Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Bupati Kudus Minta Tarif Angkutan Tak Dinaikkan, Ini Alasannya

Sopir angkot di Kudus menunggu penumpang. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Kudus menyepakati kenaikan tarif angkutan 20-25 persen. Namun Bupati Kudus HM Hartopo justru berharap tidak ada kenaikan tarif angkutan darat.

Hartopo khawatir, kenaikan tarif angkutan ini akan berimbas pada laju inflasi yang tak terbendung di Kota Kretek. Selain itu, para sopir angkot juga akan mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT).

”Sopir angkot kan nanti dapat BLT BBM juga, ya harapannya tidak ada kenaikan lah di sana (tarif angkutan, red),” kata dia Senin (26/9/2022).

Masing-masing sopir angkutan akan menerima BLT sebesar Rp 450 ribu untuk tiga bulan. Yakni bulan Oktober, November, dan Desember.

”Jadi harapannya jangan naik lah, nanti inflasinya makin tidak terkendali,” ujarnya.

Baca: Tarif Angkutan di Kudus Naik 25 Persen

Sementara Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Organda Kudus Mahmudun menilai, kenaikan tarif ini dinilai masih bisa dijangkau dan tidak memberatkan masyarakat di Kabupaten Kudus.

”Jadi misal tarif awalnya Rp 5.000 kemudian dinaikkna jadi Rp 6.500 kami rasa itu masih bisa dijangkau masyarakat Kudus,” ujarnya.

Kenaikan tarif sebesar itu, tambah dia, juga masih sebanding dengan kenaikan harga bahan bakar minyak yang ditetapkan pemerintah.

Apalagi, imbasnya tidak hanya kenaikan harga BBM saja yang meningkat. Melainkan sparepart kendaraan juga akan meningkat dengan kenaikan harga tersebut.

”Kalau Organda Kudus kan hanya mengatur dari angkutan darat dalam kota saja, nah kalau tarif angutan antar kota antar provinsi jadi kebijakan di Provinsi Jateng dan Kementerian,” pungkasnya.

Baca: Kudus Segera Kucurkan BLT BBM untuk UMKM dan Angkot, Segini Nominalnya

Sebagai informasi, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, tingkat inflasi di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, kini sudah melebihi angka inflasi di Provinsi Jateng bahkan nasional. Baik secara tahun kalender maupun year on year, Kudus lebih tinggi.

Adapun, tingkat inflasi Kudus secara tahun kalender adalah sebesar 4,09 persen, sedangkan Jateng 3,87 persen dan nasional 3,63 persen.

Sementara bila dilihat secara year on year, tingkat inflasi Kudus berada di angka 5,06 persen, sedangkan Jateng 5,03 persen dan nasional 4,69 persen.

BPS pun merekomendasikan agar Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bisa segera menjalankan program-program strategis. Utamanya untuk menekan kenaikan harga bahan pokok.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Ruangan komen telah ditutup.