Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Saksi Pembantaian PKI di Grobogan: Tapol Ditembak di Lubang Kubur

Saksi Pembantaian PKI di Grobogan Tapol Ditembak di Lubang

Slamet, Ketua RT 01/RW 07, Dusun Goprak, Desa Juworo, Geyer, Grobogan, Jawa Tengah menunjukkan lokasi lubang kuburan massal orang-orang PKI. (Murianews/Saiful Anwar)

MURIANEWS, Grobogan – Kisah pilu pembantaian pengikut maupun simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965-1966 juga terjadi di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Peristiwa itu masih melekat diingatan masyarakat. Baik saat pembantaian enam jendral dan satu lettu (letnan satu) dibantai PKI yang kemudian diingat dalam peristiwa Gerakan 30 September PKI (G30SPKI), maupun pembersihan PKI.

Salah satu orang yang masih teringat dengan pembantaian atau juga disebut pembersihan PKI itu Slamet (63), warga Dusun Goprak, Desa Juworo, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan.

Slamet berusia tujuh tahun saat peristiwa pilu itu terjadi. Namun, ayahnya adalah salah satu penggali kubur untuk kuburan masal para pengikut maupun simpatisan PKI.

Ia ingat persis lokasi tempat kuburan masal para tahanan politik (tapol) yang dibantai itu. Lokasinya masih berada di Hutan Gundih, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan.

Dijelaskan, eksekusi itu dilakukan sore hari, sekitar pukul 16.00 WIB. Mereka didorong lebih dulu ke dalam lubang kubur yang disiapkan. Setelah itu, mereka ditembak berkali-kali.

”Kalau nembak ya berkali-kali. Lebih dari 20 kali (nembaknya, red),” kata Slamet.

”Orangnya didorong dulu, baru ditembak di bawah. Kalau ditembak pas masih di atas nanti pelurunya nyasar,” ungkapnya.

Baca: Atas Tragedi PKI yang Menimpanya, Pria asal Pati Ini Berharap Pemerintah Hapus Stigma

Pria yang kini jadi Ketua RT di tempat tinggalnya itu tak melihat langsung proses eksekusi tersebut. Saat itu, ia sedang menggembala sapi tak jauh dari lokasi. Namun, ia mendengar suara tembakan itu.

Lubang-lubang di hutan Geyer setidaknya ada lima lubang. Namun, yang menurut Slamet masih terdapat bekasnya ada tiga lubang.

Jarak di antara tiga lubang itu berdekatan. Masing-masing lubang berukuran kira-kira 3×3 meter dengan kedalaman lebih dari 5 meter.

Lokasi lubang-lubang itu berada di sisi jalan Purwodadi-Solo. Berjarak sekitar 800 meter dari Dusun Goprak.

”Dulu kan sini masih sepi. Jalannya kan juga tidak sebagus sekarang,” kata dia.

Eksekutor pembantaian, kata Slamet, adalah orang-orang berseragam. Saat itu, lanjutnya, warga Goprak hanya diminta membuat lubangnya saja.

”Tidak tahu, hanya disuruh membuat lubangnya saja,” katanya.

 

Reporter: Saiful Anwar
Editor: Zulkifli Fahmi

Ruangan komen telah ditutup.