Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Ini Cerita Napiter Asal Grobogan Kecemplung Jaringan Teroris

Bebas Bersyarat, Ini Cerita Napiter Asal Grobogan Kecemplung Jaringan Teroris
Eks napiter asal Grobogan, Agus Setyawan. (Muriannews/Saiful Anwar)

MURIANEWS, Grobogan – Agus Setyawan, napi teroris (napiter) dinyatakan bebas bersyarat per 14 Juli 2022. Kepada Murianews, Agus bercerita awal mula bergabung dengan kelompok jaringan Jemaah Islamiah (JI).

Agus mengaku mengenal jaringan teroris itu seperti mengalir begitu saja. Dia bergabung sejak tahun 2000-an.

”Saya gabung JI itu tahun 2000an. Saat itu, saya ikut kajian-kajian sekitar 1990-an,” kata Agus.

Baca: Napiter Asal Grobogan Bebas Bersyarat

Dia bercerita, pada 1990-an, dia seringkali mengikuti kajian-kajian Islam dan bedah buku yang digelar di berbagai daerah. Antara lain di Kudus, Semarang, dan Solo.

Mulanya, pria tamatan SMP di Wirosari itu hanya sekadar ingin memperdalam agama Islam. Kemudian ia mengikuti dari satu kajian ke kajian lainnya, hingga berbagai acara bedah buku.

”Kita ini kan harus terus belajar. Dari keinginan terus belajar Islam itulah, mengikuti kajian demi kajian dan bedah buku. Dulu sering sekali ikut bedah buku di luar daerah,” katanya.

Di JI, Agus mengaku berperan untuk merekrut orang-orang yang akan berangkat ke Suriah. Setelah sekitar 19 tahun menjadi bagian dari JI, Agus ditangkap Densus 88 di kediamannya di Wirosari.

Setelah ditangkap di rumahnya pada 14 Mei 2019, dia kemudian dibawa ke Polda Jateng dan dipindah ke Rutan Cikeas. Berikutnya dia sempat dipindah ke Polda Metro Jaya dan terakhir ke Purwokerto.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Agus dikunjungi Kesbangpol dan Dinas Sosial Grobogan di rumahnya. Kehadiran perwakilan Pemkab itu untuk menjalin silaturrahmi dan hubungan yang baik ke depannya.

Diketahui, JI telah ditetapkan sebagai organisasi terlarang karena dinilai berkaitan dengan jaringan teroris internasional. Penetapan itu berdasarkan putusan PN Jakarta Selatan nomor 2189/Pid.B/2007/PN.Jkt.Sel, tanggal 21 April 2008.

 

Reporter: Saiful Anwar
Editor: Zulkifli Fahmi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.