Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

2 Kali Mangkir, Kepala Kantor Pos Cabang di Purbalingga Coba Lari ke Luar Kota

Tersangka tindak pidana korupsi yang merupakan Kepala Kantor Pos Cabang Pembantu Rembang, saat dihadirkan dalam ungkap kasus di Mapolres Purbalingga, Rabu (27/7/2022). (Suara.com/Anang Firmansyah)

MURIANEWS, Purbalingga – Kepala Kantor Pos Cabang Pembantu Rembang, Kabupaten Purbalingga Edy Safangatno (30) tersangka kasus dugaan korupsi dana kas operasional, panjar benda pos, dan materai hingga Rp 394 juta sempat mencoba melarikan diri ke luar kota. Hal itu diketahui setelah tersangka mangkir dalam dua kali pemanggilan.

Kapolres Purbalingga, AKBP Era Johny Kurniawan mengatakan, pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka sejak Bulan April lalu. Namun setelah melakukan korupsi, Edy mencoba melarikan diri ke luar kota.

”Untuk tersangka sudah kita lakukan pemanggilan sebanyak dua kali. Namun tidak hadir pada saat itu, sehingga kami naikkan ke proses penyidikan dan langsung kami lakukan penyelidikan. Ternyata yang bersangkutan berada di Denpasar di salah satu kos dan langsung kami lakukan penangkapan,” jelasnya seperti dikutip Suara.com, Rabu (27/7/2022).

Kasatreskrim Polres Purbalingga, AKP Gurbacov menambahkan, dalam pelariannya pelaku dikabarkan hilang selama dua bulan setelah menggelapkan dana. Tersangka berhasil ditangkap pada tanggal 14 Juni 2022.

Baca: Kalah Judi, Kepala Kantor Pos Cabang di Purbalingga Nekat Korupsi Rp 394 Juta

”Jadi tanggal 22 April menggelapkan dana. Lalu tanggal 23 pergi ke Banyumas dan menginap semalam. Setelah itu yang bersangkutan pesan tiket bus ke Bali dan sempat nginap di hotel sebelum akhirnya ngekos untuk menghindari polisi,” ungkapnya.

Rincian dana hasil korupsi tersebut menurut Gurbacov digunakan untuk deposit trading crypto binance sebesar Rp 150 juta, untuk keperluan membayar hutang karena kalah judi sebesar Rp 131 juta dan sisanya digunakan untuk keperluan pribadi selama pelarian ke Denpasar.

”Jadi sisa uang saat ditangkap di Denpasar tinggal Rp 2 juta,” ujarnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersangka dijerat Pasal 2, 3 dan 8 UU nomor 31 tahun 1998 sebagaimana telah diubah dan ditambahkan UU RI nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

”Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara. Kami berpesan kepada siapapun yang akan bertindak kejahatan untuk berpikir ulang. Karena selama masih berada di muka bumi akan terus kami kejar. Kecuali kalau sudah di dalam bumi tidak mungkin kami kejar,” tutupnya.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Suara.com

Comments
Loading...