabkan pengidapnya mengalami kecemasan dan serangan panik. Gejala tersebut sering kali mengganggu pengidap untuk beraktivitas, bahkan membuat mereka tidak berdaya untuk melanjutkan hari.

Selain itu, gejala fisik juga bisa terjadi akibat fobia terhadap hantu, antara lain berkeringat, gemetar, kedinginan, mual, detak jantung meningkat dan sesak napas. Karena rasa takutnya yang sangat besar terhadap hantu, pengidap phasmopobia juga akan melakukan berbagai upaya demi menghindari paparan hantu.

Meski begitu, phasmopobia masih belum diakui oleh “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders” (DSM-5), yaitu suatu alat yang digunakan oleh dokter dan profesional kesehatan mental lainnya untuk mendiagnosis kondisi kesehatan mental. Sebaliknya, fobia tersebut kemungkinan didiagnosis sebagai fobia spesifik.

Agar bisa dikatakan mengidap phasmopobia, seseorang harus memenuhi syarat berikut:

  • Ketakutan terus menerus dan berlebihan, yang mengarah pada penghindaran atau penderitaan yang ekstrem.
  • Ketakutan juga harus membatasi hidup dan memengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi di bidang kehidupan seperti sekolah atau pekerjaan.
  • Gejala harus ada selama enam bulan atau lebih dan tidak boleh disebabkan oleh gangguan atau kondisi lain.

Apa Penyebabnya?

Baik faktor genetik dan lingkungan bisa berkontribusi pada perkembangan fobia seperti phasmophobia. Penelitian sudah menemukan bahwa orang yang memiliki anggota keluarga dekat dengan fobia atau jenis gangguan kecemasan lainnya, lebih mungkin untuk mengembangkan fobia.

Selain itu, pengalaman yang membuat stres dan pengaruh sosial juga bisa berperan. Seseorang yang memiliki pengalaman menakutkan yang melibatkan hantu atau rumah berhantu, misalnya, lebih mungkin mengembangkan phasmophobia. Film-film menakutkan dan pengaruh budaya atau agama lain yang berhubungan dengan supranatural juga bisa berperan.

Dampak Phasmopobia yang Merugikan

Fobia terhadap hantu tidak hanya menyusahkan pada saat malam perayaan Halloween saja. Nyatanya, ketakutan akan hantu bisa muncul dalam kehidupan sehari-hari kapan saja dan bisa memberikan dampak merugikan bagi pengidap, antara lain:

  • Tidak bisa sendirian. Pengidap phasmopobia bisa ketakutan bila ditinggal di rumah atau di kantor sendirian, terutama di malam hari.
  • Menghindari ruangan gelap. Pengidap sebisa mungkin akan menghindari kamar gelap, jendela gelap, ruang gelap di bawah tempat tidur, dan lain-lain.
  • Terbayang-bayang gambar menakutkan. Bila tidak sengaja melihat sesuatu yang ada hantu, seperti trailer film, gambar, dan lain-lain, pengidap bisa membayangkan gambar tersebut berulang kali. Hal itu akan meningkatkan kecemasan dan gejala.
  • Kurang Tidur. Karena malam hari sering meningkatkan rasa takut pada hantu, pengidap phasmopobia sering kali kurang tidur yang bisa menurunkan produktivitas di siang hari.

Cara Mengobati Phasmopobia

Sama seperti fobia lainnya, pengobatan phasmopobia juga melibatkan obat-obatan, psikoterapi atau kombinasi keduanya:

  • Obat-obatan

Obat yang sering digunakan untuk mengatasi fobia, seperti phasmopobia, antara lain obat antidepresan dan anticemas. Kedua obat tersebut bisa meredakan reaksi emosional yang berlebihan akibat rasa takut yang dimiliki, dan membantu menghentikan atau mengurangi reaksi fisik, seperti jantung berdebar atau mual. Obat antidepresan dan antikecemasan efektif dalam mengurangi gejala fobia dengan cepat.

  • Psikoterapi

Terapi perilaku kognitif adalah jenis psikoterapi yang paling umum untuk fobia, termasuk phasmophobia. Seorang spesialis kesehatan mental akan bekerja dengan pengidap untuk memahami sumber ketakutan. Selanjutnya membantu mereka mengembangkan mekanisme pertahanan yang bisa diterapkan ketika ia merasakan ketakutan itu meningkat.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: halodoc.com

Ruangan komen telah ditutup.