Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

BBM Naik, Omzet Pertashop di Pati Malah Terjun Bebas

BBM Naik, Omset Pertashop di Pati Malah Terjun Bebas
Petugas di salah satu Pertashop di Kabupaten Pati melayani konsumen. (Murianews/Umar Hanafi)

MURIANEWS, Pati – Pengusaha Pertashop di Kabupaten Pati ikut terdampak dengan adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Omzet mereka mengalami penurunan drastis alis terjun bebas.

Salah satu pengusaha Pertashop Sudardi mulai merasakan dampak kenaikan BBM sejak kenaikan harga pertamax pada April lalu. Dan semakin terasa setelah kenaikan BBM pada awal September ini.

”Omzet kami awalnya mampu menjual 800 -900 liter perhari sekarang tinggal 200 liter. Anjlok 75 persen. Saat ini kami sampai kesulitan menggaji karyawan. Sampai mengurangi jumlah operator dari enam menjadi empat orang saja,” ujar dia.

Baca: Bisnis Pertashop, Ini Syarat dan Modal yang Dibutuhkan

Ia menduga penurunan omzet ini lantaran jumlah konsumen Pertamax semakin menurun pasca kenaikan BBM. Kenaikan harga BBM membuat masyarakat lebih memilih menggunakan Pertalite.

Selisih harga antara Pertalite dan Pertamax dinilai terlalu tinggi. Imbasnya, masyarakat yang mulanya menggunakan Pertamax beralih menggunakan Pertalite. Saat ini selisih harga antara dua jenis BBM ini mencapai Rp 4500 per liter.

”Kalau tidak bisa melakukan penyesuaian disparitas, maka izinkan kami berjualan pertalite. Karena pangsa pasar kami sebenarnya memang menengah ke bawah. Banyak pelanggan justru pekerja pasar, buruh bangunan, petani, di mana yang menggunakan sepeda motor,” kata Sudardi yang mempunyai tiga Pertashop di Pati ini.

Hal yang sama juga dirasakan Jengkar Tundung Janu Prihantoro. Pengelola Pertashop Desa Karaban, Kecamatan Gabus itu menyebut omzetnya hancur total.

Sebelum kenaikan harga pada bulan April, dia mampu menjual 1.400 hingga 1.500 liter perharinya, kini hanya mencapai 400 sampai 500 liter saja perharinya.

”Penurunannya mencapai 70 persen sendiri. Saat ini kami hanya mampu mempertahankan karyawan. Hanya untuk kemanusiaan saja,” ucap dia.

Dia pun berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan selisih harga itu kembali. Menurutnya, ideal selisih antara pertalite dan pertamax hanya Rp 2 ribu.

 

Reporter: Umar Hanafi
Editor: Zulkifli Fahmi

Ruangan komen telah ditutup.