Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Opini

Sejarah Bangsa yang Rumit

Noorma Ayu Widiyastuti *)

SEBUAH bangsa memiliki peradaban yang berbeda-beda. Sebuah bangsa dapat diketahui tentang peradabannya pada masa itu dengan mempelajari sejarah dari bangsa tersebut.

Sejarah suatu bangsa memberikan informasi tentang bagaimana kehidupan dalam sebuah bangsa pada masa lalu dengan penyampaian yang kronologis. Oleh karena itu, dalam mempelajari sejarah harus melihat tentang bagaimana waktu harus tumbuh dan berkembang dengan suatu peradaban melalui informasi-informasi sejarah.

Informasi sejarah sebagian besar bersumber dari catatan-catatan tertulis yang dibuat oleh suatu peradaban seperti prasasti, ukiran, tulisan-tulisan kronik, catatan perjalanan, buku, dan surat-surat. Ada juga informasi sejarah yang di dapat melalui situs-situs sejarah seperti bangunan-bangunan yang dihasilkan oleh suatu peradaban yang masih eksis sampai saat ini.

Dan ada juga informasi sejarah yang di dapat melalui folklore, cerita rakyat yang dituturkan secara turun temurun melalui tradisi lisan yang menceritakan kondisi dan keadaan pada masa lalu dengan sebuah dongeng.

Bangsa-bangsa besar meninggalkan informasi catatan sejarah yang sangat banyak seperti peradaban Yunani dan Romawi. Semua tercatat secara lengkap dan detail dengan sumber yang dapat dipertanggung jawabkan.

Seolah-olah dengan membaca sejarah mereka, kita dapat membayangkan dan masuk dalam cerita tersebut seolah menjadi nyata mengenai orang yang hidup di dalam masa itu dan mengetahui kondisi dan keadaan kehidupan manusia pada masa itu.

Jika kita membaca sejarah Indonesia yang di buku-buku mengenai informasi sejarah Indonesia digambarkan dengan sangat umum dan tidak ada detail-detail tertentu yang bisa membuat kita mengetahui keadaan saat itu dengan sangat detail.

Jika diteliti secara mendalam terkait dengan sejarah-sejarah yang tertulis, sebagian besar mengambil dasar dan sumber dari catatan-catatan yang dibuat oleh bangsa asing. Seperti catatan yang dibuat oleh VOC dan Inggris. Apakah kita bangsa Indonesia tidak memiliki catatan sejarah lokal?

Catatan dan Lisan

Bangsa di Nusantara sudah mengenal baca tulis dan telah mendokumentasikan kejadian dalam bentuk catatan-catatan. Catatan dibuat pada batu-batu yang kemudian dikenal sebagai prasasti. Pada abad ke 13 mulai dikenal tulisan-tulisan yang dibuat pada lembaran-lembaran naskah atau media tulis ringan lainnya yang dikenal sebagai kitab. Kemudian berkembang lagi menjadi karya yang berupa babad dan hikayat yang memiliki nilai kesastraan yang tinggi.

Terdapat juga versi lain mengenai informasi sejarah melalui folklore dan cerita rakyat. Bangsa di Nusantara memang sudah mengenal tulis menulis akan tetapi tidak semuanya menguasainya, sehingga suatu kejadian pada masa lalu diabadikan dalam sebuah bentuk cerita yang dituturkan secara turun temurun melalui tradisi lisan.

Seiring berjalannya waktu tradisi lisan mengalami banyak perubahan dan tergantung imajinasi pencerita dan bahkan folklore penuh kisah mistis yang tidak bisa dijelaskan secara logika.

Cerita rakyat atau folklore merupakan tradisi lisan turun temurun. Sangat rentan antara pencerita satu dengan yang lainnya menceritakan secara persis. Imajinasi pencerita memengaruhi isi bahasan dari cerita tersebut. Meskipun secara garis besar ceritanya itu sama, akan tetapi imajinasi pencerita yang membuat banyak sekali perbedaan tiap alur ceritanya.

Maka tidak heran jika cerita rakyat itu bisa beragam versi dan sangat bermacam-macam tergantung dari latar belakang dari kerjadian pencerita kisah tersebut. Lalu apa yang menyebabkan sumber sejarah lokal susah untuk di mengerti?

Jika kita melihat prasasti, informasi yang diberikan tentang kondisi tersebut sangat umum untuk dipahami. Lalu dokumentasi tertulis juga sulit untuk dipahami dan harus melalui proses interpretasi membandingkan antarnaskah.

Karena banyak informasi yang sulit dipahami maka akan menyebabkan antara fakta sejarah dan bukan fakta sejarah sangat susah untuk dibedakan. Dan untuk babad serta hikayat sendiri memiliki gaya penulisan yang penuh ungkapan sastra yang susah dimengerti. Serta folklore tidak disarankan untuk diambil sebagai informasi sejarah karena di dalanya sudah tercampur oleh fantasi dari pencerita sehingga informasi dapat dikatan sudah tidak murni lagi. Maka dari itu studi sejarah bangsa Indonesia tidak seberkembang dengan studi sejarah peradaban bangsa lainnya. (*)

 

*) Mahasiswa Program Studi Tadris Ips IAIN Kudus

Comments
Loading...