Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Warga Kudus Perlu Tahu, Ini Sejarah Desa Dersalam

Warga melintasi jalan di Desa Dersalam, Kudus. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Desa Dersalam, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah memiliki cerita sejarah tersendiri. Salah satunya tentang awal mula nama Desa Dersalam.

Penamaan Desa Dersalam ditulis di buku Asal Usul Desa Kecamatan Bae Kabupaten Kudus. Buku tersebut ditulis oleh Syarief Achmad.

Pembahasan asal usul Desa Dersalam tertulis di halaman lima. Ditulis di buku tersebut, Desa Dersalam pada zaman dahulu kala merupakan hutan belantara yang terletak di lembah.

Letaknya diapit di antara dua gunung, yakni Gunung Muria dan Gunung Patiayam.

Pada buku tersebut dijelaskan, saat itu sedang terjadi perang antara Kerajaan Demak yang dibantu pasukan Kerajaan Majapahit melawan Portugis pada abad XVI.

Di perang tersebut ada seorang prajurit Majapahit yang dikenal dengan nama Krono Wongso. Saat itu dia terdesak mundur dan bersembunyi di hutan.

Baca: Sejarah Desa Bae Kudus, Ada Kisah Mbah Gilang dan Harimau

Lebih lanjut, dijelaskan di buku tersebut, saat itu wilayah Desa Dersalam masih berupa hutan. Setelah perang mereda, kemudian Krono Wongso perlahan-lahan membuka hutan.

Lalu, dikisahkan Krono Wongso membuat tempat tinggal dan membuat ladang untuk bercocok tanam. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Pada saat membuka lahan, Krono Wongso memiliki kebiasaan unik. Yakni menyemai benih pohon salam yang dalam istilah Jawa disebut ndeder salam. Akhirnya, dari kebiasaan ndeder salam itu maka desa tersebut dinamakan Dersalam.

Namun, ada versi lain juga yang ditulis di buku tersebut, yakni dari versi para ulama dan kiai. Dijelaskan, kata Dersalam berasal dari Arab.

Yakni Daar yang berarti desa. Sedangkan Assalam memiliki makna selamat. Jika digabungkan menjadi Dersalam yang artinya desa yang selamat.

Baca: Sejarah Desa Barongan Kudus Lekat dengan Kiai Barong

Kepala Desa Dersalam, Muhammad Sulaiman mengatakan, kedua versi tersebut memang bermunculan ketika membahas penamaan Desa Dersalam. Dia tidak mengetahui secara pastinya.

”Memang ada dua versi tersebut. Versi pertama soal Mbah Krono Wongso yang ndeder salam, dan versi kedua dari bahasa Arab Daar dan Assalam,” katanya, Rabu (27/7/2022).

Di Desa Dersalam, menurut penjelasan Sulaiman ada tradisi yang terus dilanjutkan hingga kini. Tradisi itu berupa ganti luwur makam Mbah Krono Wongso.

”Setiap tanggal 15 Muharram ada ganti luwur di makam Mbah Krono Wongso. Lokasinya di Gang 10. Sepekan sebelumnya, biasanya ada rangkaian kirab,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...