Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Dolan ke Jogja, Jangan Pulang Dulu Sebelum Mencicipi Makanan Khas yang Legendaris Ini!

Dolan ke Jogja, Jangan Pulang Dulu Sebelum Mencicipi Makanan Khas Ini!
Foto: Keraton Yogyakarta (kratonjogja.id)

MURIANEWS, Yogyakarta – Yogyakarta dikenal sebagai salah satu jujugan wisatawan domestik dan mancanegara. Hal ini tidak mengherankan karena banyak sekali destinasi wisata yang ada di Jogja, mulai dari wisata alam, sejarah, keraton, budaya, dan religi.

Selain itu, Jogja juga punya banyak kuliner khas. Nah, saat dolan ke Jogja, tidak lengkap rasanya jika belum mencicipi makanan khas yang ada di sana.

Sedikitnya, ada tiga makanan khas yang wajib dicicipi sebelum pulang. Berikut daftarnya, seperti dikutip dari Indonesia.travel.

Baca juga: Mengunjungi Desa Wisata Brajan di Yogyakarta, Jadi Pusat Kerajinan Bambu Kelas Dunia

Bakpia

Foto: Bakpia (sibakuljogja.jogjaprov.go.id)

Wisatawan yang pergi ke Yogyakarta kebanyakan memilih bakpia sebagai salah satu buah tangan untuk orang terdekat. Tapi tahukah kamu jika bakpia adalah kue yang berasal dari China?

Diambil dari kata bak yang artinya daging babi dan pia yang merupakan kue terbuat dari tepung. Jadi dapat diartikan bakpia adalah kue yang terbuat dari tepung berisi daging babi.

Karena di Indonesia sebagian besar masyarakatnya beragama Islam, bakpia yang semula isiannya daging babi kemudian diganti menjadi kacang hijau. Pada awalnya, bakpia dijual dibesek dan belum mempunyai merek.

Kini bakpia yang dijual di Yogyakarta sebagian besar sudah bermerek. Uniknya, merek bakpia rata-rata memakai angka, seperti Bakpia 25, Bakpia 75, dan Bakpia 35.

Umumnya ada dua jenis bakpia yang dijual dipasaran, bakpia basah dan bakpia kering. Bakpia basah memiliki kulit yang lembab dan basah, sedangkan bakpia kering kulitnya lebih garing dan renyah.

Untuk masa penyimpanan bakpia basah biasanya hanya tahan 4-5 hari, sedangkan bakpia kering bisa sampai 10 hari. Seiring berkembangnya zaman, sekarang muncul pula bakpia kukus dengan berbagai varian rasa.

Geplak

Foto: Geplak khas Jogja (wikipedia.org)

Ada satu lagi camilan khas dari Yogyakarta yang jadi favorit wisatawan untuk dibawa pulang sebagai buah tangan untuk orang tersayang, yaitu geplak. Geplak terbuat dari parutan kelapa dan gula pasir atau gula jawa.

Awalnya geplak dibuat sebagai pengganti makanan pokok di Yogyakarta karena banyaknya tanaman tebu dan pohon kelapa yang tumbuh di wilayah Bantul, Yogyakarta. Namun seiring berjalannya waktu, kini geplak lebih populer dijadikan sebagai oleh-oleh khas dari Yogyakarta.

Rasanya manis, gurih, dan bervariasi, yakni rasa stroberi, durian, cokelat, dan pandan. Harganya sangat terjangkau, hanya Rp 10.000 sampai Rp 25.000 tergantung merek dan kemasan. Ada yang dikemas dengan besek maupun dengan kertas mika berbagai ukuran. Tak perlu khawatir kehabisan karena geplak sangat mudah ditemui di semua toko pusat oleh-oleh Yogyakarta, di pasar, terminal, stasiun, maupun bandara.

Gudeg

Foto: Nasi Gudeg khas Jogja (wikipedia.org)

Makanan khas Yogyakarta yang menempati urutan pertama dan wajib dicoba adalah gudeg. Ya, makanan yang terbuat dari gori atau nangka muda ini biasanya disantap bersama

lauk pendamping seperti tempe atau tahu bacem, ayam atau telur, lengkap dengan krecek, dan terakhir disiram dengan kuah areh atau santan kental berbumbu.

Konon kabarnya, gudeg yang menjadi ikon kuliner Yogyakarta ini sudah ada sejak abad ke-15.

Kala itu Kerajaan Mataram Islam sedang dalam tahap pengembangan di alas Mentaok yang masih berupa hutan belantara. Ratusan prajurit diturunkan untuk membuka lahan dengan menebang pohon yang ada di kawasan tersebut. Kebanyakan pohon yang ditebang adalah pohon kelapa dan pohon nangka.

Para prajurit lalu mencoba mengolah nangka menjadi santapan yang nikmat, lantas  dipilihlah nangka muda.

Olahan nangka muda ini dimasak dalam wadah besar. Pengaduk yang digunakan pun ukurannya besar dan panjang menyerupai dayung perahu. Proses memasaknya dinamakan ‘hangudek’. Inilah yang menjadi cikal bakal munculnya nama ‘gudeg’.

Pada mulanya gudeg yang muncul di Yogyakarta adalah jenis gudeg basah. Jenis gudeg ini menggunakan kuah areh atau santan bertekstur kental dan berminyak sehingga membuat gudeg terkesan basah.

Gudeg basah sangat nikmat apabila disajikan dengan sepiring nasi hangat. Anda  bisa membeli gudeg basah di Gudeg Tugu, Gudeg Mba Lindu atau Gudeg Permata yang terkenal di Yogyakarta.

Jika tertarik menjadikan gudeg sebagai oleh-oleh, sebaiknya pilih gudeg kering karena lebih tahan lama. Beberapa gudeg kering yang bisa kamu beli di antaranya Gudeg Yu Djum, Gudeg Pawon, atau Gudeg Bu Tjitro yang disajikan dalam kemasan kaleng sehingga bisa dibawa ke mana saja.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: indonesia.travel

Ruangan komen telah ditutup.