Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Ini Alasan Monumen Markas Komando Daerah Muria Dibangun di Desa Glagah Kulon Kudus

Ini Alasan Monumen Markas Komando Daerah Muria Dibangun di Desa Glagah Kulon Kudus
Foto: Monumen Markas Komando Daerah Muria. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Ada bangunan bersejarah berupa Monumen Markas Komando Daerah Muria di Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kudus, Jawa Tengah.

Hingga saat ini, masih banyak orang yang bertanya kenapa bangunan yang lebih akrab dengan sebutan Monumen Macan Putih itu dibangun di Desa Glagah Kulon. Pasalnya, letak Desa Glagah Kulon ini cukup jauh dari Kota Kudus.

Untuk diketahui, Monumen Markas Komando Daerah Muria ini terletak di RT 02, RW 01, Desa Glagah Kulon. Monumen tersebut dibangun untuk mengenang perlawanan terhadap Belanda, saat Agresi Militer tahun 1948.

Baca juga: Lokasi Bersejarah Kudus Ini Bakal Dieksplorasi

Alasan pembangunan monumen ditulis di buku berjudul “Sejarah Perjuangan Gerilya Semesta Komando Daerah Muria Kudus” yang disusun oleh Kodim 0722 Kudus pada edisi kedua. Buku yang ditulis pada 5 Oktober 2009 tersebut dicetak oleh Percetakan Aditya Kurniawan Kudus.

Pada halaman 22 buku itu dijelaskan jika Desa Glagah Kulon memiliki andil besar dalam mengusir penjajah Belanda. Dari Desa Glagah Kulon banyak strategi yang disusun.

”Mulai dari penyerangan, penculikan, dan penghadangan musuh,” demikian keterangan yang tertulis di buku tersebut.

Disebutkan di buku tersebut, kekuatan dan persatuan pejuang dipersatukan untuk mengusir penjajah Belanda. Oleh karena itu, tertulis di buku tersebut sudah sewajarnya di Desa Glagah Kulon didirikan monumen.

Walaupun Desa Glagah Kulon dalam catatan sejarah nasional tidak tertulis, namun  bagi masyarakat Kudus dan daerah Muria memiliki arti yang besar. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan pendirian monumen di Glagah Kulon.

Tertera di akhir paragraf, tempat yang saat ini berdiri monunen semula merupakan rumah rakyat dengan bentuk sederhana. Yakni dengan ukuran tanah 21×13 meter.

Rumah tersebut milik saudara Modirono yang dijadikan tempat komando daerah Muria. Disinilah komando Muria memimpin operasi-operasi dan melancarkan serangan-serangan kepada pos-pos musuh.

Diberitakan sebelumnya, kawasan di area monumen dahulunya memang markas tentara yang bertugas di kawasan Muria. Saat itu, tentara yang berjuang melawan Belanda dipimipin oleh Mayor Kusmanto. Pasukannya diberi nama Macan Putih.

”Perangnya terjadi di sekitar kawasan Desa Glagah Kulon ini. Yang memimpin Mayor Kusmanto,” kata Juru Kunci Monumen Markas Komando Daerah Muria, Sipat.

 

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Dani Agus

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.