Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Mengenal Destinasi Wisata Saksi Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, Sudah Pernah ke Sini?

Mengenal Destinasi Wisata Saksi Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, Sudah Pernah ke Sini?
Foto: Tugu Proklamasi Kemerdekaan RI (wikipedia.org)

MURIANEWS, Kudus – Destinasi wisata sejarah selama ini masih punya daya tarik bagi wisatawan. Terbukti, pengunjung di berbagai destinasi wisata sejarah ini masih tetap ramai.

Pada momen menjelang HUT RI tanggal 17 Agustus, wisata sejarah merupakan destinasi yang menjadi pilihan untuk dikunjungi orang. Mendatangi destinasi wisata sejarah juga menjadi wujud untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang untuk menggapai kemerdekaan Indonesia yang bisa kita rasakan hingga saat ini.

Indonesia memiliki beragam wisata sejarah yang tersebar di berbagai kota. Setiap destinasi menyimpan sejarah dan nilai perjuangan yang sangat besar bagi Kemerdekaan Indonesia.

Baca juga: Melihat Rumah Pengasingan Bung Karno Selama Empat Tahun di Ende Nusa Tenggara Timur

Apa saja destinasi wisata sejarah di Indoensia? Berikut ini beberapa destinasi wisata sejarah yang menjadi saksi perjuangan pahlawan dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, seperti dikutip dari laman Kemenparekraf, Kamis (4/2022).

Tugu Proklamasi

Salah satu destinasi wisata bersejarah yang menjadi saksi perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah Tugu Proklamasi. Di tempat inilah Ir. Soekarno, didampingi oleh Moh. Hatta, membacakan Naskah Proklamasi, sekaligus menjadi penanda kemerdekaan Indonesia.

Di masa kemerdekaan lokasi Tugu Proklamasi ini merupakan rumah dari Sang Proklamator itu sendiri. Soekarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia di teras depan rumahnya, di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta.

Kini jalan tersebut beralih nama menjadi Jalan Proklamasi. Meskipun rumah bersejarah itu sudah lama dirobohkan, namun tetap ada bangunan simbol pada titik tersebut. Pada Tugu Proklamasi berdiri tiga monumen bersejarah, yakni Tugu Petir, Patung Soekarno-Hatta, dan Tugu Wanita.

Rumah Rengasdengklok

Rumah dari seorang Tionghoa, Djiaw Kie Siong, atau yang dikenal dengan Rumah Rengasdengklok merupakan tempat bersejarah yang erat kaitannya dengan peristiwa penculikan Bung Karno dan Bung Hatta.

Pada malam menjelang kemerdekaan Indonesia, tokoh golongan muda progresif Indonesia berinisiatif menculik Soekarno dan Hatta. Penculikan ini bertujuan untuk mencegah Soekarno Hatta dari pengaruh Jepang.

Selain itu, golongan muda juga mendesak Soekarno untuk segera mengumumkan kemerdekaan Indonesia melalui momen Rengasdengklok. Karena menjadi salah satu lokasi bersejarah, pada 1957 Bung Karno memerintahkan agar rumah ini dipindahkan ke Jakarta. Kini kita dapat melihat bangunan bersejarah tersebut persis di belakang Tugu Proklamasi.

Foto: Rumah Rengasdengklok (kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Hotel Majapahit

Terletak di jantung Kota Surabaya, Hotel Majapahit yang dahulunya bernama Hotel Yamato ini menjadi saksi pertempuran heroik antara pemuda Surabaya dengan Belanda. Saat itu pemuda Indonesia tersulut emosi atas kehadiran penjajah di Surabaya pasca kemerdekaan.

Mereka lalu merobek warna biru pada Belanda yang dikibarkan di depan Hotel Yamato, sehingga menjadi bendera merah putih. Peristiwa ini juga yang menjadi cikal-bakal pecahnya peristiwa 10 November 1945, yang kini terus diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Foto: Hotel Majapahit Surabaya (cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Benteng Fort Rotterdam

Kendati dibangun berabad-abad silam, Benteng Fort Rotterdam masih berdiri gagah di tengah Kota Makassar. Keberadaan benteng ini tidak dapat dipisahkan dari kehadiran Kongsi Dagang Belanda (VOC) di Sulawesi.

Dahulunya, Benteng Rotterdam difungsikan sebagai markas komando pertahanan, kantor perdagangan, hingga pusat pemerintahan Belanda di wilayah timur Indonesia. Setelah beberapa kali beralih fungsi, kini Benteng Rotterdam menjadi salah satu objek wisata sejarah terbesar di Makassar. Koleksi menarik di Benteng Rotterdam adalah naskah La Galigo, yang diakui UNESCO sebagai Memory of The World.

Foto: Benteng Fort Rotterdam (cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Gedung Joeang 45

Menyusuri cerita perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tidak bisa dipisahkan dari Gedung Joeang 45. Wisata sejarah kemerdekaan ini dahulunya merupakan sebuah hotel yang dikelola oleh keluarga L.C. Schomper.

Namun pada detik-detik kemerdekaan, gedung tersebut diambil alih pemuda Indonesia, dan dijadikan tempat pelatihan dan pendidikan. Ada banyak benda-benda bersejarah perjuangan pemuda Indonesia yang tersimpan di Gedung Joeang 45.

Foto: Gedung Joeang 45 (cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Dulunya bangunan ini merupakan kediaman Laksamana Tadashi Maeda. Ia merupakan salah satu perwira angkatan laut Jepang yang membantu Indonesia merumuskan naskah proklamasi.

Kini rumah bersejarah yang terletak di Jalan Imam Bonjol No. 1 Menteng, Jakarta Pusat tersebut berubah menjadi museum sejak 1992. Museum Perumusan Naskah Proklamasi memiliki 4 ruangan. Masing-masing berisi benda-benda bersejarah yang dulunya digunakan untuk merumuskan naskah proklamasi.

Foto: Museum Perumusan Naskah Proklamasi (kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Radio Republik Indonesia

Radio Republik Indonesia atau RRI punya peranan penting dalam menyebarkan kabar mengenai proklamasi. Tepatnya pada pukul 19.00, teks proklamasi dari Kantor Berita Domei (sekarang Kantor Berita Antara) sampai di tangan Yusuf Ronodipuro, Bachtiar Lubis, dan Suprapto.

Mereka adalah penyiar radio Hoso Kanri Kyoku (sekarang RRI). Berkat siaran mereka, berita mengenai proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dapat mengudara dan didengarkan hingga pelosok negeri.

Foto: Kantor RRI Pusat (wikipedia.org)

Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende

Wilayah yang menjadi lokasi paling legendaris terkait pengasingan Bung Karno adalah Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Di lokasi ini terdapat sebuah wisata sejarah yang bernama Rumah Museum.

Rumah bersejarah ini dulunya menjadi tempat tinggal Ir. Soekarno beserta istri, ibu mertua, dan kedua anak angkatnya selama di Ende. Suasana yang tenang di lokasi inilah yang juga menjadi tempat Bung Karno merenungkan mengenai sila-sila dalam Pancasila.

Kini, ingatan tersebut direalisasikan dalam bentuk Patung Bung Karno yang merenung di bawah pohon sukun. Lokasi ini juga dikenal dengan Taman Renungan Bung Karno. Selain di Ende, Bung Karno juga pernah diasingkan di beberapa daerah, yaitu Bengkulu, Berastagi, dan Pulau Bangka.

Itulah wisata sejarah Indonesia yang erat kaitannya dengan peristiwa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagai suatu bangsa yang besar selayaknya kita menghargai jasa pahlawan di masa lampau, salah satunya dengan mengunjungi destinasi-destinasi wisata sejarah tersebut.

Foto: Rumah Pengasingan Ir. Soekarno di Kabupaten Ende, NTT (cagarbudaya.kemdikbud.go.id)

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: kemenparekraf.go.id

Comments
Loading...