Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Ini Monumen Saksi Bisu Macan Putih Muria Menggempur Penjajah

Juru Kunci Monumen Markas Komando Daerah Muria, Sipat sedang menyapu halaman. (Murianews/Vega Maa’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Di Desa Glagah Kulon, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, terdapat sebuah monumen yang menggambarkan perjuangan Pasukan Macan Putih yang dipimpin Mayor Kusmanto. Pasukan ini berhasil menggempur penjajah Belanda.

Monumen itu diberi nama Monumen Markas Komando Daerah Muria atau yang lebih akrab dengan sebutan Monumen Macan Putih.

Monumen tersebut dibangun untuk mengenang perlawanan terhadap Belanda di tahun 1948. Yakni saat Agresi Militer Belanda berlangsung.

Pengamatan Murianews, monumen tersebut masih terlihat kokoh. Di bagian tengah terdapat lambing kepala macan putih.

Di bawahnya terdapat motif granat, motif dan bambu runcing menyilang. Di tengah-tengahnya terdapat tulisan Markas Komando Daerah Muria.

Monumen Markas Komando Daerah Muria. (Murianews/Vega Maa’arijil Ula)

Terdapat juga relief warga yang menyokong perjuangan Pasukan Macan Putih dengan memberikan makanan dan kelapa muda kepada pejuang.

Murianews mendapatkan file buku yang berisi tentang sejarah Pasukan Macan Putih. Yakni buku berjudul Sejarah Perjuangan Gerilya Semesta Komando Daerah Muria Kudus.

Buku tersebut disusun oleh Kodim 0722/Kudus pada 5 Oktober 2009. Buku tersebut dicetak oleh Percetakan Aditya Kurniawan Kudus. Keseluruhan isi buku sebagian besar masih tertulis menggunakan mesin ketik.

Baca: Kisah di Balik Tugu Perjuangan di Kalirejo Kudus yang Kini Hilang

Pada halaman 16 bab IV dijelaskan tentang kiprah Pasukan Macan Putih. Tertulis di buku tersebut, Macan Putih merupakan nama dari pasukan tempur Komando Daerah Muria yang berkekuatan satu peleton. Jumlahnya ada 40 orang.

Peleton Pasukan Macan Putih terdiri dari empat regu dengan komandan seksinya yakni Kapten Kahartan.

Sedangkan komandan regunya tertulis di buku tersebut masing-masing yakni Sumaryo, Sutoyo, Tonaim, dan wasimin. Di dalam operasinya, Pasukan Macan Putih ini langsung dipimpin oleh Mayor Kusmanto.

Sipat (70), Juru Kunci Monumen Markas Komando Daerah Muria mengatakan, kawasan di area monumen dahulunya memang markas tentara yang bertugas di kawasan Muria.

Baca: Tanggulangin Kudus Pernah Jadi Saksi Agresi Militer Belanda

Saat itu, tentara yang berjuang melawan Belanda dipimipin oleh Mayor Kusmanto. Pasukannya diberi nama Macan Putih.

”Perangnya terjadi di sekitar kawasan Desa Glagah Kulon ini. Yang memimpin Mayor Kusmanto,” katanya, Sabtu (6/8/2022).

Warga di kawasan markas menurut penjelasan Sipat juga ikut bahu-membahu membantu para pejuang. Yakni dengan menyuplai makanan bagi tentara yang dipimpin oleh Mayor Kusmanto.

Pada tahun 1949 Belanda berhasil dipukul mundur. Kemudian pada 1972 dibangunlah monumen tersebut.

”Monumennya dibangun pada 1972. Sampai sekarang masih sama bangunan monumennya, tidak ada yang berubah,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...