Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

OPINI

Pesantren dan Penguatan Pendidikan Karakter

Hermansyah Kahir *)

SADAR atau tidak, saat ini kita hidup di era kemajuan dan perkembangan teknologi digital. Era digital telah memberikan kemudahan dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan dan aktivitas sehari-hari. Sayangnya, di balik beragam manfaat itu, kemajuan teknologi juga memiliki dampak negatif yang mesti diantisipasi bersama.

Kemajuan teknologi yang digunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, justru akan melahirkan berbagai persoalan baru di tengah masyarakat. Banyak pelajar dan mahasiswa yang memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma agama, seperti jual-beli film dewasa, judi online hingga prostitusi online.

Fenomena ini mencerminkan buruknya karakter di kalangan generasi muda yang dinilai oleh banyak kalangan sebagai kegagalan dari sistem pendidikan yang dibangun selama ini. Karena itu, banyak pihak yang menaruh harapan kepada pendidikan pondok pesantren, terutama dalam membangun kualitas manusia seutuhnya.

Menurut Zawawi (2013), pendidikan di pondok pesantren diharapkan efektif untuk mendidik kecerdasan, keterampilan, pembangunan karakter dan penanaman nilai-nilai peserta didik, sehingga mereka memiliki kepribadian yang utuh dan khas.

Belajar dari Pesantren

Dalam hal penanaman dan pengembangan karakter, kita patut belajar dari pondok pesantren. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang sudah ada sebelum Indonesia merdeka dengan kiai sebagai figur sentralnya.

Dengan kesederhanaan dan keikhlasan sang kiai, para santri dididik dan dibimbing agar menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan memiliki kedalaman ilmu agama (tafaqquh fiddin). Kontribusi pesantren dalam pendidikan karakter sudah tidak diragukan lagi.

Sebagai lembaga pendidikan, sedari awal pesantren sudah fokus dan memberi perhatian besar terhadap pendidikan karakter yang di kalangan pesantren lebih masyhur dengan sebutan akhlakul karimah.

Pembentukan akhlak di pondok pesantren menjadi tujuan pokok dari pola pendidikan itu sendiri yang tentu saja selasar dengan misi diutusnya Nabi Muhammad SAW—yaitu untuk menyempurnakan akhlak pendududk bumi. Dengan keluhuran akhlaknya, Nabi Muhammad SAW mampu mengubah karakter dan moral masyarakat Arab Jahiliyah.

Belajar Hidup Mandiri

Di pondok pesantren, para santri belajar hidup mandiri, sederhana, saling membantu, saling menghargai, ikhlas, dan menjalin persaudaraan antarsesama, yang semua itu merupakan cerminan dari pendidikan karakter. Penanaman nilai-nilai karakter seperti itu tidak ditemukan dalam model pendidikan di luar pesantren.

Pengembangan pendidikan karakter di pesantren tidak sekadar berupa materi saja, tetapi juga dibarengi dengan keteladanan (uswatun hasanah) dari kiai dan para ustaz yang tinggal di dalam pesantren. Para santri dibimbing dan dipantau langsung selama 24 jam oleh kiai dan pengurus pondok pesantren.

Zamakhsyari Dhofier (1994) menegaskan, tujuan pendidikan tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran santri dengan pelajaran-pelajaran agama, tetapi untuk meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah laku yang jujur dan bermoral, dan menyiapkan para santri untuk hidup sederhana dan bersih hati.

Jika merujuk data Kementerian Agama RI, pada 2020 Indonesia memiliki 32.208 pondok pesantren dengan jumlah santri sebanyak 4.353.983 yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia dengan ciri khas masing-masing.

Dengan jumlah tersebut, kita berharap semoga pondok pesantren terus tumbuh, baik secara kuntitatif maupun kualitatif sehingga terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa, lebih-lebih dalam menanamkan pendidikan karakter di tengah integritas moral yang semakin langka di negeri ini. (*)

 

*) Belajar di Tarbiyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (TMI) Al-Amien Prenduan (2004-2006)

Comments
Loading...