Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Tak Ada Hujan atau Angin, Rumah Warga Sragen Mendadak Ambruk

Kondisi rumah warga di Dukuh Ngagel, Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, ambruk lantaran struktur bangunan lapuk pada Jumat (16/9/2022). (Istimewa/Paryanto)

MURIANEWS, Sragen – Warga Dukuh Ngagel, Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sragen dibuat heboh dengan ambruknya rumah milik Syafrudin (52). Pasalnya rumah tersebut tiba-tiba roboh sementara cuaca di area tersebut cerah dan tidak ada hujan ataupun angin.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen, Agus Cahyono, mengatakan kejadian tersebut terjadi Jumat (16/9/2022) kemarin. Ia menduga, ambruknya rumah tersebut lantaran struktur bangunan yang lapuk.

”Rumah itu diketahui milik Syafrudin di Dukuh Ngagel RT 1, Sribit, yang dihuni lima orang. Selama rumah Syafrudin belum berdiri, keluarga itu mengungsi ke rumah saudara yang berdekatan dengan rumah mereka,” katanya seperti dikutip Solopos.com.

Ia menyebutkan rumah tersebut ambruk sekitar pukul 10.55 WIB. Awalnya, dari dalam rumah terdengar suara bambu yang patah karena tidak kuat menahan beban struktur bangunan.

”Saat mendengar itu, pemilik rumah sadar rumah mau roboh. Pemilik rumah berusaha lari ke luar rumah untuk menyematkan diri. Selang beberapa saat rumah roboh. Jadi rumah roboh itu tidak ada angin dan tidak ada hujan. Robohnya rumah karena struktur bangunan yang sudah lapuk,” ujar dia.

Agus menerangkan rumah itu berukuran 5 meter x 6 meter dalam kondisi rusak berat dan tidak bisa ditinggali. Sejumlah perabot rumah di dalam otomatis rusak karena tertimpa material bangunan.

Dia menyebut kerugian material diperkirakan Rp 5 juta karena strukturnya terdiri atas kayu dan bambu. Dia mengatakan BPBD sudah memberikan bantuan baik pangan maupun non pangan kepada keluarga korban.

Camat Sidoharjo, Agus Tri Pranoto, menjelaskan pemerintah desa setempat sudah memberi bantuan stimulan senilai Rp 2,5 juta.

Para warga sekitarnya, kata dia, juga bergotong-royong menghimpun dana untuk membantu korban. Camat mengatakan dari pemerintah kecamatan berupaya mengajukan bantuan bedah rumah tidak layak huni ke Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan (UPTPK) melalui Dinas Sosial.

”Korban ini termasuk keluarga miskin karena masuk dalam data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS). Setiap bulannya juga mendapatkan bantuan pangan non tunai (BPNT). Keluarga ini termasuk produktif karena suami istri bekerja,” ujarnya.

Agus menerangkan semula ketua RT setempat sudah mengkoordinasi warga untuk bergotong-royong merehab rumah korban yang kondisinya sudah lapuk. Dia mengatakan belum sempat rumah direhab warga ternyata sudah ambruk dulu.

”Sebenarnya kondisi rumah seperti itu di Sidoharjo tidak banyak berbeda saat saya bertugas di Gesi,” kata dia.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Ruangan komen telah ditutup.