Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Perhatian! Saat Batuk Jangan Asal Minum Antibiotik, Begini Penjelasannya

Perhatian! Saat Batuk Jangan Asal Minum Antibiotik, Begini Penjelasannya
Foto: Ilustrasi orang sakit batuk (freepik.com)

MURIANEWS, Kudus – Batuk adalah salah satu penyakit gangguan pernapasan. Sakit batuk ini dialami hampir semua orang, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Saat terkena batuk ini terkadang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasalnya, batuk bisa membuat tenggorokan gatal, sulit menelan sehingga menimbulkan rasa yang tidak nyaman.

Batuk ini terkadang bisa hilang dengan sendirinya selang beberapa hari. Namun, adakalanya batuk ini susah hilang hingga berminggu-minggu dan perlu diperiksakan ke dokter.

Baca juga: Ini Perbedaan Batuk TBC dan Batuk Biasa yang Penting Diketahui

Melansir dari Hello Sehat, untuk mengatasi batuk yang disebabkan oleh infeksi bakteri, dokter bisa meresepkan antibiotik. Sayangnya, sebagian orang masih keliru dengan menganggap obat ini manjur untuk segala jenis batuk. Lantas, batuk seperti apa yang boleh diobati dengan antibiotik?

Kenapa minum antibiotik untuk batuk kurang tepat?

Batuk merupakan refleks tubuh yang muncul saat saluran pernapasan atau tenggorokan mengalami iritasi akibat debu maupun kuman.

Pilek, flu, dan bronkitis akut merupakan penyebab batuk yang umum terjadi. Ketiga kondisi ini disebabkan oleh infeksi virus sehingga kurang tepat bila Anda obati dengan antibiotik.

Pada dasarnya, antibiotik berfungsi untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Obat ini bekerja dengan cara membunuh bakteri atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya di dalam tubuh Anda.

Sebuah studi dari American Academy of Family Physicians menunjukkan bahwa minum obat antibiotik tidak lebih efektif untuk mengurangi durasi batuk akibat bronkitis akut.

Itu berarti, kebanyakan batuk umumnya bisa sembuh sendiri. Membeli antibiotik tanpa resep hanya akan memicu timbulnya efek samping yang lebih serius.

Batuk seperti apa yang boleh diobati dengan antibiotik?

Dokter hanya akan memberikan resep obat antibiotik bila Anda didiagnosis terkena batuk yang disebabkan oleh infeksi bakteri, misalnya pada kasus batuk rejan, pneumonia, dan tuberkulosis.

Antibiotik untuk batuk mungkin perlu Anda konsumsi dalam waktu singkat maupun panjang. Berapa lama pun durasinya, yang terpenting adalah untuk selalu mengikuti anjuran dari dokter.

Anda sebaiknya minum obat antibiotik sampai habis untuk menghentikan infeksi sepenuhnya. Menghentikan penggunaan antibiotik tanpa anjuran dokter mungkin membuat bakteri masih tersisa dalam tubuh. Lantas, bakteri ini bisa bermutasi sehingga kebal terhadap antibiotik tertentu.

Kondisi yang disebut resistensi antibiotik ini bisa membuat obat tak lagi ampuh untuk mengatasi penyakit yang sama pada kemudian hari.

Selain itu, hindari juga berbagi atau minum obat antibiotik yang diresepkan untuk orang lain. Pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter atau apoteker bila memiliki pertanyaan seputar antibiotik untuk batuk.

Efek samping minum antibiotik sembarangan untuk batuk

Sebagian kalangan mungkin akan langsung minum antibiotik untuk mengatasi batuk. Salah satu jenis obat yang umum digunakan yakni amoxicillin.

Amoxicillin merupakan obat golongan antibiotik penicillin untuk mengobati infeksi bakteri. Gejala batuk yang disebabkan oleh pneumonia umumnya diobati dengan obat ini.

Beberapa efek samping amoxicillin yang umum dan ringan antara lain diare, sakit perut, sakit kepala, pusing, mual dan muntah, serta susah tidur (insomnia).

Penggunaan antibiotik secara sembarangan juga bisa menyebabkan resistensi antibiotik. Selain itu, berikut sejumlah efek samping serius yang dapat terjadi akibat penggunaan antibiotik untuk mengobati batuk.

1. Reaksi alergi

Konsumsi antibiotik penicillin berisiko menimbulkan reaksi alergi ringan hingga sedang, seperti kulit kemerahan, gatal, bentol. Antibiotik juga bisa memicu reaksi alergi parah atau anafilaksis. Kondisi ini bisa memicu gejala berupa pembengkakan pada wajah dan bibir, peningkatan detak jantung, sesak napas, hingga pingsan.

Jika tidak segera ditangani, anafilaksis bisa membahayakan nyawa. Penting untuk segera memperoleh pertolongan darurat bila Anda mengalami reaksi alergi parah setelah minum antibiotik.

2. Infeksi Clostridium difficile

Amoxicillin untuk batuk dalam jangka panjang juga memicu risiko infeksi Clostridium difficile. Clostridium difficile (C. Diff) merupakan sejenis bakteri yang dapat menyebabkan diare hingga peradangan usus besar yang berbahaya.

Infeksi bakteri ini ditandai dengan gangguan pencernaan seperti diare, BAB berdarah, sakit perut, mual, dan muntah. Selain itu, Anda juga bisa mengalami dehidrasi serta penurunan berat badan.

Tips aman mengobati batuk di rumah

Gejala batuk yang disertai dengan pilek atau flu pada umumnya akan sembuh sendiri dalam waktu kurang dari seminggu. Untuk meredakan gejalanya, Anda bisa minum obat batuk nonresep, misalnya obat supresan atau antitusif untuk batuk kering dan ekspektoran untuk batuk berdahak.

Selain itu, Anda juga perlu memperbanyak istirahat, minum air putih, dan berhenti merokok untuk meningkatkan kembali sistem kekebalan tubuh dalam melawan virus.

Antibiotik untuk batuk secara umum tidak direkomendasikan, terkecuali bila Anda memperoleh diagnosis tuberkulosis, bronkitis, atau penyakit pernapasan lainnya yang disebabkan oleh infeksi bakteri.

Meski bisa sembuh sendiri, Anda perlu segera konsultasi dengan dokter bila gejala batuk makin parah atau tak kunjung membaik lebih dari tiga minggu. Diagnosis lebih awal membuat pengobatan lebih efektif sehingga tubuh bisa pulih lebih cepat.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: hellosehat.com

Ruangan komen telah ditutup.