Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Dinkes Temukan 430 Kasus TBC di Boyolali, Ini Sebarannya

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Boyolali, Teguh Tri Kuncoro. (Solopos/Ni’matul Faizah)

MURIANEWS, Boyolali – Sebanyak 430 kasus tuberkulosis (TBC) ditemukan di Boyolali. Jumlah tersebut merupakan jumlah akumulasi selama delapan bulan sejak Januari hingga Agustus 2022.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Boyolali Teguh Tri Kuncoro mengatakan ratusan kasus TBC tersebut tersebar di beberapa kecamatan. Namun, penemuan terbanyak berada di Kecamatan Andong dengan 30 kasus terungkap dan estimasi ada 137 kasus.

Teguh menjelaskan dari sisi surveilans, penemuan kasus terbanyak adalah sebuah pertanda baik karena semakin banyak masyarakat yang terdeteksi.

”Jangan kesannya itu kecamatan terbanyak ada TBC, bukan. Itu penemuan kasus terbanyak. Ini tentang keaktifan deteksi. Justru kami dari surveilans menganggap itu sebagai prestasi. Jadi, kasus TBC bisa semakin cepat ditangani,” katanya seperti dikutip Solopos.com, Senin (26/9/2022).

Sementara, berdasarkan Data Dinkes Boyolali, Kecamatan Gladagsari masih nol kasus dengan estimasi kasus di daerah tersebut adalah 94 penderita TBC.

Kemudian Kecamatan Selo terestimasi 66 kasus, tapi baru terkuat satu kasus. Kecamatan Ampel diperkirakan Kemenkes ada 90 kasus, baru terkuat dua. Kecamatan Cepogo diperkirakan ada 133 kasus terkuak tujuh kasus.

Kecamatan Musuk diperkirakan 71 kasus telah ditemukan lima kasus. Di Kecamatan Tamansari diprediksi ada 66 kasus baru ditemukan tiga kasus. Data gabungan dari Puskesmas Boyolali I dan II menunjukkan estimasi 154 kasus, dan telah ditemukan 13 kasus.

Selanjutnya, Kecamatan Mojosongo diperkirakan ada 131 kasus dan ditemukan 11 kasus. Di Teras diperkirakan ada 110 kasus dan ditemukan dua kasus. Di Sawit ada 72 kasus dan ditemukan empat kasus.

Gabungan dua Puskesmas Banyudono terdapat perkiraan ada 116 kasus dengan penemuan lima kasus TBC. Di Kecamatan Sambi diperkirakan ada 105 kasus dan ditemukan 10 kasus. Simo diperkirakan memiliki 112 kasus TBC dan baru ditemukan 13 kasus.

Ngemplak memiliki perkirakan tertinggi, yaitu 199 kasus dengan penemuan 16 kasus. Di Nogosari diperkirakan 160 kasus dan telah ditemukan sembilan. Data gabungan dua Puskesmas Klego menunjukkan perkiraan 110 kasus dengan penemuan lima kasus TBC.

Selanjutnya, Karanggede diperkirakan ada 103 kasus dan ditemukan delapan. Kecamatan Kemusu diperkirakan memiliki 77 kasus TBC dan ditemukan 10. Kemudian, Wonosegoro diperkirakan ada 87 kasus dan telah ditemukan lima.

Kemudian Kecamatan Wonosamodro diperkirakan ada 68 kasus dengan penemuan enam. Terakhir di kecamatan paling utara, Juwangi, diperkirakan ada 79 kasus dengan penemuan empat kasus.

”Angka perkiraan di Boyolali ada 2.000 kasus TBC. Itu estimasi dari Kementerian Kesehatan. Tentunya sebelumnya sudah ada penelitian-penelitian yang bisa menunjukkan angka seperti itu,” kata dia.

Untuk meningkatkan penemuan kasus TBC di Boyolali, Teguh menuturkan Dinkes Boyolali mulai mengembangkan program District Public Private Mix, yaitu program yang menggandeng fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta untuk menangani TBC di Boyolali.

Ia mengungkapkan hal tersebut demi memudahkan pendataan kasus TBC, karena masyarakat tak hanya berobat ke fasilitas kesehatan pemerintah tapi juga ke klinik swasta ataupun dokter pribadi.

Lebih lanjut, Teguh mengatakan diagnosa kasus TBC menggunakan alat Tes Cepat Molekuler (TCM).

”Kami di Boyolali baru ada tiga, di RSUD Pandan Arang, Puskesmas Karanggede, dan di RSUD Waras-Wiris. Sayangnya di RSUD Waras Wiris terjadi kerusakan karena pemakaian yang begitu masif, mungkin alatnya kelelahan. Kami sedang panggilkan teknisi dari pusat untuk perbaikan,” kata dia.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Ruangan komen telah ditutup.