Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Haruskah Anak Menuruti Semua Keinginan Orang Tua? Berikut Penjelasannya

Haruskah Anak Menuruti Semua Keinginan Orang Tua? Berikut Penjelasannya
Foto: Ilustrasi (Myriams-Fotos dari Pixabay)

MURIANEWS, Kudus – Semua orang tua pasti akan berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Para orang tua juga mengharapkan agar anaknya bisa sukses di dunia dan akhirat.

Meski demikian, perilaku orang tua terhadap anak itu berbeda-beda. Di mana, ada orang tua yang menginginkan agar sang anak menuruti semua keinginannya.

Mereka beranggapan jika keinginan itu pasti akan berdampak baik pada anaknya. Bahkan, sebagian orang tua yang melarang anaknya untuk membatah apalagi menyampaikan usul diluar keinginannya.

Baca juga: Doa-Doa yang Dibaca saat Anak Masih dalam Kandungan

Lantas, haruskah seorang anak menuruti semua keinginan orang tua? Bagaimana menyikapi masalah ini?

Melansir dari laman NU Online, terkait hal ini, Kepala Pusat Studi Gender dan Anak Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara Santi Andriyani mengungkapkan, keinginan orang tua agar anaknya menurut itu kurang tepat.

”Kata nurut kalau bagi saya kurang pas karena ketika berbicara tentang anak itu memiliki perkembangan yang bermacam-macam, tidak hanya sekedar nurut saja. Sehingga sebagai orang tua perlu memahami kecerdasannya masing-masing dan potensi masing-masing anak,” terang Santi, Ahad (11/9/2022) malam.

Santi menyebut bahwa seorang anak bukan dituntut melakukan sesuatu. Tapi, didorong dan difasilitasi sesuai tumbuh kembangnya dan dimulai sejak kecil.  Bahkan, jika berkaitan dengan perkembangan anak maka mulai dari prenatal sudah harus diberikan treatment dan edukasi.

”Orang tua dapat mendidik anak menjadi saleh salehah dan berakhlak baik, bukan mendidik untuk menjadi anak yang menurut saja. Nyai Nafisah Sahal pernah mengatakan bahwa ada tirakat yang bisa dilakukan orang tua untuk anaknya agar menjadi putra-putri yang saleh salehah,” jelasnya.

Ia melanjutkan, seperti puasa pada saat weton anak, berdoa dengan membaca al-Fatihah sebanyak 100 kali, bisa juga dengan membaca doa khusus agar menjadi anak yang saleh.

Doa untuk menjadi anak yang saleh menurut KH Arwani adalah: Rabbana hablana min azwajina wadzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama, yang dibaca 3x setelah selesai shalat fardhu.

Arti dari doa tersebut adalah, Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa.

Santi berpesan agar orang tua terus melakukan tirakat untuk anaknya. Jangan fokus untuk mendidik anak menjadi penurut. Tapi, lebih kepada mendidik anak menjadi anak yang saleh salehah dan berakhlakul karimah.

Artikel theasianparent menyebutkan, bahwa anak penurut yang dipandang sebagai hasil sukses asuhan orang tua ternyata tidak sepenuhnya benar. Anak yang selalu patuh kepada orang tua justru kehilangan kepribadiannya.

Memiliki anak penurut ternyata tidak selalu berdampak baik terutama dalam perkembangan mental anak. Dampak negatif anak penurut antara lain tidak mampu membuat keputusan, minder atau tidak percaya diri, cenderung pasif, lebih bergantung kepada orang tua, berisiko menjadi korban perundungan, patuh untuk mendapat kasih sayang, hubungan anak dan orang tua hanya sekedar kepatuhan, dan jadi anak pemberontak.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: nu.or.id

Ruangan komen telah ditutup.