Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Ini Pengertian Indikasi, Kontraindikasi dan Efek Samping yang Tertera dalam Kemasan Obat

Ini Pengertian Indikasi, Kontraindikasi dan Efek Samping yang Tertera dalam Kemasan Obat
Foto: Ilustrasi obat kemasan (Steve Buissinne dari Pixabay)

MURIANEWS, Kudus – Hampir semua orang pernah mengonsumsi obat, khususnya obat dalam kemasan. Baik itu dari resep dokter maupun yang dijual bebas di apotek dan toko obat.

Dalam kemasan obat itu biasanya terdapat banyak tulisan. Misalnya, indikasi, kontraindikasi, kandungan atau komposisi, efek samping, tanggal produksi dan batas kedaluwarsa hingga aturan minumnya.

Di antara tulisan tersebut, ada beberapa yang belum dimengerti dengan baik meski sudah dibaca. Terutama mengenai kontraindikasi, indikasi dan efek samping.

Baca juga: Ini Beragam Bahan Alami yang Bisa Jadi Pilihan untuk Obati Sinusitis

Padahal pengetahuan tentang masalah ini perlu dimiliki. Sebab, jika sembarangan minum obat justru bisa berdampak buruk pada kesehatan.

Nah, biar lebih paham berikut ini pengertian tentang beberapa tulisan dalam kemasan obat, dilansir dari Hello Sehat, Senin (12/9/2022).

kontraindikasi

Kontraindikasi adalah suatu kondisi, penyakit, atau situasi yang membuat Anda tidak disarankan atau tidak boleh sama sekali untuk menjalani pengobatan tertentu.

Tidak hanya berlaku dalam penggunaan obat, larangan ini juga dapat ditemukan pada beberapa prosedur medis lain, seperti operasi, pijat, dan pemeriksaan MRI.

Jika dipaksakan, kondisi ini dapat berdampak buruk bagi Anda. Tidak hanya berpotensi memperparah penyakit, pengobatan dengan mengabaikan potensi bahaya ini bahkan bisa menyebabkan kematian.

Apa saja jenis-jenisnya?

Kontraindikasi terbagi ke dalam dua jenis. Setiap jenis memiliki tingkat peringatan dan risiko yang berbeda sehingga wajib diperhatikan dengan baik.

1. Kontraindikasi relatif

Kontraindikasi relatif adalah kondisi yang membuat pengobatan tertentu tidak disarankan, tetapi masih boleh dilakukan dengan pengecualian. Penggunaan obat atau prosedur medis masih boleh dilakukan apabila manfaat yang didapatkan masih jauh lebih besar dari risikonya.

Perhatian ini juga dapat diberikan sebagai bentuk kehati-hatian terhadap dua macam pengobatan yang dilakukan secara bersama. Sebagai contoh, salah satu larangan ibu hamil yaitu tidak boleh menjalani pemeriksaan rontgen. Pasalnya, rontgen saat hamil dapat menyebabkan kerusakan pada sel janin.

Namun, jika ibu hamil memiliki masalah serius pada organ dalam yang berisiko menyebabkan komplikasi pada dirinya dan janin, pemeriksaan rontgen boleh dilakukan.

2. Kontraindikasi absolut

Kontraindikasi absolut adalah kondisi yang membuat Anda mutlak tidak boleh menjalani pengobatan tertentu. Jika diabaikan, pengobatan tersebut malah akan membahayakan nyawa.

Contohnya, ibu hamil tidak boleh mengonsumsi obat isotretinoin karena dapat menyebabkan bayi lahir prematur, cacat, meninggal dalam kandungan, atau keguguran.

Melihat efek yang bisa ditimbulkan, penting untuk memahami larangan tertentu sebelum minum obat atau menjalani prosedur medis. Jika Anda mengalami kesulitan, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter.

Larangan medis dapat bersifat sementara

Dalam beberapa kasus, kontraindikasi dapat bersifat sementara. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), larangan medis yang bersifat sementara ini biasa ditemukan dalam kegiatan vaksinasi.

Seperti yang kita ketahui, orang dengan tekanan darah melebihi 180/110 mmHg tidak boleh menerima vaksin COVID-19. Begitu pula jika suhu tubuh Anda lebih dari 37,5 derajat Celsius. Namun, apabila suhu tubuh dan tekanan darah Anda sudah dalam batas normal, vaksinasi nantinya boleh diberikan.

Hal ini menjadi contoh bahwa larangan medis tertentu dapat bersifat sementara. Maka dari itu, Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter sebelum menggunakan obat atau menjalani prosedur medis tertentu.

Beda indikasi dan kontraindikasi

Indikasi merupakan kebalikan dari kontraindikasi. Istilah ini menjelaskan kondisi, gejala, atau penyakit apa saja yang membuat seseorang boleh menggunakan obat atau menjalani prosedur medis tertentu.

Sebagai contoh, demam, nyeri ringan, atau kram menstruasi bisa diredakan dengan ibuprofen. Ibuprofen boleh dipakai karena memang diindikasikan/ditujukan untuk mengatasi kondisi-kondisi tersebut.

Sementara itu, salah satu kontraindikasi ibuprofen adalah asma. Artinya, pengidap asma tidak disarankan menggunakan ibuprofen untuk mengatasi kondisi serupa karena bisa memicu kekambuhan.

Beda kontraindikasi dan efek samping

Kontraindikasi dan efek samping obat sering memicu kesalahpahaman. Beberapa orang menganggap keduanya sebagai hal yang sama.

Efek samping adalah reaksi tak terduga yang berpotensi muncul dari penggunaan obat atau prosedur medis tertentu. Hal ini juga bisa terjadi akibat interaksi dengan suatu obat atau makanan.

Sebagai contoh, konsumsi ibuprofen dapat menyebabkan efek samping seperti diare, heartburn, mual, dan sesak napas. Namun, efek yang muncul mungkin akan berbeda pada setiap orang.

Berbeda dengan larangan medis yang menekankan bahwa konsumsi obat ibuprofen pada pengidap asma sudah teruji klinis dapat menyebabkan kekambuhan.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: hellosehat.com

Ruangan komen telah ditutup.