Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Editorial

Sukun Tour de Muria 2022 dan Kerinduan Pada Balapan Sepeda Jalan Raya

Budi Santoso ([email protected])

Dalam sepekan mendatang, sebuah event balapan sepeda jalan raya akan digelar. Balapan ini bertitel ‘Sukun Tour de Muria 2022’. Sebuah event balapan sepeda jalan raya terbaru yang pernah digelar. Even ini akan digelar pada 14 September 2022 ini.

Meski hanya menempuh jarak sekitar 150 km memutari wilayah-wilayah sekitar gunung Muria di tiga kabupaten (Kudus-Jepara-Pati-Kudus), event ini tetaplah ditunggu-tunggu. Apalagi nomor jalan raya sudah lama tidak memiliki event yang konsisten penyelenggaraannya.

Pihak panitia menempatkan ajang balapan ini sebagai bagian dari ‘pemanasan’ untuk Tour de Borobudur yang juga akan segera digelar tahun 2022 ini. Banyak ekspetasi yang tentunya dipatok di ajang balapan sepeda jalan raya ini.

Inisiatif PT Sukun Wartono Indonesia, Kudus, sebagai sponsor tunggal di ajang ini tentu layak mendapatkan apresiasi. Di tengah sepinya event sepeda jalan raya, salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia ini masih memberikan ‘perhatian’ bagi dunia balap sepeda jalan raya.

Meski dalam skup kecil, balapan ini tetap akan memberi gairah bagi para pembalap dan pembina balap sepeda jalan raya. Lebih jauh even ini juga akan ‘dibungkus’ dalam sebuah kegiatan sport tourism. Sehingga dampak sekecil apapun diharapkan bisa memberi manfaat bagi masyarakat. Baik dari sisi ekonomi, wisata, atau aspek lain, sekecil apapun.

BACA JUGA: Sukun Tour De Muria 2022, Even yang Sempat Tertunda

Jauh sebelum istilah ‘Sport-tourism’ ada, semua event olah raga termasuk balapan sepeda jalan raya, sudah pasti memberi dampak. Sekecil apapun dampak ini akan dirasakan oleh masyarakat. Demikian pula di arena Sukun Tour de Muria 2022, hal itu pasti akan terjadi.

Event ini, sekaligus akan menjadi sebuah ‘obat rindu’ bagi para penggemar balapan sepeda jalan raya. Masyarakat sudah lama tidak mendapatkan ‘sajian’ mengenai aroma persaingan di jalan raya yang menegangkan dan penuh perjuangan oleh para pembalap sepeda.

Bagi para penggemar olah raga balapan sepeda, nomor jalan raya adalah sebuah ‘petualangan’ tersendiri. Pada beberapa tahun  terakhir, balapan sepeda jalan raya atau road bike seperti mati suri. Keberadaanya tenggelam dengan nomor baru di cabang olah raga sepeda, BMX atau Down Hill.

Tour de France adalah salah satu balapan road bike paling masyur di dunia. Di Indonesia, perlombaan ‘kuat-kutan’ menggenjot pedal di Prancis itu pernah diadaptasi dalam beberapa kejuaraan balap sepeda, dalam format yang sama.

Beberapa even balapan yang diilhami Tour de France yang tersohor itu sempat muncul. Kita tentu ingat dengan Tour de ISSI, Tour de Java, atau Tour de Indonesia. Semua merupakan even balapan sepeda yang sangat menyita perhatian publik pada zamannya.

BACA JUGA: Sukun Tour De Muria 2022 Akan Jadi Sport Tourism

Dari sekian even itu, paling akhir yang pernah digelar adalah Tour de Indonesia. Dari literatur yang ada, adu balap sepeda di jalan raya ini dimulai pada 2003. Saat itu, panitia balapan menggandeng sponsor salah satu rokok terkenal di Indonesia.

Tour de Indonesia sendiri merupakan event balapan yang masuk dalam kalender UCI ((Union Cycliste International) atau Federasi Olah raga Sepeda Dunia. Balapan ini terakhir di gelar pada 2019 dengan menempuh jarak 825 km dengan 5 etape, dari Borobudur Jawa Tengah menuju Batur, Bali.

Di Jawa Tengah, event balapan sepeda jalan raya yang masih cukup konsisten digelar adalah Tour de Borobudur. Event ini sudah 19 kali digelar, dan akan segera digelar kembali tahun 2022 ini. Namun balapan ini belum masuk kalender UCI.

Dalam beberapa dekade lalu, saat Tour de Indonesia, atau event lain sebelumnya digelar, seperti Tour de ISSI atau Tour de Java, ada banyak nama pembalap yang cukup dikenal. Pada 1992, Indonesia memiliki Tulus Widodo Kalimanto (sprint) dan Herry Janto Setiawan (Time Trial). Mereka mampu bersaing di level Asia.

Kemudian Agus Yulianto, juga mampu memberi warna di persaingan Kejuaraan Asia. Pada 2002 dan 2004, dia pernah menjadi salah satu yang terbaik di trek nomor elimination race. Lalu Bernard van Aert juga mampu berbicara di kancah Asia, pada nomor scratch.

BACA JUGA: Sukun Tour De Muria, Even Road Bike Baru Akan Digelar

Di sektor putri, Indonesia juga pernah mendengar nama Uyun Muzizah dan Nurhayati yang fenomenal. Lainnya, kita juga pernah mendengar nama Fanny Gunawan dan Tonton Susanto. Mereka adalah atlet-atlet sepeda jalan raya hebat yang pernah dimiliki Indonesia.

Sukun Tour de Muria 2022, tentu saja belumlah apa-apa mengingat event ini baru pertama kali digelar. Selain itu skala kejuaraan ini harus dikatakan masih terbatas. Namun, ada banyak harapan yang bisa disematkan di event yang diprakarsai oleh PT Sukun Wartono Indonesia, Kudus ini.

Para penggemar sepeda jalan raya tentu saja berharap, event ini bisa terus konsisten digelar dan dikembangkan skala pelaksanaanya. Di masa-masa mendatang, event ini tentu saja diharapkan bisa menjadi lebih besar dan kalau memungkinkan bisa ‘go internasional’.

Sehingga dari event ini akan muncul pembalap-pembalap sepeda jalan raya yang mampu berbicara di level internasional. Menjadi kebangaan bangsa dan negara. Menyumbangkan prestasi gemilang untuk Indonesia.

Kita semua menungggu tentu saja.

 

 

 

Ruangan komen telah ditutup.