Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Opini

Beda Haji Era Kolonial dengan Masa Kini

Moh Rosyid *)

NUSANTARA pada masa lalu terdiri ragam penguasa daerah (raja, sultan) tapi ditaklukkan oleh Portugis lalu ditumbangkan Belanda. Awalnya berniaga, selain merampas harta juga mengenalkan agama Katolik (Portugis) dan Kristen (Belanda). Sentimen agama inilah memicu ulama Nusantara mendalami Islam di Haramain (Makkah-Madinah) dan berhaji.

Dalam naskah Carita Parahiyangan, Bratalegawa, putra kedua Prabu Guru Pangandi Paramarta Jaya Dewa Brata atau sang Bunisora, penguasa Kerajaan Galuh 1357-1371 M, Bratalegawa berlayar menyusuri dari Sumatera, China, India. Ia masuk Islam (muallaf) menikah dengan muslimah dari Gujarat India, Farhana binti Muhammad. Perjalanan dilanjutkan ke Srilangka, Iran, hingga Arab.

Pada 1671 M Raja Banten Sultan Ageng Tirtayasa mengirim putranya, Sultan Abdul Kahar, bekerja sama dengan Sultan Makkah sekaligus berhaji. Abad ke-16 kapal buatan Jepara mengarungi Samudera Hindia, transit di Aceh, berlayar melewati India, Hadramaut, Yaman, dan Arab (waktu tempuh setengah tahun sekali jalan).

Pada abad ke-17 terbukanya jalur Samudera Hindia hingga Laut Merah dan Teluk Persia, jemaah haji makin banyak dan dimanfaatkan oleh kapal Belanda untuk bisnis angkutan laut.

Belanda mencurigai upaya muslim Nusantara berhaji maka dihentikan pengangkutan dengan Bessluit van Agustus 1716 M. Jemaah haji beralih dengan kapal niaga secara sembunyi-sembunyi.

Pada 1803 M ada tiga jemaah haji asal Minangkabau, sepulang haji, mengembangkan gerakan Padri untuk memurnikan ajaran Islam di Sumatera Barat. Belanda mencurigainya sebagai gerakan perlawanan, berhaji makin dipersulitnya.

Pada 1825 M Belanda mengeluarkan aturan (ordonansi) biaya haji dinaikkan ongkos transpotasinya mencapai 110 gulden. Besarnya animo jamaah haji, kapal Arab dan Inggris ikut ‘ngompreng’ bisnis pelayaran, semula kapal layar diganti kapal api.

Jemaah haji di Haramain diawasi makin ketat karena dicurigai membawa ajaran Islam setiba di Tanah Air, dan mengobarkan nasionalisme melawan penjajah. Belanda membuka konsulat di Jeddah pada 1872 untuk mengawasi gerak jemaah haji Indonesia di Makkah.

Pada 1866 ada 2.000 jemaah, pada 1896 jumlahnya meningkat menjadi 11.788 jamaah. Tahun 1873 kebijakan makin diperketat, Belanda memonopoli pelayaran pada tiga kongsi/perusahaan angkutan kapal (Rotterdamsche Llyod, Stoomvaartmatschappij Nederland, dan Stoomvaartmatschappi Oceaan).

Pada 1874 terbit peraturan, hanya yang mampu beli tiket pergi-pulang dan seizin tertulis dari pangreh praja setempat diizinkan berlayar (agar tak lama di Makkah). Setiba di Jeddah dan sepulang di Tanah Air jemaah melapor pada konsulat Belanda.

Pada 1884, dibuatlah kartu perjalanan memuat jenis kelamin, umur, tinggi badan, bentuk hidung, mulut, dagu, jenggot, kumis. Tahun 1911-1933 jemaah haji dikarantina di embarkasi di Pulau Onrust di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara (Pangkalan Angkatan Laut Belanda) sebelum berangkat dan sepulang haji untuk menekan pengaruh ulama Makkah.

Berhaji Masa Lalu dan Kini

Napak tilas sulitnya berhaji terlihat terbatasnya bekal, angkutan kapal tradisional singgah di berbagai pelabuhan negara asing hingga enam bulan perjalanan. Selain itu juga kecurigaan Belanda mempersulit ruang gerak di Makkah akibat berani melawan Belanda pasca-haji.

Belanda membuat kebijakan, orang sepulang haji diberi titel haji untuk dipantau khusus oleh serdadu kolonial. Eksisnya Islam di Nusantara berkat jaringan ulama di Haramain pada abad ke-17 dan dirintis dalam bentuk pembaruan melalui jaringan ulama Melayu-Indonesia hingga abad berikutnya.

Belanda sadar tumbuhnya nasionalisme imbas berhaji. Perang Padri (1821-1837) oleh Imam Bonjol di Ranah Minang dan Mandailing, perjuangan K Ahmad Rifa’i (1785-1869) di Kendal dan Kalisalak, Limpung, Kabupaten Batang, Jateng dengan gerakan Islam Rifaiyah yang melawan Belanda dengan karya Kitab Tarjumahnya, sebagaimana syair/nadzam wiqayah berbahasa Jawa Pegon: Slameta dunya akhirat wajibo kinira (selamatlah di dunia dan akhirat wajib diperhitungkan), ngalawan raja kafir sak kuasane kapikira (perlawanan pada penguasa yang ingkar pada Islam semampunya untuk dipikirkan), perang sabil linuwih kadane ukara (perang sabil lebih dari yang lain), kacukupan tan kanti akeh bala kuncara (melawan tanpa banyak pasukan).

Kritik K Rifa’i juga ditujukan pada birokrat prokolonial: “Sumerepa badan hina seba ngglangsur (lihatlah tubuhnya dihinakan dengan bersimpuh bila menghadap penguasa), manfaatake ilmu lan ngamal dimaha lebur (ilmu dan amalnya sirna), tinimune priayi laku gawe gede kadosan (anggapan dan sikap sang priayi berdosa besar), Ratu, Bupati, Lurah, Tumenggung, Kebayan; marang raja kafir podo asih anutan (Ratu, Bupati, Lurah, Tumenggung, Kebayan pada penguasa yang kafir diikutinya); haji abdi, dadi tulung maksiyat (haji mengabdi dengan penolong maksiyat), nuli dadi khotib ibadah (meski menjadi pengkhutbah), maring alim adil laku bener syareate (kepada orang yang alim dan adil membenarkan syariat), sebab khawatir yen ora nemu derajat (kekhawatiran bila tidak mendapatkan jabatan), ikulah lakune wong munafik imane suwung (sikap munafik yang tidak beriman), anut maksiyat wong dadi Tumenggung (mengikuti maksiat meski sebagai Tumenggung).

Lantas bagaimana dengan muslim yang masa kini berhaji, sepulang di Tanah Air mampukah berjuang sesuai kondisi masa kini, sekokoh perjuangan haji masa lalu? Nuwun. (*)

 

*) Pemerhati Sejarah, Dosen Iain Kudus

Comments
Loading...