Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Ngaji Suluk Maleman: Salat Harusnya Berdampak Pada Kehidupan Sosial

Anis Sholeh Ba’asyin dan Dr. Abdul Jalil dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Manusia Masjid, Manusia Pasar’ yang digelar Sabtu (23/7/2022) semalam. (Istimewa)

MURIANEWS, Pati – Manusia Masjid Manusia Pasar menjadi tema cukup unik sekaligus menyentil yang dibahas dalam Suluk Maleman yang digelar secara luring Sabtu (23/7/2022) semalam.

Penggagas Suluk Maleman Anis Sholeh Ba’asyin mengatakan, Imam Ja’far Shodiq guru dari Abu Hanifah pernah mengatakan jika ingin menilai seseorang sebaiknya bukan saat di masjid melainkan di pasar. Karena saat di pasar, seseorang akan memperlihatkan sisi aslinya. Baik dalam berkata atau tidak, ataupun suka menipu atau tidak.

”Kalau di masjid sudah pasti seseorang ingin menunjukkan sisi terbaiknya. Bahkan lewat tata cara berpakaiannya,” tambahnya.

Padahal menurutnya, salat seharusnya berdampak pada kehidupan sehari-hari. Tak sebatas pada persoalan individu dengan Tuhan namun juga bagaimana bersosialisasi dan tingkah lakunya.

”Jangan sampai salat ini seolah-olah absen di kantor saja. Salat tapi tidak memberi dampak baik pada tingkah laku dan adab bersosialisasi,” ujarnya.

Diapun menganalogikan, jika seseorang setiap hari bertemu kiai ataupun orang alim, tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi sikapnya. Baik orientasi, pola hidup, maupun sudut pandang.

”Seharusnya salat pun begitu. Karena salat merupakan penghubung antara diri dengan Allah. Harusnya punya rasa malu, ataupun takut untuk melakukan kesalahan,” urainya.

Dengan konsep itulah yang dimaksudkannya manusia masjid harus membawa masjidnya ke pasar.

”Jangan terbalik, membawa konsep transaksional untuk ke masjid. Pergi ke masjid biar dianggap baik,” tambahnya.

Dr Abdul Jalil, salah satu narasumber lain memiliki sudut pandang yang menarik dalam memahami tema tersebut. Dia mengatakan, antara dakwah dan perdagangan justru memiliki kesatuan. Hal itu terlihat dari sejarah perkembangan Islam di Nusantara.

”Suka atau tidak, ada dua pintu yang mesti diakui sebagai jalan masuk Islam. Yakni lewat pintu perdagangan dan kekuasaan.,” tambahnya.

Dia juga mengatakan, saat membaca Ihya’Ulumuddin karya Imam Ghazali, ada hadits yang menyebut jika ibadah yang disimbolisasi masjid dinilai 100 persen. Maka 90 persennya ada di persoalan ekonomi. Oleh karenanya jika berhasil menata kehidupan ekonomi, yakni memperoleh rezeki dengan cara yang benar, maka hasilnya adalah surga.

”Dalam hadits lain disebutkan gelutilah perdagangan, karena 90 persen pintu rezeki di perdagangan. Jika membaca dua hadits ini, kita harus berterimakasih pada Walisanga yang secara langsung telah mengajari kita cara menda’wahkan Islam dengan baik,” ungkapnya.

Baginya, sifat asli manusia bisa jelas terlihat ketika berhadapan dengan dua hal, yakni uang dan kekuasaan. Dua hal tersebut pada dasarnya berjalin berkelindan sedemikian rupa sehingga acap sulit dipisahkan. Tidak ada kekuasaan tanpa uang. Begitu pula tidak ada uang tanpa kekuasaan.

”Uang dan kekuasaan harus dijaga supaya bisa dikendalikan dengan baik. Dalam hal ini walisanga sebenarnya sudah mengajari kita dengan baik; tapi entah kenapa sekarang justru kembali melemah,” tambahnya.

Dia pun kemudian mengingatkan bahwa kehadiran pasar atau penataan ekonomi yang baik bisa menjadi instrumen untuk menuju ke masjid atau ibadah.

”Jangan sampai diajari ibadah tapi lupa dididik persoalan ekonomi,” tegasnya.

Pembahasan tema Ngaji NgAllah Suluk Maleman, yang juga disiarkan secara langsung lewat kanal media sosial ini, menjadi lebih menarik lagi karena banyaknya contoh aktual yang diangkat dan dibedah. Ini membuat ratusan jamaah yang hadir larut dalam diskusi hingga tengah malam. Apalagi ditengah pembahasan juga diselipi penampilan musik yang menarik dari Sampak GusUran.

 

Reporter: Supriyadi
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...