Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Menara Kudus Gelar Bahtsul Masail soal Wayang hingga Fashion

Bahtsul Masail Menara Kudus. (Murianews/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menggelar bahtsul masail di Masjid Menara, Kamis (4/8/2022). Sejumlah bahasan mulai dari bermusik hingga ber-fashion pun jadi tema menarik di tahun ini.

Bahtsul masail sendiri merupakan satu dari serangkaian kegiatan yang diselenggarakan pihak yayasan dalam rangka perayaan Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus tahun 2022.

Alim ulama di Kudus hingga pengurus Nahdlotul Ulama di Kudus hadir dalam kegiatan itu. Pandangan demi pandangan, hukum-hukum Islam, hadis demi hadis saling dilontarkan untuk mengerucutkan baik buruknya sebuah kegiatan manusia di alam dunia.

Moderator kegiatan, Abdul Jalil di sela acara menyampaikan ada tiga bahasan yang dikupas oleh para ahli yang dihadirkan.

Baca: Bahtsul Masail PBNU: Hewan Terjangkit PMK Tidak Memenuhi Syarat Kurban

Yang pertama adalah kesenian budaya seperti wayang. Kemudian menggunakan alat musik untuk pengiring upacara atau selawat. Ritual persembahan atau syukuran, hingga seni pahat benda tak hidup seperti patung atau yang sudah beruwujud suvenir.

”Melepaskan fikih dari kebudayaan sangatlah tidak mungkin, sebab fikih sebagai produk dari ijtihad bi takhriji al-manath harus didialogkan dengan realitas (al-waqa’i wa al-hawadist) kehidupan masyarakat dimana fiqih akan dibumikan,” kata Jalil.

Bahasan selanjutnya yang tak kalah menarik adalah tentang arsitektur Masjid. Pokok bahasannya yakni mengenai model kubah pada masjid.

”Masjid-masjid di Indonesia, terutama di Jawa awalnya menggunakan arsitektur gaya wali bentuk tumpang, Masjid Agung Demak misalnya. Nah kami ingin tahu apa dhawabith untuk menentukan arsitektur islami atau tidak islami,” sambungnya.

Baca: Ada Kuliner Khas Pecinan di Rangkaian Buka Luwur Sunan Kudus

Kemudian bahasan yang terakhir, adalah tentang fashion atau gaya berpakaian. Dia menyampaikan akulturasi budaya sebagai hasil persinggungan para pendatang dan pribumi menjadi satu keniscayaan. Salah satu yang sangat mencolok adalah makanan dan pakaian.

Fashion, atau gaya berpaiakan juga kemudian diberi muatan makna dan dijadikan sebagai sarana dakwah. Nilai-nilai yang terkandung di sana pun kemudian bisa dimaknai secara filosofis dan secara simbolis mampu merepresentasikan ajaran Islam, seperti baju takwa (koko) dan iket

”Untuk fashion kami ingin membahas apa dhawabith untuk menentukan fashion yang sesuai ajaran Islam, kemudian apakah memakai songkok yang berlatar belakang budaya melayu dan iket yang berlatar budaya jawa sama hukumnya dengan memakai sorban yang berlatar budaya arab, dan apakah memakai mukena batik sama hukumnya dengan mukena warna yang lain?,” tandasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...