Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Ikut Menari Jaran Kepang di Lapangan Pancasila Simpanglima Semarang, Begini Respon Siti Atikoh

Ikut Menari Jaran Kepang di Lapangan Pancasila Simpanglima Semarang, Begini Respon Siti Atikoh
Foto: Siti Atikoh (kaos biru) ikut menari jaran kepang di Lapangan Pancasila Simpang Lima Kota Semarang, Minggu (14/8) pagi (Murianews/istimewa)

MURIANEWS, Semarang Pertunjukan spektakuler seni tradisional jaranan dan gending-gending Jawa bertajuk Gamelan Kolosal tersaji di Lapangan Pancasila Simpang Lima Kota Semarang, Minggu (14/8) pagi. Ada ribuan seniman jaranan dan pengrawit datang dari berbagai desa di Jawa Tengah.  

Ribuan orang tampak antusias menyaksikan pertunjukan yang digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-72 Provinsi Jawa Tengah itu. Tak hanya menyaksikan, masyarakat akhirnya juga ikut menari bersama penari jaranan.

Bahkan, Siti Atikoh, istri Gubernur Ganjar Pranowo juga ikut terlarut dalam liak-liuk dan enerjiknya gerakan penari kuda lumping atau juga dikenal dengan nama jaran kepang. Atikoh turut serta pada flashmob yang diikuti ribuan penari jaranan.

Baca juga: Ribuan Seniman Jaranan Banjiri Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang, Hebohkan Pengunjung CFD

Start pukul 05.30 WIB dari rumah jabatan gubernur jateng, Atikoh menyelesaikan rute lari paginya di Lapangan Pancasila, Simpanglima. Sekitar pukul 07.00 WIB, Atikoh bergabung dengan para penari kuda lumping yang sudah bersiap di momen Car Free Day itu.

Diiringi gamelan, Atikoh tampak sumringah mengikuti tiap gerak dari para penari. Tak tampak canggung, Atikoh menikmati momen flashmob yang digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah ke 72 itu.

Ini pertamakali saya ikut, waktu itu di Solo ikut tapi gak pakai kuda lumpingnya ternyata lumayan berat ya,” tutur Atikoh ditemui usai acara.

Ketua TP PKK Jawa Tengah itu merasa senang dan asyik bisa turut serta dalam kemeriahan HUT Jateng. Gerakan tari jaranan, kata Atikoh, sederhana tapi bermanfaat.

Tadi kan gerakan gerakannya terlihat sederhana tapi kalau untuk lari bisa manfaat untuk strength, gerakan satu kaki, flexibility, stability atau keseimbangan. Itu luarbiasa sekali,” kata Atikoh.

Atikoh berharap di usia ke 72, masyarakat Jawa Tengah makin tumbuh kecintaannya pada budaya. Acara ini, selain untuk melestarikan juga mengenalkan pada anak muda salah satu warisan budaya di Jawa Tengah.

Di momen ini, Atikoh juga mengajak masyarakat terlibat aktif dalam menghadapi krisis yang terjadi. Pandemi yang berangsur-angsur melandai, kata Atikoh, jadi pengalaman untuk lebih baik lagi.

“Jawa Tengah bisa semakin mandiri, ke depan juga masyarakat bisa bergotong royong ikut (berpartisipasi) keluar dari krisis dan pandemi yang dua tahun ini membebani kita. Semua tentu harus bisa antisipasi karena kondisinya memang harus kita mau nggak mau dan suka tidak suka harus kerja keras dan tentu saja gotongroyong,” tandasnya.

Salah satu penari asal Wonosobo, Anin merasa senang bisa turut berpartisipasi dalam acara ini. Rasa haru, bangga dan grogi bercampur dalam benak Anin yang mempersiapkan diri dalam dua hari.

“Rasanya senang, bangga, grogi juga tadi. Ini pengalaman baru,” kata Anin.

Anin yang menari bersama Siti Atikoh juga grogi. Menurutnya, Atikoh tampak luwes mengikuti gerakan tarian. Anin juga senang karena masyarakat yang datang di CFD sangat antusias.

“Ibu tadi luarbiasa banget, bisa mengikuti. Terharu bangga karena masyarakat awam bisa ikut serta,” ujarnya.

Senada juga disampaikan Mirza dan Levi, penari asal Parakan, Temanggung. Usai acara keduanya juga jadi sasaran masyarakat untuk bisa berfoto bersama. Mirza senang bisa berpartisipasi dalam HUT Jateng ke 72.

“Senang banget, semangat. Bangga bisa ikut main di sini sama bareng-bareng semua rombongan kesenian dari berbagai daerah,” ujarnya.

Selain flashmob jaranan, acara HUT Jateng juga dimeriahkan dengan gamelan serta tari kuda lumping kolosal. Sebanyak 1.059 seniman desa berpartisipasi dalam acara itu.

Selain itu juga ditampilkan sejumlah tarian nusantara. Mulai dari Papua, Aceh hingga Sulawesi. Masyarakat pun hanyut dalam keseruan tari jaranan dan alunan musik gamelan yang memadati Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Semarang.

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.