Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

OPINI

Piknik ke Sawah

Bandung Mawardi*)

KONON, Minggu itu hari santai. Hari untuk istirahat atau piknik. Kita tak mau pergi jauh dari rumah bisa ”piknik” dengan membaca Kompas, 5 Juni 2022. Dua tulisan di Kompas mengajak kita bergerak ke sawah, bergerak dengan kata-kata dan foto-foto. Kita tetap duduk membaca koran tapi berimajinasi piknik ke sawah atau menikmati makanan di sawah.

”Dunia turisme di Tanah Air berkembang dari sawah,” kalimat tercantum di Kompas mengajak pembaca berpikir serius. Pemahaman sawah untuk menanam padi dan mengingatkan padi telah bertambah. Sawah itu tempat wisata. Orang-orang biasa memberi sebutan ”wisata alam”.

Pembaca tergoda ingin mengunjungi Svargabumi di dekat Candi Borobudur. Sawah-sawah di sana bisa digunakan untuk berfoto. Sawah dijadikan tempat (makin) indah dinikmati turis. Pujian ditulis dalam Kompas tak perlu dibantah: ”Seperti sejumput surga yang jatuh ke tengah sawah”.

Sawah pun menjadi tempat terindah untuk makan. Kita mengutip lagi: ”Pengalaman bersantap di antara hamparan sawah-sawah hijau yang menyejukkan mata, laris bak kacang goreng. Pengunjung mengecap hidangan sekaligus ketenteraman seolah di kampung halamannya”. Sawah sedang menjadi tema besar dalam pariwisata dan bisnis kuliner.

Kita mulai piknik ke masa lalu, masih bertema sawah. Ayatrohaedi (1972) dalam artikel berjudul ”Sawah dan Petani dalam Prasasti” menjelaskan: ”Walaupun menurut bukti-bukti yang ada, kerajaan tertua di Indonesia terdapat di Kutai dan Tanah Sunda, tapi anehnya, jejak tertua tentang adanya sawah justru didapatkan di daerah Jawa Tengah, berasal dari awal abad ke-9 Masehi”. Usia kata sawah sudah ratusan tahun.

Kalimat dalam prasasti Dieng dikeluarkan pada 809 Masehi: hana sima i sri manggala watak hino sawah lamwit 1 ada, sima i wukawatu watak wantil sawah tampah 3 hana sima/ i panulingan watak pikatan sawah tampah 1 blah 1.

Kata sawah dicantumkan tapi tak ada kata petani. Sejarah dua kata itu berbeda. Ayatrohaedi menerangkan: ”Walaupun tanah tempat para petani menggantungkan nasib dan hidupnya itu sudah dikenal sejak awal abad ke-9, tapi aneh sekali, kasab petani itu sendiri lahir belakangan!”

Tulisan pendek itu belum membahas sawah sebagai tempat wisata. Sawah tetap dimengerti tanah menghasilkan pangan. Sawah bercerita kemakmuran desa atau kerajaan.  Sawah, kata langgeng sampai sekarang. Kelanggengan kata jarang diikuti cerita menggembirakan tentang nasib petani di Indonesia.

Sawah memang menentukan nasib kekuasaan. Kita membuka buku berjudul Pandangan Dunia KGPAAA Hamengkoenagoro I dalam Babad Tutur (1994) garapan Zainuddin Fananie. Ratusan tahun lalu, kekuasaan di Jawa dipengaruhi sawah. Pemenuhan kebutuhan pangan dari kerja keras dan ketabahan petani menentukan kemonceran penguasa dan keselamatan kerajaan.

Dua kata digunakan dalam Babad Tutur: ”sawah” dan ”sabin”. Zainuddin Fananie menjelaskan kebijakan Mangkunagoro I membangun ekonomi bertumpu pertanian. Kutipan dari Babad TuturRinggitan tetiyang asri/ munggeng nginggil paringgitan,/ dene Pangeran Dipatine,/ lan bala estri sadaya,/ ani-ani mring sawah,/ sareng ing pengalihipun/ putra nata malem Akad. Kutipan lain: Jejenengi marang sabin,/ selir binekta sadya,/ ani-ani pakaryane. Di Jawa, orang-orang akrab dengan sebutan ”sawah” dan ”sabin”. Sebutan ”sabin” dianggap bahasa Jawa halus.

Pada masa berbeda, sawah muncul dalam puisi, berita, dan novel. Sawah menjadi kata mengisahkan desa dan petani. Sawah kadang bercerita derita dan kemiskinan ditanggungkan para petani. Cerita sedih biasa berkaitan dengan kekuasaan para raja dan penjajahan.

Kita mungkin mengingat sawah dan petani dalam Max Havelaar gubahan Multatuli, akhir abad XIX. Pada setiap masa, sawah menjadi sumber cerita dan berita belum tentu membahagiakan.

Kita mengetahui sawah untuk menanam padi. Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) mengartikan sawah: ”tanah jang diusahakan dan diberi berair untuk bertanam padi”. Kamus lama itu belum memuat masalah sawah, pariwisata, dan bisnis kuliner. Kini, kita memiliki pengertian-pengertian baru mengenai sawah, tidak harus masuk kamus.

Orang-orang ingin mengerti sawah dalam imajinasi terwariskan leluhur tak mencukupi bila cuma membava novel gubahan orang Belanda dan kamaus-kamus. Berimajinasi bisa dituruti dengan kembali menikmati cerita Dewi Sri.

Sawah tak sekadar tempat untuk piknik atau menikmati makanan. Di sawah, para leluhur mengadakan ritual. Di situ, ada doa dan kerja. Sawah untuk penghidupan bersama. Sawah dengan limpahan cerita dan ketokohan.

Di buku berjudul Serat Cariyos Dewi Sri dalam Perbandingan (2001) garapan Suyami, kita berimajinasi sawah di Jawa dan pelbagai tempat. Sawah mengingatkan kebaikan-kebaikan Dewi Sri. Para petani di sawah memiliki pengharapan dan hidup bergelimang cerita.

Pada tanah, tanaman, langit, air, angin, burung, ular, batu, dan pelbagai hal, para petani mengerti “kebersamaan” untuk ketercukupan pangan. Sawah dan Dewi Sri digenapi dengan kesadaran rumah di Jawa. Di rumah tradisional, ada ruang biasa untuk menghormati Dewi Sri. Ruang biasa disebut senthong tengah.

Sawah-sawah abad XXI mungkin masih berkaitan Dewi Sri meski nalar pariwisata telah membesar. Kita sulit mengandaikan ritual atau upacara agraris bakal menjadi tontonan. Orang menanam padi, membajak, atau memanen padi mungkin sudah ”resmi” sebagai pemandangan bagi para turis. Kita mengerti sedang mengalami zaman menggampangkan apa-apa itu pariwisata. Begitu. (*)

 

*) Kuncen di Bilik Literasi Solo

Comments
Loading...