Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Opini

Buku, Kursi Malas, Andong

Bandung Mawardi*)

KITA mengenang dengan buku. Ingat tokoh, ingat buku. Sosok itu bernama YB Mangunwijaya atau Romo Mangun (6 Mei 1929-10 Februari 1999). Kita mengingat tanggal kematian itu berurusan buku.

Cara pamitan terindah. Romo Mangun dalam acara memikirkan buku di Indonesia. Ia sodorkan tulisan memuat pesan-pesan dan sekian peringatan. Tulisan (mungkin) terakhir dipersembahkan untuk Indonesia. Romo Mangun hadir dalam simposium bertema buku di Jakarta, 10-11 Februari 1999. Di sana, hadir pula para tokoh penting dan berpengaruh dalam perbukuan di Indonesia.

Tulisan dan kematian indah itu masih berjejak bagi pembaca Buku dalam Indonesia Baru (1999) dengan editor Alfons Taryadi. Buku memuat tulisan-tulisan bersumber dari simposium.

Kita membaca lagi tulisan dan mengenang Romo Mangun. Pembaca mendapat pengandaian peristiwa dan ibarat: “Memang, buku menikmatkan pembaca dalam kursi malas di samping secangkir kopi dan kue keripik. Tanpa terikat oleh kursi kaku yang mengharuskan orang duduk tegak dengan mata yang pedas karena dibom terus-menerus oleh elektron-elektron yang beterbangan dari layar kaca.”

Kita mudah mengerti masalah buku, kursi, dan minuman. Konon, orang duduk membaca buku itu kenikmatan atau kemanjaan dengan sangkaan terjadi pada masa lalu saja.

Romo Mangun belum rampung mengajak kita berimajinasi: “Buku bagaikan andong atau dokar yang ditarik kuda dengan lonceng-lonceng kecil yang berdenting merdu bagi orang-orang yang sedang bernostalgia ke tempo dulu van voor de oorlog, ketika nasi gudeg seperseratus rupiah sudah berlauk seiris telur rebus, ketika sepeda rakyat hanya 25 rupiah harganya; dan negeri serba tenteram dan damai, maling pasti tertangkap, dan barang curian pasti ditemukan polisi dan dikembalikan tanpa tebusan satu sen pun kepada pemilik. Elok dan antik, artinya berharga akan tetapi kini dokar mustahil dipakai sebagai kendaraan antar-kota.”

Ia mengartikan buku tapi malah memberi beragam hal, tak lupa mengikutkan sindiran dan sejenis “sesalan” atas masa-masa berlalu. Buku tak mudah diartikan sederhana dan pendek.

Kita mengetahui Romo Mangun itu pencerita. Kalimat-kalimat dalam artikel mengajak pembaca turut dalam cerita, jeda dari penjelasan-penjelasan mengaitkan buku dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Buku masih perlu. Buku masih bisa “mengantar” orang-orang Indonesia mengerti dengan situasi zaman baru.

Buku-buku bertema ilmu pengetahuan dan teknologi memang pantas rajin diterbitkan untuk menjadikan pembaca sanggup merenung dan bertindak. Zaman terlalu berubah, tak ada undangan kembali atau mengulang tempo dulu.

Kita pun teringat buku dua jilid berjudul Teknologi dan Dampak Kebudayaannya (1983) dengan editor Romo Mangun. Buku menghimpun beragam gagasan dan tafsiran dari tokoh-tokoh Indonesia dan pelbagai negara. Di halaman pengantar, Romo Mangun memberi ledekan dan ajakan:

“… betapa pun hebatnya, teknologi ruang angkasa dan yang tinggi mahal semacam itu bukanlah tugas kita yang pertama dan utama. Teknologi yang menghimbau kita ialah teknologi yang mampu lekas menguasai persoalan-persoalan mendesak sehari-hari yang sangatlah biasa: air minum, penerangan, tekstil, bahan-bahan dan konstruksi perumahan, jalan-jalan komunikasi dan sebagainya.”

Indonesia tak usah tergesa bermimpi setinggi langit. Situasi hidup keseharian terlalu sulit dijadikan bahagia saat teknologi-teknologi tersedia belum memadai atau berhikmah sepanjang masa.

Pada masa kekuasaan Soekarno dan Soeharto, teknologi itu istilah mencengakan dan mengandung “perintah-perintah”. Soekarno sadar terpikat teknologi sejak masa kolonial. Ia berani mengimajinasikan Indonesia bakal berubah dan mulia dengan teknologi. Esai-esai masa 1930-an telah menghadirkan kemajuan-kemajuan di Eropa dan Amerika Serikat dengan beragam teknologi.

Ia berpikiran bahwa Asia wajib sadar zaman kemajuan dengan teknologi-teknologi. Pendasaran melalui pendidikan dan agenda-agenda politik makin membesarkan impian Indonesia meninggalkan zaman kolot, lambat, lesu, dan minder.

Pikat istilah itu menciptakan “mitos” pada masa Orde Baru gara-gara pidato dan slogan. Kita teringat dengan deretan kata sakti demi pembangunan nasional. Di sekolah, kampung, tempat ibadah, dan ruang publik, orang-orang selalu diingatkan dan terpaksa jenuh dengan seruan-seruan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Konon, teknologi terbukti moncer setelah ada kebijakan-kebijakan politik di kabinet dan kemunculan peran-peran para ilmuwan dan pengusaha. Dulu, kita merasa diberi janji kolosal bermisi Indonesia tak terlalu ketinggalan dari Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan lain-lain.

Romo Mangun (1985) mengingatkan: “Teknologi memang punya tuntutan konkret, punya warna nyata, punya politik praktis dan kecenderungan memihak, dan karena itu sayang sering fatal.” Kalimat berlatar masa Orde Baru.

Romo Mangun memiliki sekian tulisan penting untuk terbaca publik. Ia agak sulit memberikan daftar panjang judul-judul buku terbit di Indonesia untuk mengerti teknologi. Di Indonesia, penerbitan buku bertema teknologi memang ramai tapi tanpa jaminan itu dibutuhkan atau selaras.

Buku-buku asing diterjemahkan dalam bahasa Indonesia melimpah. Orang-orang membaca tanpa tautan dan pijakan dengan segala urusan terjadi di Indonesia. Pengisahan dan penjelasan mengacu negara-negara jauh sudah mengadakan tatanan hidup baru berteknologi.

Kita masih mungkin mengingat masa lalu. Tanah jajahan berubah dengan teknologi. Godaan dan perintah berdalih teknologi berdatangan dari pelbagai negara. Di buku Nusa Jawa: Silang Budaya (1996), Denys Lombard memberi keterangan-keterangan singkat perubahan tatanan hidup di Nusantara akibat pesona dan kemujaraban teknologi (Barat). Buku itu cuma memberi cuilan-cuilan tapi kita mengerti ada masa-masa berteknologi tak mampu terlacak lagi melalui terbitan buku-buku.

Ingatan sepenggal-sepenggal masih ditemukan dalam tulisan-tulisan Jerome Samuel. Di buku Sadur (2009), ia urun artikel mengenai teknologi dan bahasa. Kita pun mengetahui jejak-jejak dalam buku berjudul Kasus Ajaib Bahasa Indonesia? Pemodernan Kosakata dan Politik Peristilahan (2008). Intelektual dari negara jauh itu meneliti bahasa Indonesia dalam urusan ilmu dan teknologi.

Kata atau istilah dilacak untuk mengetahui situasi zaman dan dampak-dampak melampaui kebahasaan. Di situ, ada perkara politik dan kapitalisme cetak. Agama, etika, dan estetika turut dalam perkembangan kebahasaan menjadikan Nusantara ramai teknologi.

Kita mengenang (lagi) Romo Mangun dan buku. Keinginan menikmati buku cetak dalam pamrih mengerti teknologi telah tergantikan dengan peristiwa-peristiwa “termanjakan” oleh benda-benda ajaib. Romo Mangun tak berada dalam babak mengejutkan saat buku cetak sering diremehkan dan bergerak lambat untuk turut dalam debat dan gejolak teknologi mutakhir. Begitu. (*)

 

*) Penggiat Literasi dari Bilik Literasi Solo

Ruangan komen telah ditutup.