Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Opini

Khasiat Buku Pelajaran

Bandung Mawardi*)

KITA kadang penasaran dengan tokoh-tokoh mengalami masa bocah dan remaja saat Indonesia masih ”terperintah” Belanda dan Jepang. Mereka bertumbuh dalam keterbatasan. Keinginan berilmu dan bahagia tak mudah diwujudkan.

Mereka mungkin mengerti ada tata kehidupan mengandung beragam perbedaan dan dilema berjudul kolonialisme. Pengalaman-pengalaman keseharian menempa mereka menjadi tabah, berani, dan tegak.

Pada masa berbeda, mereka menjadi tokoh-tokoh penting di jagat keintelektualan. Mereka tampil sebagai penggerak dan panutan. Peran selama masa kekuasaan Soekarno dan Soeharto membuktikan babak masa lalu membentuk biografi ketangguhan.

Konon, mereka terpengaruh dengan pendidikan di sekolah dan pengasuhan di rumah, tak lupa terdampak buku-buku pelajaran digunakan pada masa lalu.

Kita mengingat Andi Hakim Nasution (30 Maret 1932-4 Maret 2002) menggandrungi buku-buku pelajaran. Ia mengerti buku-buku berkhasiat dalam pendidikan, berdampak dalam jenjang keintelektualan.

Pada masa kolonial, ia sering berada di rumah membuka majalah dan buku. Ia sadar sedang mencari hiburan pengisi waktu. Ia membaca buku terbitan Balai Pustaka berjudul ”Berkeliling Hindia” garapan Ahmad. Buku membuat ia paham ilmu bumi. Di sekolah, ia selalu mendapat nilai baik untuk mata pelajaran ilmu bumi.

Pada 1942, pemerintah kolonial Hindia Belanda dihancurkan balatentara pendudukan Jepang. Nasib Indonesia berubah. Di majalah Intisari, Juli 1981, Abdul Hakim Nasution mengenang hari-hari di rumah, tak bersekolah lagi gara-gara kedatangan balatentara Jepang: ”Beberapa hari kemudian beliau (bapak) kembali ke rumah membawa setumpuk buku pelajara berhitung, bahasa Belanda, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu bumi kelas 5, 6, dan 7 HIS. Karena merasa bosan di rumah, setiap hari buku-buku itu saya baca berulang-ulang sampai semuanya habis terbaca. Demikian pula soal-soal berhitung saya coba menyelesaikannya, sedang untuk ilmu tumbuh-tumbuhan, tinggal mencari contoh-contohnya di sekitar rumah yang kebetulan ada dalam kompleks lembaga penelitian penyakit hewan dan pertanian”. Ia dan keluarga tinggal di Bogor.

Kita mencapat cerita bocah keranjingan membaca buku-buku pelajaran. Di rumah, ia menikmati buku-buku pelajaran (mungkin) disusun oleh para sarjana Belanda atau Eropa. Mutu buku pelajaran dijamin menjadikan murid-murid pintar. Dugaan bisa meleset. Dulu, pendidikan di HIS dimaksudkan merangsang murid-murid berpikiran maju atau modern. Penentuan buku-buku pelajaran mempertimbangkan kemajuan ilmu pengetahuan abad XX.

Andi Hakim Nasution mendapat keberuntungan saat orang-orang mengenang derita selama masa pendudukan balatentara Dai Nippon. Ia berjumpa dengan tentara Jepang. Kebaikan justru diterima. Tentara Jepang itu tinggal di rumah pernah dihuni keluarga Belanda. Di situ, ada peti-peti berisi buku-buku berhasa Belanda mau dimusnahkan. Jepang ingin segala hal mengenai Belanda habis atau sirna.

Tentara itu bercakap dengan Andi Hakim Nasution. Si bocah mengaku bisa berbahasa Belanda. Pengakuan mengandung takut gara-gara tentara Jepang membeci (bahasa) Belanda. Pengisahan mengharukan: ”Tetapi dia tertawa dan menyuruh saya sewaktu-waktu untuk memilih buku-buku pelajaran yang ada di gudang itu yang kiranya bermanfaat bagi saya. Menurut dia, buku-buku yang berguna itu lebih baik saya bawa ke rumah daripada menjadi umpan api”.

Di tengah penderitaan, Andi Hakim Nasution mendapat kebahagiaan. Ia pulang membawa setumpuk buku pelajaran fisika, botani, anatomi, dan lain-lain. Semua buku disusun para sarjana Eropa. Buku-buku berbahasa Belanda makin memahirkan kemampuan berbahasa, setelah memantapkan penggunaan bahasa Indonesia dan sempat terpesona bahasa Jepang.

Pada masa berbeda, ia bertumbuh dewasa. Buku-buku pelajaran itu membentuk diri sebagai intelektual. Ia mengakui beruntung mendapatkan buku-buku pelajaran, selain buku-buku bacaan cerita. Puncak dampak itu meraih gelar doktor di Amerika Serikat. Andi Hakim Nasution pun menjadi rektor Institut Pertanian Bogor. Kita membaca masa lalu sosok dan buku pelajaran masa lalu itu menakjubkan.

Pia Alisjahbana kelahiran 26 Juli 1932 memiliki pengalaman berbeda dalam mengikuti pelajaran-pelajaran di sekolah selama masa pendudukan balatentara Jepang. Ia mengalami kesulitan mengikuti pelajaran gara-gara bahasa Indonesia.

Di rumah, ia terbiasa berbahasa Belanda. Di sekolah, bahasa pengantar itu bahasa Indonesia. Di buku berjudul Menembus Zaman (2010), ia tak bercerita sekian buku pelajaran tapi kita mengerti situasi sulit ditanggungkan dalam belajar di sekolah.

Pendiri majalah Gadis itu mengingat: ”Mengenai kurikulum pelajaran yang diajarkan pada masa Belanda dan Jepang sebenarnya tak terlalu berbeda. Namun pada masa Jepang kami juga diajarkan bahasa Jepang. Aku masih ingat ketika kami harus menghapalkan huruf-huruf katagana dan hiragana. Kami juga disarankan belajar bicara dalam bahasa Jepang. Di sekolah ini juga, para guru memaksa kami untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari sebagai bahasa pengantar di sekolah”.

Pada masa lalu, Pia Alisjahbana mengingat gandrung dengan buku-buku cerita ketimbang buku-buku pelajaran.

Oejeng Soewargana (1967) justru mengingatkan usaha-usaha merombak buku-buku pelajaran warisan masa kolonial Belanda. Di permulaan atau pembentukan rezim Orde Baru, pelbagai pihak ingin ada penulisan dan penerbitan buku-buku pelajaran menunjang kemajuan.

Pada suatu masa, kita mengerti kaitan buku pelajaran dan pembangunan nasional. Pembuatan dan penggantian kurikulum selama Orde Baru justru mengakibatkan mutu buku-buku pelajaran susah terjamin.

Puluhan tahun berlalu, kaum dewasa atau tua mengingat sekian buku pelajaran digunakan selama menjadi murid masa 1970-an, 1980-an, dan 1990-an. Mereka mungkin terpikat dengan sekian buku pelajaran, berpengaruh dan membentuk biografi intelektual. Kita mungkin menduga bila khasiat buku-buku  pelajaran diterima Andi Hakim Nasution sulit ditandingi dengan keberlimpahan buku pelajaran masa Orde Baru. Begitu. (*)

 

*) Penggiat Literasi dan Kuncen Bilik Literasi Solo

Comments
Loading...