Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Opini

Berkebaya Belum Selesai

Bandung Mawardi*)

SEJAK awal abad XX, kebaya itu tema belum selesai. Berita dan artikel bermunculan mengenai kebaya, tak pernah rampung untuk diperdebatkan dan mencipta biografi panjang.

Foto-foto perempuan berkebaya pun makin bertambah. Di foto-foto ”tempo doeloe”, kita melihat kebaya pun digunakan kaum peranakan Tionghoa dan Indo.

Rekaman apik terbaca dalam cerita-cerita gubahan Tirto Adhi Soerjo dan Mas Marco Kartodikromo. Para tokoh perempuan diceritakan berkebaya dalam mengalami zaman ”kemadjoean” di kota-kota, awal abad XX.

Raga berkebaya bersaing dengan busana-busana ”baroe” mengesankan pembaratan atau pemanjaan gairah modernitas. Di cerita-cerita masa lalu, perbedaan penggunaan busana oleh para tokoh perempuan menandai penerimaan, penolakan, dan adonan pengimajinasian identitas. Selera busana memengaruhi pembentukan biografi dalam keramaian ideologi, penguatan iman, atau kesadaran etnis. Kebaya menjadi perkara tak biasa-biasa saja.

Di kalangan pergerakan politik dan pendidikan-pengajaran, kebaya makin mendapat pemaknaan untuk lestari atau ditinggalkan. Gagasan-gagasan maju dalam pendidikan kadang menghendaki kaum perempuan mendapat ilmu-ilmu baru (Barat) mengubah tata cara atau selera berbusana.

Gejala-gejala masa 1920-an terdokumentasi dalam novel berjudul Perawan Desa gubahan WR Soepratman. Rekaman tampak berbeda tafsir bila kita melihat foto-foto dalam Kongres Perempuan Indonesia (1928).

Perkara kebaya bertambah meriah dan pelik berbarengan dengan perkembangan musik dan film di Indonesia. Pada masa 1930-an, perempuan turut dalam industri musik (keroncong) dan film mendapat sebutan ”miss”.

Kehadiran mereka di panggung atau ”lajar poetih” mengesankan sosok-sosok berkebaya membawakan pelbagai pesan politik, sosial, kultural, dan industrial. Foto-foto mereka di surat kabar memunculkan imajinasi-imajinasi ”keindonesiaan” dalam deru perubahan zaman.

Pada masa revolusi dan pembangunan nasional, kebaya melampaui masalah busana. Kebaya berada dalam seruan kekuasaan. Sosok-sosok penting mendampingi Soekarno dan Soeharto memastikan pengesahan kebaya sebagai ”busana nasional.”

Tanggapan atau debat dilangsungkan dalam seminar, tapi paling ramai dalam majalah-majalah dan koran-koran. Sekian perkumpulan perempuan, perancang busana, seniman, pejabat, dan pengusaha saling tebar pesan mengenai kebaya dengan beragam acuan sejarah atau ”kepribadian” demi lestari. Pihak-pihak di seberang memberi argumentasi kritis bahwa kebaya itu kolot, pengekangan, silam, terbatas, dan merendahkan.

Pemuliaan Kebaya

Pada masa Orde Baru, gagasan-gagasan pemuliaan kebaya diselenggarakan melalui seminar, lomba, dan acara-acara resmi kenegaraan. Kita ingin mengingat kebaya melalui majalah Femina, 21 Mei 1987. Di kulit muka, foto perempuan berkebaya. Judul besar dicantumkan: ”Berkebaya: Saran Iwan Tirta, Prayudi, Ibu Soed, dan Ibu Noek.”

Kita mengutip pendapat Ibu Soed, penggubah lagu bocah dan pemerhati batik: ”Tapi, jangan lupa, busana nasional kita masih banyak, jangan hanya kebaya Jawa, Sunda, atau baju kurung, yang kita tampilkan”.

Kritik pun diajukan Iwan Tirta, perancang busana kondang: ”Pada zaman dahulu, bentuk kebaya itu longgar dan kainnya juga longgar. Sehingga nyaman dipakai. Tetapi, kebaya sekarang, bukan main ketat sekali, sampai bentuk tubuh tampak jelas”. Dua pendapat agak memasalahkan keinginan meresmikan busana nasional dan dampak pengenaan kebaya di raga perempuan.

Kita mundur sejenak ke masa lalu. Di buku berjudul Menembus Zaman (2012), Pia Alsijahbana mengenang sosok ibu berpendidikan modern tapi memilih berkebaya. Ia berasal dari keluarga pejabat dan memiliki suami berpikiran modern, tetap saja memihak kebaya (Sunda) dalam membentuk identitas dan menampilkan keindonesiaan, sejak masa kolonial.

Ibu bernama Raden Adjeng Hisnat Djajadiningrat (dipanggil Nettie), putri sulung Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat. Sejak kecil, Nettie diasuh dan dikenalkan dengan kemodernan. Ia berpendidikan maju (Barat). Pada saat dewasa, Nettie mengajar di Hollands Inlandse School di Pandeglang.

Pia Alisjahbana mengaku belum pernah melihat foto-foto sang ibu dengan busana Barat. Ibu selalu berkebaya. Kejadian turut menentukan kepastian ibu berkebaya berdasarkan ingatan Pia Alisjahbana.

Datanglah tamu-tamu seorang Belanda ke rumah. Tuan Belanda berkata: ”Spada! Babu, Tuan ada?” Ibu menjawab sopan: ”Ya, dia ada. Silahkan, tunggu sebentar.”

Kejadian itu makin membuat ibu memuliakan kebaya untuk menunjukkan identitas di hadapan kaum Eropa sering sombong dan menghina. Selera dan sikap itu bersanding dengan suami terbiasa mengenakan pakaian Eropa dan tutup kepala berupa blangkon.

Ingatan-ingatan itu bermunculan setelah kita mengetahui gerakan dan seruan dari seribuan perempuan di pelataran FX Plaza Sudirman, Jakarta, 19 Juni 2022. Mereka mengenakan kebaya, berjalan kaki 6 kilometer menuju Bundaran Hotel Indonesia.

Mereka berseru kebaya masuk dalam pengakuan atau pengesahan UNESCO. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi turut hadir dalam acara dan berkata: ”Kebaya hendaknya dipelihara seperti bagian dari pusaka kita bersama.”

Masa lalu mungkin terasa jauh tapi kita melihat kaum perempuan Indonesia masih (mau) berkebaya. Biografi perempuan berkebaya belum rampung disusun berbarengan dengan situasi zaman memberi godaan-godaan agar kaum perempuan berselera busana mutakhir. Pengisahan kebaya masih berlanjut, mengimbuhi kenangan-kenangan telah tersaji dalam foto, tulisan, dan film. Begitu. (*)

 

*) Kuncen Bilik Literasi Solo

Comments
Loading...