Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Wajib Booster Dikhawatirkan Bikin Penumpang Bus Sepi

Pemudik yang telah tiba di Terminal Induk Tipe A Jati, Kabupaten Kudus. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)
Ilustrasi: Penupang bus tiba di Terminal Induk Tipe A Jati, Kabupaten Kudus. (Murianews/Yuda Auliya Rahman)

MURIANEWS, Kudus – Pemerintah mengeluarkan syarat vaksin booster sebagai syarat perjalanan sejak 17 Juli 2022. Pengusaha bus khawatir kebijakan itu bisa membuat penumpang semakin sepi.

Diketahui, pemerintah beberapa waktu lalu mengeluarkan Surat Edaran (SE) Kementerian Perhubungan Nomor 73 Tahun 2022. Yakni tentang petunjuk pelaksanaan orang dalam negeri dengan transportasi darat saat pandemi Covid-19.

Selain itu pemerintah juga mengeluarkan SE Satgas Covid-19 Nomor 21 Tahun 2022 yang mengatur tentang perjalanan orang dalam negeri pada masa pandemi Covid-19.

Dari SE tersebut, pelaku perjalanan wajib menunjukkan bukti vaksin booster. Yakni saat melakukan perjalanan menggunakan pesawat, kereta, dan bus.

Di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pihak PO Shantika mengaku siap menaati aturan pemerintah untuk melaksanakan kebijakan tersebut bagi penumpang bus. Hal ini disampaikan oleh Manajer Operasional PO Shantika, Hartotok Priyo Wiyono.

”Kami siap mendukung aturan pemerintah. Saat ini sebanyak 350-an sopir juga sudah divaksin. Itu bentuk kami mendukung kegiatan pemerintah,” katanya, Jumat (29/2022).

Baca:Booster Jadi Syarat Perjalanan, Penumpang Kereta Api Daop IV Semarang Turun Drastis

Meski demikian, Priyo tidak menampik kebijakan vaksin booster bagi penumpang bus dapat berdampak bagi jumlah penumpang bus. Karena menurut dia terkadang penumpang tidak mau repot untuk ikut vaksinasi booster.

”Penumpang bisa jadi tidak mau naik bus. Mereka juga tidak mau repot harus cari vaksin booster,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini kebijakan itu belum begitu dirasakan oleh pihak PO Shantika perihal efek penerapan vaksin booster bagi penumpang. Namun, ke depannya Priyo memprediksi penurunan jumlah penumpang dapat terjadi hingga 50 persen.

”Kalau terus diterapkan bukan tidak mungkin bisa terjadi penurunan sampai 50 persen. Tetapi kami dari pihak PO ya ngikut saja. Namun, kembali lagi ke masyarakat selaku penumpang mau tidak mengikuti vaksin booster untuk syarat naik bus,” ujarnya.

Lebih lanjut, menurutnya saat ini penerapan protokol kesehatan (prokes) juga terus dilaksanakan. Di antaranya penyemprotan bus menggunakan disinfektan sepekan sekali, menyediakan hand sanitizer, mewajibkan kru bus memakai masker, dan rapid tes sebulan sekali untuk sopir dan kernet bus.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...