Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Ini Perbedaan Penyakit Cacar Air dan Cacar Monyet yang Penting Diketahui

Ini Perbedaan Penyakit Cacar Air dan Cacar Monyet yang Penting Diketahui
Foto: Ilustrasi (freepik.com)

MURIANEWS, Kudus – Penyakit cacar monyet atau monkeypox marak diberitakan baru-baru ini. Hal ini terkait adanya seorang pasien di Inggris yang diindikasikan terkena cacar monyet langka.

Sejak marak pemberitaan, banyak orang yang bertanya-tanya mengenai cacar monyet ini. Bahkan, ada yang menyamakan penyakit cacar monyet dengan cacar air dengan tingkat keparahan yang lebih banyak.

Lantas, apa perbedaan di antara kedua jenis penyakit cacar ini? Melansir dari Hello Sehat, Kamis (4/8/2022), sekilas penyakit cacar monyet dan cacar air sangat mirip. Keduanya sama-sama menyerang kulit dan sama-sama disebabkan oleh infeksi virus.

Baca juga: Hasil PCR Keluar, 1 Pasien Suspek Cacar Monyet di Jateng Dinyatakan Negatif

Namun, ternyata ada perbedaan yang cukup besar di antara cacar monyet dan cacar air. Berikut berbagai faktor yang membedakan keduanya.

1. Penyebab

Meski dapat memberikan gejala yang serupa, sebenarnya virus penyebab kedua penyakit ini berbeda. Cacar air disebabkan oleh virus yang bernama varicella-zoster. Virus ini merupakan salah satu jenis virus herpes yang juga dapat menyebabkan penyakit cacar ular (herpes zoster).

Sementara itu, virus penyebab cacar monyet adalah virus monkeypox yang berasal dari genus (marga) Orthopoxvirus. Contoh virus lainnya yang termasuk dalam genus ini meliputi virus variola, cowpox, dan vaccinia.

2. Gejala

Gejala khas cacar air yaitu kemunculan ruam kulit yang lama-kelamaan berkembang menjadi lepuh berisi cairan sebelum akhirnya berubah menjadi koreng. Kemunculan ruam pertama penyakit cacar air lebih sering terjadi pada dada dan punggung. Ruam pun menyebar ke wajah, lalu ke bagian tubuh lain termasuk di dalam mulut, kelopak mata, atau area kelamin.

Beda dengan cacar air, ruam yang menjadi gejala penyakit cacar monyet biasanya muncul pada wajah dan mulut terlebih dahulu, baru nantinya menyebar ke seluruh tubuh. Selain itu, cacar monyet dapat menimbulkan pembengkakan pada kelenjar getah bening (limfadenopati). Hal ini tidak terjadi pada penyakit cacar air.

3. Perbedaan penularan

Virus cacar air dapat menyebar dengan mudah antarmanusia. Terutama bila Anda tidak pernah mengalami cacar air sebelumnya, besar kemungkinan Anda akan tertular saat terkena virus penyebabnya.

Penularan cacar air bisa terjadi ketika seseorang melakukan kontak dengan pasien cacar air. Anda juga bisa tertular jika menghirup udara atau percikan cairan tubuh pasien saat pasien batuk dan bersin.

Di sisi lain, penularan cacar monyet antar manusia umumnya jarang terjadi. Anda tidak akan langsung tertular cacar monyet hanya dengan kontak sekilas.

Dibutuhkan kontak intim seperti hubungan seks, berciuman, atau berpelukan terlebih dahulu sampai akhirnya virus menyebar. Anda juga bisa tertular virus bila menyentuh luka cacar milik pasien yang terinfeksi, kemudian menyentuh area wajah tanpa cuci tangan.

4. Keparahan penyakit

Meski mudah menular, biasanya virus cacar air tidak akan menimbulkan penyakit yang serius pada anak-anak bertubuh sehat. Gejalanya pun dapat membaik dalam waktu 4–7 hari.

Memang, tetap ada risiko penyakit bertambah parah dan terjadinya komplikasi cacar air. Namun, ini jarang terjadi, terutama setelah adanya vaksin yang dapat mencegah cacar air.

Sementara itu, gejala cacar monyet dapat bertahan lebih lama, sekitar 2–4 minggu. Di Afrika, cacar monyet telah menyebabkan kematian pada 1 dari 10 orang yang terjangkit virusnya.

5. Penyebaran penyakit

Beda dengan cacar monyet, cacar air lebih banyak ditemui di seluruh dunia terutama pada anak-anak. Kebanyakan orang dewasa sudah pernah mengalami sakit cacar air satu kali dalam hidupnya.

Cacar monyet lebih sering terjadi di Afrika Tengah dan Barat. Penyakitnya bahkan sudah menjadi endemi di wilayah tersebut. Di Indonesia sendiri, sejauh ini belum ada laporan kasus cacar monyet.

Bisakah cacar air dan cacar monyet dicegah dengan vaksin yang sama?

Baik cacar monyet maupun cacar air bisa dicegah dengan mendapatkan vaksin. Namun, mengingat virus penyebabnya berbeda, tentu jenis vaksin yang diberikan pun berbeda pula.

Vaksin yang digunakan untuk mencegah cacar air yaitu vaksin varicella (Varivax). Vaksin ini termasuk dalam program imunisasi rutin. Anak-anak usia 12 bulan hingga 12 tahun wajib mendapatkan dua dosis vaksin.

Vaksin varicella juga bisa diberikan untuk orang dewasa yang belum mendapatkan imunisasi. Dosisnya juga diberikan dua kali dengan jarak 4–8 minggu.

Untuk mencegah cacar monyet, pemberian vaksin cacar (smallpox) bernama Jynneos dapat dilakukan. Sama dengan vaksin untuk cacar air, vaksin Jynneos diberikan dalam dua dosis terbagi.

Sayangnya, ketersediaan vaksin Jynneos masih sangat terbatas. Di Indonesia, belum ada vaksin khusus untuk mencegah monkeypox.

Maka dari itu, meski kemungkinan penyebaran cacar monyet di Indonesia masih rendah, tetap penting bagi Anda untuk melakukan tindakan pencegahan lain dengan rajin mencuci tangan dan menghindari interaksi atau kontak langsung dengan hewan liar.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: hellosehat.com

Comments
Loading...