Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Kesurupan Mbah Kamito jadi ‘Sirine’ Pasukan Macan Putih Muria

Juru Kunci Monumen Markas Komando Daerah Muria, Sipat membersihkan monumen. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Kawasan Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pernah jadi markas perjuangan Pasukan Macan Putih dalam menghadapi Belanda di kawasan Muria. Bahkan ada cerita mistis di balik kisah para pejuang itu.

Kisah tersebut yakni tentang Mbah Kamito yang selalu kesurupan ketika akan ada serangan dari Belanda di wilayah Pasukan Macan Putih.

Alhasil, kesurupan itu seolah menjadi alarm atau sirine bagi Pasukan Macan Putih yang dipimpin Mayor Kusmanto bertempur dalam agresi militer Belanda tahun 1948.

”Macan Putih itu nama pasukan yang dipimpin Mayor Kusmanto. Macan putih itu juga kata sesepuh itu merupakan danyang di Desa Cranggang,Dawe,” kata Juru Kunci Monumen Markas Komando Daerah Muria (Monumen Macan Putih), Sipat, Sabtu (6/8/2022).

Monumen Macan Putih berada di RT 02, RW 01, Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Lokasi itu dulunya merupakan markas Pasukan Macan Putih.

Baca: Ini Monumen Saksi Bisu Macan Putih Muria Menggempur Penjajah

Sipat melanjutkan, warga Desa Cranggang dahulu ada yang bernama Mbah Kamito. Dia kerap kesurupan danyang macan putih.

”Setiap ada penjajah yang mau menyerang daerah sekitar Desa Glagah Kulon ini, Mbah Kamito memberitahu tentara di markas ini. Sehingga tentara bersiap-siap nyegat pasukan Belanda dan melakukan perlawanan,” sambungnya.

Lebih lanjut, di tahun 1949, Belanda berhasil dipukul mundur. Kemudian pada 1972 dibangunlah monumen tersebut.

”Monumennya dibangun pada 1972. Ya di lahan ini. Dahulu di sini merupakan lahan kosong. Kalau di sekitarnya ini markas-markasnya,” imbuhnya.

Baca: Banyak Monumen di Kudus Tak Dilengkapi Deskripsi Sejarah

Monumen Macan Putih mempunyai nama resmi Monumen Markas Komando Daerah Muria.

Monumen tersebut dibangun untuk mengenang perlawanan terhadap Belanda di tahun 1948. Yakni saat Agresi Militer Belanda berlangsung.

Dalam buku berjudul Sejarah Perjuangan Gerilya Semesta Komando Daerah Muria Kudus yang disusun oleh Kodim 0722/Kudus pada 5 Oktober 2009 disebutkan jika Macan Putih merupakan nama dari pasukan tempur Komando Daerah Muria yang berkekuatan satu peleton. Jumlahnya ada 40 orang.

Peleton Pasukan Macan Putih terdiri dari empat regu dengan komandan seksinya yakni Kapten Kahartan.

Sedangkan komandan regunya tertulis di buku tersebut masing-masing yakni Sumaryo, Sutoyo, Tonaim, dan Waasimin.

Di dalam operasinya, Pasukan Macan Putih ini langsung dipimpin oleh Mayor Kusmanto.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...