Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Ulama Muhammadiyah Kudus: Permainan Capit Boneka Kategori Judi

Ilustrasi (freepik)

MURIANEWS, Kudus – Ketua Majleis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kudus, Ladun Hakim sepakat tentang permainan capit boneka haram. Terlebih, di dalamnya dinilai terdapat unsur judi.

”Saya setuju bahwa itu masuk di ranah perjudian. Saya pribadi juga sepakat cenderung permainan capit boneka itu haram,” katanya, Sabtu (24/9/2022).

Menurutnya, jika dilihat dari permainan capit boneka tersebut semua yang ingin memainkan harus mengeluarkan modal terlebih dahulu. Namun pada akhirnya ada pihak yang diuntungkan dan yang dirugikan.

”Ada unsur masyir-nya memang. Pedomanya ada di surat Al-Maidah ayat 90 yang artinya: ‘Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntunga,” ujarnya.

Terlebih, sambung dia, permainan capit boneka yang terdapat unsur perjudian di dalamnya akan bisa merusak sisi mental anak yang tengah dalam usia berkembang.

”Di satu sisi itu juga merusak mental anak-anak tang sedang berkembang,” ujarnya.

Baca: NU Purworejo Haramkan Permainan Capit Boneka, Ini Alasannya

Meski demikian, menurutnya, PP Muhammadiyah belum resmi mengeluarkan fatwa terhadap permainan capit boneka tersebut.

”Resmi dari kelembagaan Muhammadiyah belum ada. Yang sudah ada itu pendapatnya Pak Wawan Gunawan dari unsur tim Fatwa Tajrih dari PP Muhammadiyah,” jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Purworejo mengharamkan permainan capit boneka atau claw machine.  Pasalnya, permainan cepit boneka tersebut dinilai mengandung unsur perjudian.

Fatwa haram tersebut setelah PCNU Purworejo melalui Lembaga bahtsul Masail NU Purworejo membahasnya dalam rutinan selapanan Sabtu Legi (17/9/2022) lalu.

 

Reporter : Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Ruangan komen telah ditutup.