Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Menggelar Pesta Pernikahan dengan Menutup Jalan, Bagaimana Hukumnya? Ini Penjelasannya

Menggelar Pesta Pernikahan dengan Menutup Jalan, Bagaimana Hukumnya? Ini Penjelasannya
Foto: Ilustrasi jalan ditutup (Xandra Luijks dari Pixabay)

MURIANEWS, Kudus – Menggelar pesta pernikahan merupakan hal yang biasa dilakukan setelah kedua mempelai selesai melangsungkan ijab qabul.

Tempat pesta pernikahan ini ada yang digelar di gedung, hotel maupun di rumah. Namun, ada juga yang terpaksa menggelar pesta pernikahan dengan menutup jalan.

Hal ini dilakukan karena beberapa alasan. Antara lain, keterbatasan biaya maupun keterbatasan halaman yang dimiliki sehingga tidak mampu melangsungkan pesta di gedung atau hotel.

Baca juga: Bagaimana Hukum Menghadiri Walimah Nikah Meski Tidak Diundang? Ini Penjelasannya

Dengan mendirikan tratak di tengah jalan memang sudah memungkinkan untuk menggelar pesta pernikahan. Namun, dampaknya sudah pasti akan mengganggu akses masyarakat yang biasa melewati jalan itu setiap harinya.

Lantas, bagaimana hukumnya menutup jalan untuk pesta penikahan ini?

Melansir dari laman NU Online Jatim, Senin (25/7/2022), dalam banyak literatur fiqih disebutkan bahwa jalan umum tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi atau apapun yang bisa menganggu ketenangan orang lain. Namun dalam beberapa kasus, menggunakan jalan umum diperbolehkan dengan beberapa syarat.

Persayatan ini dijelaskan oleh Sulaiman bin Umar bin Mansur al-‘Ujaili al-Azhari, yang populer dengan nama Jamal. Dalam kitabnya Hasyiyah Jamal ‘Ala Syarhi Minhaj disebutkan sebagai berikut:

 نعم يغتفر ضرر يحتمل عادة كعجن طين إذا بقي مقدار المرور للناس وإلقاء الحجارة فيه للعمارة إذا تركت بقدر مدة نقلها وربط الدواب فيه بقدر حاجة النزول والركوب

Artinya: ”Namun, dimaafkan beberapa kemudharatan yang dianggap lumrah oleh masyarakat, seperti penggalian tanah yang berdekatan dengan jalan umum atau meletakkan batu pembangunan, selama masih menyisakan sebagian jalan untuk dilalui orang lain. Begitu juga dengan memarkir kendaraan di pinggir jalan untuk sekedar menaikan dan menurunkan penumpang.”

Menggunakan fasilitas umum, seperti jalan umum, untuk kegiatan dan aktivitas tertentu diperbolehkan selama disisakan sebagian jalan yang bisa dilewati orang lain atau bisa juga dengan memberikan jalur alternatif kepada orang yang akan melewati jalan tersebut.

Namun perlu diperhatikan, jika itu hanya satu-satunya jalan yang bisa ditempuh, mau tak mau penyelenggara acara harus memberikan sedikit jalan buat orang lain. Jangan sampai kepentingan pribadi kita merusak kebutuhan banyak orang. Wallahu a’lam.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: jatim.nu.or.id

Comments
Loading...