Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Penyakit Empty Sella Syndrome seperti yang Diderita Ruben Onsu, Kenali Penyebab dan Gejalanya

Penyakit Empty Sella Syndrome seperti yang Diderita Ruben Onsu, Kenali Penyebab dan Gejalanya
Foto: Ilustrasi (Dmitriy Gutarev dari Pixabay)

MURIANEWS, Kudus – Presenter kenamaan Ruben Onsu belum lama ini menyatakan kalau dirinya mengidap sebuah penyakit yang disebut sebagai Empty Sella Syndrome.

Kondisi ini membuatnya harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Pasalnya, penyakit ini membuatnya tak tahan jika berada di ruangan dengan suhu dingin dalam waktu lama.

Lantas, apa sebenarnya penyakit Empty Sella Syndrome ini? Apa saja dan Gejalanya?

Baca juga: Ketahui, Ini Jenis Penyakit yang Lebih Sering Menyerang Kaum Hawa daripada Pria

Melansir dari alodokter.com, Empty Sella Syndrome (ESS) merupakan penyakit langka yang menyerang otak. Meski sering tidak menimbulkan gejala, penyakit ini bisa saja memburuk seiring berjalannya waktu. Perburukan kondisi dapat ditandai dengan sakit kepala kronis dan gangguan hormon atau penglihatan.

Empty sella syndrome (ESS) adalah masalah kesehatan langka yang terjadi pada sella tursika. Yaitu, struktur tulang yang terletak di bagian dasar tulang tengkorak dan berfungsi untuk melindungi kelenjar pituitari.

Kelenjar pituitari sendiri memiliki peran yang penting, yaitu menghasilkan hormon untuk mengatur beragam fungsi organ tubuh. Bila empty sella syndrome tidak terdeteksi sedini mungkin atau dibiarkan tanpa penanganan, produksi dan kerja hormon tertentu bisa terganggu.

Apa Penyebab Empty Sella Syndrome?

Berdasarkan penyebabnya, empty sella syndrome terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

Empty sella syndrome primer

Hingga kini, penyebab empty sella syndrome primer belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini kerap dikaitkan dengan cacat lahir yang menyebabkan adanya sobekan kecil pada lapisan pembungkus otak.

Kondisi ini akhirnya membuat cairan dalam otak atau serebrospinal bocor dan masuk ke dalam sella tursika, sehingga menyebabkan kelenjar pituitari menyusut dan tidak berfungsi secara normal.

Empty sella syndrome sekunder

Empty sella syndrome sekunder dapat terjadi karena adanya gangguan pada sella tursika atau kelenjar pituitari yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti:

  • Cedera kepala akibat benturan keras atau kecelakaan
  • Terapi radiasi di area kepala
  • Riwayat operasi di bagian kepala
  • Tumor otak
  • Infeksi otak atau ensefalitis
  • Sindrom Sheehan

Apa Saja Gejala Empty Sella Syndrome?

Penderita empty sella syndrome umumnya tidak mengalami gejala apa pun, sehingga sering kali sulit terdeteksi. Gejala baru muncul bila kelenjar pituitari mengalami penyusutan yang kemudian memicu ketidakseimbangan hormon dalam tubuh.

Oleh karena itu, setiap penderita empty sella syndrome bisa saja merasakan gejala yang berbeda karena bergantung pada hormon apa yang dipengaruhi. Beberapa gejala dari empty sella syndrom yang biasanya muncul adalah:

  • Kelelahan sepanjang waktu
  • Sakit kepala kronis
  • Penurunan kualitas penglihatan
  • Mata kering
  • Tekanan darah tinggi
  • Penurunan gairah seksual
  • Gangguan menstruasi pada wanita
  • Impotensi pada pria
  • Interfilitas
  • Keluar cairan jernih dan tidak berbau dari hidung

Bagaimana Cara Mengobati Empty Sella Syndrome?

Untuk mendiagnosis empty sella syndrome, dokter akan bertanya seputar riwayat kesehatan pasien maupun keluarga, serta melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang.

Pemeriksaan penunjang akan meliputi tes darah untuk mendeteksi kadar hormon tertentu, serta CT scan atau MRI kepala untuk menilai keadaan sella tursika dan kelenjar pituitari.

Bila hasil pemeriksaan menunjukkan pasien mengalami empty sella syndrome tetapi kelenjar pituitari tidak berubah secara signifikan, fungsi hormon tidak terganggu, dan tidak ada gejala, penanganan secara medis umumnya tidak perlu dilakukan dan hanya pemantauan rutin.

Namun, bila kelenjar pituitari menyusut sehingga mengganggu fungsi hormon dan menyebabkan berbagai gejala, dokter akan memberikan pengobatan yang bisa membuat hormon dalam tubuh kembali seimbang.

Selain itu, pengobatan lainnya, seperti antinyeri, obat tetes mata, maupun antihipertensi, juga akan diberikan untuk meredakan gejala. Jika terjadi kebocoran cairan serebrospinal melalui hidung, tindakan operasi mungkin akan dilakukan.

Sebenarnya, penyakit ini tidak berbahaya selama dikontrol dan diobati sejak dini. Meski begitu, komplikasi yang timbul akibat tekanan pada otak, gangguan hormon, maupun masalah aliran cairan serebrospinal berisiko membuat kondisi penderitanya memburuk hingga berakibat fatal.

Empty sella syndrome memang jarang sekali terjadi. Namun, bila muncul keluhan yang menyerupai gejala empty sella syndrome, segeralah periksakan ke dokter. Hal ini dilakukan agar penyebabnya bisa diketahui dan segera ditangani.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: alodokter.com

Comments
Loading...